The Future Is In The Hands Of The Girl

The Future Is In The Hands Of The Girl
Chao Lu (Gadis Pengintai)



Ren dan Gulfan akhirnya tertidur di tenda mereka yang agak jauh dari kota, dalam tidur Gulfan terlihat gelisah seperti sedang bermimpi.


"Gulfan, Gulfan," panggil seseorang bersurai Cokelat panjang, seorang lelaki yang bersinar turun mendekatinya.


"De... Dewa Du Xin," ujar Gulfan terlihat senang ketika bertemu dengan tuannya.


"Gulfan hari ini aku akan mencoba memberi misi pertamamu, kau burung kenari emas yang pemberani. Cari jati dirimu dan lindungi Li Ren,"


"Li Ren? Siapa?'


"Dia adalah reinkarnasi dari dewi cahaya, masa depan ada di tangannya kelak kau harus membantunya untuk menyatuka tujuh kerajaan sebagai miliknya dan jangan sampai jatuh kepada tujuh lelaki yang akan mengincarnya," jelas dewa Du Xin.


"Lalu bagaimana caraku menyelesaikan misi ini?" tanya Gulfan.


"Kau harus menuntunnya keluar dari gunung perbatasan itu, saat ini dia sudah berusia 17 tahun dan tiga hari lagi adalah ulang tahunnya yang ke 18 tahun, kau hanya perlu menemukan batu giok biru di dalam istana kaisar Xiaou Zen dan ingat untuk berhati-hati,"


Gulfan pun di aliri energi dari sang dewa dan mengirimnya ke dunia ketempat Ren berada.


Namum sayangnya saat ia mulai mengepakan sayap di dunia seseorang telah memburunya dan menembaki anak panah padanya.


Ya dia adalah jenderal Xiu Ye yang ingin menjadikannya makan malam.


"Dasar pria itu,"


Saat Ren tertidur lelap tiba-tiba ia mengalami mimpi buruk, ia seperti berada di dalam ruangan yang penuh aura kegelapan. Dan tujuh pria mengelilinginya. Dari empat pria Ren mengenalinya.


Jenderal Xiu Ye, Kaisar Xiaou Zen, Pengawal Bai Ling, dan Tuan Muda Yuan Jian dan tiga dari pria itu masih memiliki wajah yang samar di dalam mimpi Ren.


Dan jauh di depan gerbang di sana terlihat cahaya batu giok berwarna biru.


Ia ingin mengambil batu giok itu, namun ketujuh lelaki itu mendorongnya kejurang kegelapan dengan tawa jahat mereka.


"Hah!"


Ren langsung terbangun, terlihat keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Mimpi itu benar-benar mengerikan.


Hari terlihat sebentar lagi akan menjelang pagi, udara sedikit dingin. Ren menoleh kesamping melihat Gulfan yang sedang tertidur pulas.


Di kejauhan tiba-tiba terdengar suara tapak kaki dan suara yang terdengar sangat kelelahan menuju ketenda mereka.


Ren merasa sangat takut dan mengambil kayu untuk berjaga-jaga.


Namum terdengar suara itu terjatuh di depan tendanya, suara orang yang jatuh tepat di depan tendanya.


Ren membuka perlahan tendanya melihat siapa kah orang yang sedang menakutinya ini.


"Heh!"


Terlihat seorang gadis seumuran dengannya memakai baju pelayan dari kerajaan. Mungkin saja gadis ini dari kerajaan Qing.


Ren mengusap kepalanya yang ternyata terasa sangat panas, ternyata gadis itu sedang demam.


Ren membantunya masuk ke tenda dan mengobati gadis itu dengan racikan ramuan yang ia buat.


Ngomong-ngomong kenapa gadis ini sampai tersesat kesini?


Pagi pun tiba cahaya mentari pagi menyinari tenda mereka. Gulfan membuka matanya dan menemukan seorang gadis cantik yang tertidur di sampingnya, tapi bukan Ren?


"Waaaah cantiknya," ujar Gulfan sisi kejantanannya kembali bergejolak.


Gulfan sambil mengelus-ngelus wajah cantik gadis yang tertidur itu.


Sang gadis akhirnya membuka mata dan ia terasa asing karena ia berada di dalam tenda bersama burung kenari emas yang sedang asyik mengelus-ngelus pipinya dengan pipi kecil burung itu.


Ren pun masuk dan melihat Gulfan bertingkah tidak sopan dengan gadis itu.


"Gulfan bodoh!"


Rin mengepal tinjunya sangat kesal dengan tingkah Gulfan pagi ini. Dasar burung itu tidak pernah sopan.


Namun gadis itu terlihat bingung melihat burung itu yang ternyata mengerti dengan ucapan Ren. Dia hanya mendengar burung itu bicara.


"Chip, Chip, Chip,"


Dengan bertingkah seperti membujuk tuannya.


"Wah imutnya," ujar gadis itu gemes dan mengelus-elus Gulfan dengan penuh kasih sayang.


"Haaaah tenangnya," ujar Gulfan menikmati.


"Dasar Gulfan, maaf jika dia tidak sopan padamu," ujar Ren meminta maaf pada gadis itu sambil mengambil Gulfan dari gadis itu.


Mulut Gulfan pun langsung di sampal dengan roti oleh Ren karena saking kesalnya.


"Ya tidak apa-apa, aku pikir dia sangat imut dan namanya Gulfan ya kau memanggilnya begitu?" tanya gadis itu seperti sedang mencoba mengakrabkan diri.


"I... Iya dia teman ku maksudku peliharaanku," jelas Ren.


Gadis itu meraba keningnya yang ternyata baru saja habus di kompres, ia pun tersenyum karena ada orang yang menolongnya dan ia melihat Ren seperti dewi cantik sekali.


"Sebelumnya terima kasih telah merawatku, maaf jika aku merepotkanmu," ujar si gadis.


"Tidak, tidak apa-apa ngomong-ngomong namaku Ren. Li Ren kau boleh memanggilku begitu.


"Li!" gadis itu terkejut ketika mendengar nama Li namun ia sadar dan langsung kembali tersenyum manis.


Ren sedikit heran kenapa gadis itu terkejuf mendengar nama Li. Apa dia juga mengenal ayah dan ibuku yang bekerja di sini?


"A... Aku Chao Lu, kau boleh memanggilku Lu," ujar gadis itu memperkenalkan diri.


"Chao Lu nama yang bagus, ini bubur aku tadi membuatnya," ujar Ren memberikan semangkuk bubur hangat.


"Terima kasih," gadis itu memakan bubur pemberian Ren. Wah enak tidak ku sangka kau bisa sepintar ini membuat bubur,"


"Kau terlalu berlebihan aku biasa saja kok, jadu sepertinya kau adalah pelayan dari kerajaan Qing mengapa kau di sini?" tanya Ren.


Chao Lu berhenti memakan buburnya lalu mengambil nafas yang dalam sebelum menjawab pertanyaan Ren.


"Sebenarnya aku hanya tersesat," jawabnya singkat.


"Tersesat? Setahu ku pelayan kerajaan kan tidak pernah keluar dari kediaman selain kita dan istana," tanya Ren merasa tidak yakin. Apakah orang ini berbahaya? Bahkan dari jawabannya sungguh mencurigakan.


"Yah begitulah, sebenarnya kami waktu itu di suruh membagikan makanan kepada rakyat kota yang miskin tapi aku malah melihat sesuatu yang indah dan masuk hutan ini," jawabnya berhati-hati.


"Oh begitu ya,"


Ren tidak terlalu memperdulikan jawaban Chao Lu, mungkin saja itu benar lagipula dia tidak terlihat berbahaya hanya gadis lemah yang bisa dengan kapan saja akan menebas gadis ini dengan pedangnya.


"Ngomong-ngomong apa Li Ren tinggal di sini?" tanya Lu balik.


"Yah tidak sebenarnya aku hanya pengembara bebas," ujar Ren juga berusaha menyembunyikan identitasnya.


"Kalau begitu apa kau mau mengantarku ke kerajaan, aku tidak terlalu tahu jalan di sini," ujar Lu mencoba minta bantuan Ren.


"Ah yah," jawab Ren tanpa berpikir panjang.


"Oi gadis bodoh! Kenapa kau malah menyetujuinya bagaimana kalau kau nanti di temukan lagi di sana?" ujar Gulfan yang langsung tidak setuju.


"Sudahlah Gulfan kita akan mengantarnya di pintu gerbang nanti, lagian aku merasa dia tidak berbahaya haya gadis lemah,"


"Dasar gadis BODOH!" ujar Gulfan menyerah tidak bisa apa-apa jika Ren telah keras kepala.


Chao Lu langsung tersenyum licik seperti merasa puas dan berhasil.


Sebenarnya apa yang ia ingin lakukan?


Next