The Future Is In The Hands Of The Girl

The Future Is In The Hands Of The Girl
Rencana



Ren akhirnya menerima tawaran Xiu Ye bersedia tinggal di kediamannya, bahkan XiuYe juga menyuruhnya melakukan apapun yang ia suka.


Menyembunyikan identitasnya dengan tetap tinggal di kastilnya, Xiu Ye tidak akan pernah melepasnya lagi dan melakukan hal-hal yang berbahaya lagi seperti jatuh dari tebing.


Saat pertama kali Xiu Ye bertemu dengannya di sungai hari itu. Xiu Ye sudah jatuh cinta padanya dan saat Ren menyamar memakai tudung untuk pergi ke kota sebenarnya ia senang sekali mengetahui identitas gadis itu.


Dia sangat cantik, rambut cokelatnya yang panjang serta tergerai dan matanya yang keemasan berkilauan.


Terlebih saat gadis itu tersenyum, dia sangat cantik.


Saat pertama kali bertemu gadis itu kabur darinya dan bersumpah untuk menemuinya dan menjalin hubungan yang serius dengannya.


Tapi sayangnya gadis ini memiliki takdir yang tidak bagus, dia dari klan Li. Klan Li yang di benci hingga penjuru dunia.


Hanya karena giok itu. Seluruh klan nya di bantai dan dia selamat karena orang tuanya tahu dia akan memiliki takdir yang mengerikan di masa depan nanti.


Giok yang seharusnya menjadi milik klan nya malah mereka yang di tuduh berkhianat dan di bantai.


Giok hijau itu memiliki kekuatan untuk menyatukam tujuh kerajaan, namun jika berada di tangan yang salah maka giok itu bertujuan untuk menguasai tujuh kerajaan.


Untuk saat ini ia cukup tahu dan melindungi Ren di kastil ini, menjaga identitasnya agar tidak mengancam nyawanya lagi.


Ye berjalan-jalan di kastilnya mencari Ren sebelum ia berangkat ke kerajaan.


Ye melihat Ren sedang berlatih pedang di taman kastil, sosoknya terlihat sangat anggun ketika berlatih pedang sendirian.


"Hyat,"


Suaranya yang melengking ketika mengayunkan pedangnya seperti ala-ala ksatria wanita.


Ye tersenyum lalu mengeluarkan pedangnya dan menghentikan permainan pedang Ren.


Ren terkejut ketika pedangnya di tangkis oleh Ye.


"Tcih," decaknya kesal lalu kembali mengayunkan pedangnya.


Ye terus menangkis pedangnya sambil menghindari serangan Ren.


Ren merasa bersemangat lalu kembali mengayunkan pedangnya, ketika menemukan celah untuk menyerang Ye, pedang Ren langsung melesat memusatkan targetnya di dada Ye.


Ye tersenyum tipis sengaja menanti serangan Ren, saat Ren mendekat ia langsung menarik lengan Ren dan merangkulnya sambil menahan tangannya di dada.


Ren memberontak dan akhirnya di lepaskan kembali oleh Ye.


"Aku tidak tahu kau pandai bermain pedang," ujar Ye kembali memasukan pedangnya kedalam sarung pedang.


Ren tetap bersikap judes kepadanya, karena Ye adalah orang kerajaan mungkin saja dia berniat membunuh ketika ia mulai percaya pada pria ini.


"Tentu," jawab Ren singkat.


"Dingim sekali," ujar Ye tersenyum tipis sambil mendekati Ren.


Ren sedikit mundur beberapa langkah dari Ye.


"Tekad membunuhmu sangat kuat, apa kau ingin membalas dendam?" tebak Ye.


"Kalau iya kenapa? Apa masalah untukmu? Keluargaku di bantai dan giok hijau yang seharusnya menjadi milik kekuargaku malah kalian akui itu milik kalian," ujar Ren terlihat kesal.


"Kalian? Itu artinya kau masih tidak percaya padaku?" tanya Ye mendekat.


Wajah Ren langsung merona merah ketika wajah Ye begitu dekat.


Dekat! Ren langsung mendorong pria itu menjauh darinya menatap pria itu kesal.


"Kenapa aku harus percaya padamu, kau kan orang kerajaan Qing. Suatu waktu kau pasti akan membunuhki juga sebelum aku mendapatkan giok itu," ujar Ren memalingkan wajahnya yang merona merah.


Ren hanya menghebuskan nafas kasar, sejak kapan seorang jenderal bisa berekspresi imut begini.


"Aku percaya padamu, dan sebagai syaratnya kau harus mengajarkanku bermain pedang," ujar Ren langsung menghadang Xiu Ye dengan pedang.


Xiu Ye tersenyum sinis, berhasil mendapatkan kepercayaan gadis ini. Tidak ada alasan untuknya untuk mendapatkan gadis ini dengan mudah.


"Baik, aku akan mengajarimu bermain pedang," ujar Ye menyingkirkan pedang Ren.


Aku memang mencintainya, tapi tidak dengan klannya!


Xiu Ye tersenyum sinis kalau ia baru saja mendapatkan tangkapan yang besar dengan adanya Ren di tangannya maka membalas dendam terhadap keluarga Xioau itu hal yang mudah.


Menyimpan Ren sebagai kartu as terakhir. Pembalasan akan segera di mulai.


Xiu Ye pergi ke kerajaan Qing dan memberi laporan terhadap Kaisar yang baru saja di lantik kaisar Xiaou Zen dan penasehatnya Bai Ling.


"Xiu Ye memberi hormat kepada kaisar," ujar Xiu Ye memberi hormat sambil membungkuk di depan kaisar.


Xiaou Zen menerima salam itu dan duduk di kursi rajanya.


"Bagaimana? Apa kau mendapat kabar terbaru tentang Li Ren?" tanya Xiaou Zen.


"Maafkan saya kaisar, untuk beberapa alasan kemungkinan Li Ren masih hidup. Kaisar Chagoi dari kerajaan selatan sangat murka lantaran seseorang dari kerajaan Qing menginjak wilayah mereka," jelas Xiu Ye sambil memberi surat laporan terbaru.


"Seseorang menginjak kaki di wilayah Xiang?" Zen menerima surat laporan itu dan membacanya.


"Chagoi mengaku bahwa seorang gadis bermarga Li masuk ke wilayah mereka dan sekarang kehilangan jejak gadis itu, terakhir dia menemukan gadis Li itu di Villa Mixuzu dan sampai sekarang masih mencari gadis Li itu untuk di eksekusi sebagai perdamaian dua kerajaan," jelas Ye lagi.


Bai Ling cukup terkejut mendengar penjelasan dari Xiu Ye. Bahwa Ren sempat menginjakan kaki di wilayah Selatan.


Sekarang tempat tinggalnya di gunung perbatasan juga sudah di bakar habis.


"Bagaimana dengan kabar kaisar Mingxue?" tanya Zen.


"Sepertinya masih ada motif tersembunyi dari kaisar Mingxue, dia menutup kasus ini tapi diam-diam menyuruh para tentaranya mencari Ren," jelas Ye lagi.


"Benar-benar, dia begitu menghanyutkan persahabatan selama 10 tahun ini hanya sia-sia!" ujar Zen sedikit kesal.


"Untuk laporan terbaru cuma itu yang bisa saya sampaikan," ujar Ye.


"Baiklah kembali bertugas!" perintah Zen.


Ye segera undur diri di hadapan Zen.


"Tunggu saja kau Zen!" ujar Ye tersenyum sinis berjalan meninggalkan kerajaan.


"Baiklah Bai Ling, kau susunlah laporan ini dan segera kirim permintaan maaf kepada Chagoi. Bagaimanapun saat ini kita harus berdamai dengan kerajaan itu," ujar Zen pergi dari singgasananya.


"Baik, maaf menyela kaisar. Ini adalah beberapa daftar nama yang mencalon menjadi selir dan permaisuri anda," ujar Bai Ling memberi beberapa daftar nama beberaoa putri bangsawan yang akan mencalon jadi pendamping hidupnya.


"Apakah ayah yang menyuruhmu?" tanya Zen melihat lembaran-lembaran kertas itu dengan malas.


"Tuan besar memberinya beberapa, anda telah menyetujuinya saat sebelum ulang tahun anda. Lagipula ini adalah usia yang tepat untukmu menikah dan segera mendapatkan calon pewaris kerajaan Qing," jelas Bai Ling.


Zen membawa lembaran kertas itu keruang kerjanya.


Memang benar usianya sudah tidak muda lagi dan memang pastas harus segera berkeluarga.


Tapi untuk beberapa alasan ia menutup hatinya.


Next