
Dengan sangat cepat, Davian terbang ke arah Istana. Dia sangat panik, keringat dingin mulai bercucuran dari kening nya. Dan saat telah sampai di sana, yang dia temukan hanyalah reruntuhan Istana.
Davian baru saja selesai menjalankan latihan tertutup nya untuk mencapai Early Realm - Mortal. Tapi bukannya di sambut dengan senyuman selamat.
Davian malah di sambut oleh ke kegelisahan. Seluruh teman seperguruan nya langsung mendatangi lokasi dia melakukan latihan tertutup.
Dengan tergesa-gesa mereka menyampaikan jika Devil's King datang ke Istana, beruntung mereka berenam berhasil lolos dan mendatanginya.
Mendengar hal tersebut, Davian cepat-cepat menuju kota Snow Wings. Untuk melihat kondisi Ibunya. Tapi saat sampai di sana, Davian hanya mendapatkan kekecewaan.
Dia menemukan mayat Ibu nya yang tergeletak kaku di halaman depan rumah. Sebenarnya Davian ingin sekali menangisi kepergian Ibu nya, tapi dia tidak punya waktu untuk itu.
Davian mengepalkan tangannya keras, dia merapatkan gigi nya karena menahan air mata. Dan tanpa pikir panjang lagi, Davian langsung terbang menuju ke arah Istana.
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
Seluruh Seven Deadly Sins, langsung menelusuri seluruh reruntuhan Istana. Di saat yang bersamaan mereka juga membasmi kroco kroco Devil yang ada di situ.
Situasi benar-benar sangat buruk, baik di Istana maupun di Kota Snow Wings.
Kesepuluh Devil General juga ikut menyerang kali ini, dan sudah dapat di pastikan bahwa Aliansi Demon Slayer akan kalah di pertempuran besar kali ini.
Dengan nafas yang semakin memburu, Davian terus berlari menyusuri setiap sudut Istana yang sudah menjadi reruntuhan itu. “Semoga pikiranku salah.”
Karena Istana yang teramat luas, Davian cukup kesulitan untuk menemukan apa yang sedang di carinya sekarang ini.
Sementara itu, pertempuran di Kota Snow Wings menjadi semakin kacau dari yang tadi. Itu semua di sebabkan oleh kekuatan dari 10 Devil General.
Aliansi Demon Slayer pun dapat dengan mudahnya di gulingkan oleh 10 Devil General.
“Menyerah saja kalian para Manusia.” seorang General pria menyarankan.
“Tidak akan! kami akan terus bertempur hingga darah penghabisan!”
“Benar! untuk apa kami menyerah pada mahluk hina seperti kalian ini?!”
Para Devil General lain yang mendengar perkataan itu, bukanya marah malahan mereka bertambah senang dan lebih bersemangat untuk membasmi manusia yang ada di Kekaisaran ini.
Meeeka melesat cepat membasmi para Manusia yang ada di hadapan mereka. Tentu saja di ikuti dengan gelak tawa lantang dari para Devil General itu.
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
Ace memang Manusia terkuat untuk sekarang ini, bahkan para Devil General bukanlah tandingan nya. Tapi beda ceritanya jika dia berhadapan dengan Devil's King.
Andaikan saja dia mencapai Early Realm - Mortal dulu saat masih muda, maka mungkin saja sekarang nasibnya tidak akan begini.
Sekarang dia berakhir dengan sangat menyedihkan. Terkapar lemas di tanah dengan banyak luka dan darah di sekujur tubuhnya.
“Membosakan! padahal aku mengharapkan perlawanan yang lebih seru.” Seorang wanita yang suaranya terdengar melengking sedang duduk di kursi yang dia buat sendiri untuk bersantai.
Sambil memegang mawar di tangannya, dia menatap Ace dengan tatapan kecewa. Dialah sang Devil's King Arlane. Selama ini tidak ada yang menyangka bahwa ternyata Devil's King berjenis kelamin perempuan.
Ace tersenyum tipis. “Maaf karena telah mengecewakanmu nona, oh ya, jika anda ingin mendapatkan lawan yang sepadan atau lebih kuat. Saya sarankan untuk tidak membunuh murid-murid saya.”
“Memangnya kenapa? suka-suka ku mau membunuh siapapun.”
Ace tertawa hampa. “Saya yakin salah satu dari mereka akan membuat anda merasakan adrenalin pertarungan di masa depan nanti.”
Arlane mengangkat sebelah alisnya sambil mendekatkan kelopak bunga mawar ke mulutnya. “Apa aku bisa mempercayai itu? kau ini seorang Guru, bisa saja kau menggunakan alasan itu untuk menyela-”
“GURU!!!”
Perkataan Arlane terhenti saat tiba-tiba Davian memanggil Ace dengan sebutan Guru. Dahi sang Devil's King mengerut karena Davian dengan entengnya langsung berlari mendekati Ace yang terbaring di depannya.
“Guru! Guru tidak apa-apa?!”
Lagi-lagi Ace tertawa hampa. “Lihatlah jantung ku berlubang, mana mungkin aku tidak apa-apa.” kata Ace sambil menunjuk dada kirinya, walaupun dengan susah payah.
Setelah berkata demikian, Ace tersenyum tipis sambil menatap langit yang semakin gelap. Dan setelah beberapa saat, tidak terdengar lagi suara detakan jantung.
Arlane yang dari tadi memperhatikan Davian, pun menjadi langsung percaya dengan perkataan Ace barusan. ‘Anak ini... Memiliki pondasi Early Realm - Mortal?”
Davian mulai meneteskan air mata, dan tanpa menoleh ke arah Arlane dia berkata. “Bunuh saja aku, kau sudah merenggut nyawa Ibuku, sekarang Guruku. Jadi aku...”
Arlane tidak memperdulikan perkataan Davian. Malahan dia langsung berjalan pergi dari situ tanpa menyentuh sehelai rambut pun dari Davian.
“Berlatihlah untuk menjadi Manusia terkuat, atau ku musnahkan seluruh Manusia dari muka Bumi ini.” Kemudian Arlane menghilang dari situ.
Tepat setelah Arlane menghilang dari tempat itu. Aura yang sangat kuat dan berwarna hitam pekat mulai merembes keluar dari tubuh Davian.
“ARG............!!!”
To Be Continue.