The Future Is In The Hands Of The Girl

The Future Is In The Hands Of The Girl
Kembali Melarikan Diri



Cahaya mentari pagi memasuki celah-celah jendela. Menyinari sebagian ruangan.


Mata cokelat itu beberapa kali mengerjap, menarik selimutnya masih ingin tidur tapi hasrat untuk beraktivitas lebih besar daripada harus tidur lagi.


Ia pun terbangun dengan wajah cemberut dan ia turun dari ranjang menuju meja hiasnya.


Tak di sangka kedua kelopak matanya masih membengkak karena menangis semalam, kalau di ingat-ingat Xiu Ye ada di sini semalam dan menenangkannya saat menangis lalu tertidur.


Ren sadar dan terkejut lalu mengecek semua pakaiannya apakah masih lengkap.


Atau jangan-jangan serigala itu mengambil keperawanannya saat tidur.


"Huft,"


Ren menghela nafas pakainnya masih lengkap dan tidak kurang dari satu helai benangpun.


Itu artinya Xiu Ye tidak memangsanya ketika ia lengah. Jika di ingat-ingat lagi Xiu Ye memeluknya saat menangis dan itu sangat hangat dan ia tidak ingin melepaskan pelukan itu.


Ren menatap dirinya di cermin, wajahnya merona merah serta matanya yang bersinar-sinar.


Ia melihat ada sebuah tanda kecupan di lehernya, itu punya Xiu Ye.


Sebenarnya apa yang Xiu Ye inginkan darinya? Apakah hanya sekedar menyelamatkan atau ada motif lain?


Ren memegang kepalanya yang sedikit terasa pusing, ia sudah terkurung lama dalam kastil ini sepertinya menghirup udara berjalan-jalan keluar itu sepertinya ide yang bagus.


Ren segera mandi dan membersihkan diri, memakai gaun berwarna kuning dan para pelayan membantunya berhias.


Ren kembali melihat dirinya di kaca, untuk pertama kalinya ia memperhatikan kalau dirinya sangat berbeda ketika berhias.


Ia terlihat seperti ratu dan sangat cantik, dulu ketika masih tinggal di gunung ia hanya membuat beberapa bedak dan lulur dari tumbuh-tumbuhan dan pakaiannya yang ia dapat dengan kain bekas dari ibunya dan di jahit ulang.


Dan sekarang ia tak percaya kalau memakai gaun mewah ini dan hiasan rambut seperti ratu.


"Nona, kulitmu sangat indah seperti batu giok,"


"Aku iri sekali,"


"Terlihat seperti dewi,"


Komentar para pelayan yang sedang membantunya berhias. Ren hanya terkekeh merasa malu di puji seperti itu.


"Kalau boleh tahu, jenderal Xiu Ye apakah sedang bertugas?" tanya Ren.


"Sepertinya begitu nona, tuan jenderal dan nona sangat serasi sekali mungkinkah kalian sepasang kekasih?" tebak pelayannya.


"Tidak kok! Aku hanya seseorang yang di selamatkan tidak lebih," ujar Ren menggeleng tidak.


"Tapi tuan jenderal sepertinya menyukai nona,"


"Itu tidak benar!" sangkal Ren.


"Tuan jenderal selalu sendiri saat seluruh keluarganya juga terbantai," jelas Pelayan.


"Hah! Terbantai?" tanya Ren langsung terkejut mendengar tentang keluarga Ye.


"Hehehe maaf nona sudah membuatmu bertanya," ujar pelayannya tertawa pelan sambil melanjutkan menghias Ren.


"Maksudmu seluruh keluarga Ye juga terbantai?" tanya Ren penasaran.


"Maaf nona, sebaiknya tuan jenderal sendirilah yang mengatakannya kejenderal ujar pelayan itu tak berani mengungkap lebih dalam status Ye.


Setelah selesai mendadani Ren, para pelayan pergi keluar kamar dan menyiapkan sarapan untuk Ren di meja makan.


Semuanua sudah tersedia, bahkan air mandi pun juga di sediakan. Enak sekali ya kehidupan orang berpangkat.


Ren juga jadi tidak enak hati telah merepotkan Ye, sebaiknya ia harus mencari cara pergi jauh dari sini untuk sementara.


Berlatih pedang dan bertemu dengan peramal yang pernah membantu ibunya melahirkan.


Itu adalah pesan Gulfam saat terakhir, menemukan peramal itu dan jalan apa selanjutnya yang Ren tempuh.


Ia tidak boleh berlama-lama lagi di sini, mumpung Ye juga bertugas jadi ia bisa pergi.


Selain itu ia memiliki pedang yang berbeda dari aksen kerajaan Qing.


Apakah itu artinya Ye bukan dari sini juga?


Daripada memikirkan itu Ren segera menghabiskan sarapannya lalu pergi dari sini secepatnya.


Setelah sarapan Ren kembali kekamar menulis beberapa kata di surat untuk Ye serta ucapan terima kasihnya.


Ia juga perlu tudung dan kain penutup agar identitasnya tidak ketahuan saat keluar dari kastil ini. Selain itu ia juga mengganti gaunnya dengan pakaian lamanya yang kuno setidaknya menutup seluruh tubuhnya daripada memakai gaun yang menampakan seluruh lekuk tubuhnya, itu tidak nyaman sekali.


Ren diam-diam merajut gorden dan selimut lalu di ikatkan ke jendela untuk ia turun dari jendela agar tidak ketahuan.


Ren segera memakai kain penutup dan tudung lalu berlari dari pengawasan pengawal.


Setidaknya ia sudah membuat pintu belakang kastil menjadi tempat kaburnya, selama beberapa minggu di sini ia juga sudah cukup hafal jalan masuk keluar kastil ini.


"Selamat tinggal jenderal Ye, jika beruntung mari bertemu lagi!"


Ye pergi jauh dari kastil tanpa sepengetahuan para pengawal dan pelayan kastil.


"Nona Ren, apakah anda tidak bosan mengurung diri terus di kamar? Aku membawakan beberapa cemilan," ujar Pelayan membawakan Ren sepiring kue.


"Nona Ren," panggil pelayan itu lagi mengetuk pintu kamar.


Masih tidak mendengar sahutan, pelayan itu membuka pintu kamar Ren dan alangkah terkejutnya Ren tidak ada di kamar dan menemukan jendela terbuka dan rajutan gorden di ikat ke jendela sampai bawah.


"Nona Ren, Nona Ren,"


Pelayan itu panik dan berlarian kesana kemari memanggil para pengawal.


"Ada apa? Nona Ren kenapa?" tanya pengawal.


"Dia, Nona Ren melarikan diri," ujarnya sambil panik.


"Apa! Cepat bersiap nona Ren telah melarikan diri segera temukam dan kirim pesan pada Tuan Jenderal!" perintah pengawal itu.


"Baik!"


Ye masih berada di lingkungan kerajaan, masih menyusun laporan tentang kerajaan selatan yang ingin mengajukan perang dingin.


Seekor burung elang pembawa pesan datang dan langsung hinggap di tangan Ye.


Ye mengambil surat itu dari kaki elang dan membacanya.


Terkejut membaca pesan itu Ye memukul dinding dengan keras.


"Dia menguji kesabaranku!"


Tak sengaja Chao Lu lewat dan melihat Ye tengah kesal.


"Yare yare, ada apa Tuan Jenderal kau terlihat sangat kesal?" tanya Lu sambil tersenyum tipis menghampiri Xiu Ye.


"Ini bukan urusanmu!" ujar Ye ketus.


"Wah dingin sekali, apa mungkin terjadi sesuatu di kastilmu? Kau tidak perlu berbohong pada kaisar bahwa kau menyembunyikannya!" tebak Lu.


"Apa maksudmu?" tanya Ye mewaspadai.


"Li Ren, teman lamaku kau menyembunyikannya bukan?" tanyanya dengan senyuman sinis.


Xiu Ye langsung diam kehabisan kata-kata bahwa Chao Lu menebaknya benar.


"Tidak perlu kau tahu tentang ini, lagipula kau juga ingin melenyapinya dan aku tidak akan membiarkan itu!" tunjuk Ye, lalu pergi.


"Tcih, kau kira bisa mengalahkan aku? Aku akan membuktikannya bahwa kau menyembunyikannya dan langsung memenjarakanmu!" ujar Lu kesal lalu juga pergi.


Sementara Ren untuk pergi kehutan ia harus melalui perbatasan kota dan di sana ia harus sangat berhati-hati atas langkahnya.


Next