The Darkness: Reincarnation

The Darkness: Reincarnation
Ch 27 – Ujian Tahap Kedua Sesi Pertama



Ujian Tahap Kedua Sesi Pertama ini adalah sebuah permainan Kucing dan Tikus. Peserta Ujian harus bisa menangkap Senior mereka sebelum waktu 10 menit mereka habis.


Dan orang yang terpilih untuk menjadi Tikus di permainan ini adalah para Murid Inti yang sudah banyak menguasai Ilmu dan Sihir dari Dark Shadow Sect.


Dark Shadow Sect itu di kenal dengan Ilmu menyembunyikan diri dan Ilusi milik nya. Bahkan jika mau para anggota Dark Shadow Sect bisa menjadi seorang Assassin.


Namun Sendaris lebih memilih untuk menjadi Aliran Netral saja, karena dia paling benci pada hal yang di namakan “Masalah.”


Di tengah-tengah Arena, sudah berdiri seorang pria yang akan menjadi Tikus untuk beberapa permainan ke depan.


Davian yang di panggil nama nya pun langsung berjalan menuju Arena. Dia naik ke atas Arena dengan santai, kemudian memberi hormat pada Senior nya itu dengan cara membungkuk.


Hal itupun juga di ikuti oleh sang Senior. Dan setelah nya, Permainan Kucing dan Tikus pun dimulai.


⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩


Si Senior langsung menghilang setelah pertandingan di mulai, dia saat ini sedang dalam wujud bayangan dan sedang mengitari Arena.


Di saat yang bersamaan suara sorakan antusias Penonton pun, mulai menggema di seluruh Stone Circle.


Namun, Davian bisa melihat ada satu orang yang tetap diam, yaitu Ellena. Dia tersenyum tipis sebelum melesat mengejar sang Senior.


Kejar-kejaran pun terjadi, Davian mengandalkan Snow Fals Slowy melesat cepat mengejar sebuah bayangan hitam yang sedang bergerak kesana-kemari di Arena.


Davian terus mencoba menangkap bayangan hitam itu, tapi selalu gagal hingga pada akhirnya tercetuslah sebuah ide brilian di kepalanya. ‘Astaga... Kenapa aku baru menyadari nya?!’


Davian langsung berhenti melesat, kemudian dia mengeluarkan Benang Baja milik nya dan beberapa Magic Paper.


Dia langsung melemparkan tiga Magic Paper itu ke udara. “Green – Magic Paper – Shady Trees!” Di Arena seketika langsung di penuhi oleh pohon-pohon yang rindang.


Melihat apa yang Davian lakukan itu, membuat semua Penonton mengerutkan dahi. Jika Davian melakukan hal tersebut, maka itu hanya akan menguntungkan bagi pihak Tikus.


Dan benar saja, si Senior langsung memanfaatkan pepohonan itu untuk di jadikan pijakan nya. Dia bergerak layaknya hantu di pepohonan tersebut.


Tapi, justru hal itulah yang Davian incar. Bocah itu pun mengaitkan beberapa ujung Benang Baja nya di beberapa dahan pohon, kemudian berlari mengitari pepohonan itu.


Davian bergerak secara acak mengitari pepohonan tersebut untuk membuat Benang Baja milik nya tersangkut di pohon-pohon rindang itu.


Setelah beberapa saat, Benang Baja Davian pun akhirnya mencapai ujung nya. Saat ini Davian sedang berdiri di tengah-tengah Arena, dia menatap wajah kebingungan Penonton sejenak, sebelum menyilang kan kedua tangannya di depan dada.


“Yarn Technique – Silver Snare!”


IIING... SRAK...!!!


Pohon-pohon yang tadi memenuhi Arena, kini sudah menjadi potongan-potongan kecil akibat gesekan dari Benang Baja Davian.


Dan si Senior juga sudah berhasil Davian tangkap. Pria itu hanya bisa terdiam karena tubuh nya kini sedang di lilit oleh Benang Perak yang di aliri Shinsu.


Sedikit saja dia memberontak maka tubuh nya akan langsung tergores oleh benang-benang itu. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum menyatakan Davian menang.


⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩


Zyan memakai Soul Weapon – Iron Tier Low – Quality yang berbentuk sarung tangan milik nya. Dia baru saja membeli nya kemarin siang.


Namun kenyataan pahit harus Zyan terima, tidak seorang perempuan pun yang bersorak saat dirinya saat akan naik ke Arena. Bahkan para laki-laki juga melakukan hal yang sama.


Zyan hanya bisa mendengus kesal, sambil saling memberi hormat pada Senior nya itu. “Mmm... Kalau boleh tau, siapa nama Senior?” Zyan mencoba untuk lebih akrab.


“Panggil saja Khun...”


WUSH...


Seketika Khun langsung berubah menjadi bayangan hitam yang bergerak kesana-kemari mengelilingi Arena. Zyan mengepalkan tangannya keras.


Mata nya juga ikut bergerak dengan kecepatan yang tidak kalah tinggi. Dia memusatkan seluruh konsentrasi nya pada mata untuk melihat arah gerak dari bayangan Khun.


Tapi yang berhasil Zyan lihat hanya lah siluet seorang pria yang akan langsung menghilang begitu saja, dalam waktu kurang dari sedetik.


Dua menit waktu sudah Zyan sia-siakan, karena dia hanya diam di tengah Arena. Itulah yang para Penonton pikiran, namun kenyataan nya sekarang ini Zyan tengah bersiap-siap dengan sebuah rencana.


Setelah yakin dengan rencana nya, Zyan pun langsung memasang kuda-kuda siap menyerang. Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya secara perlahan.


Di ikuti oleh mata nya yang mulai terpejam. Saat ini dia hanya fokus mendengarkan suara bekas gerakan dari Khun dengan penuh konsentrasi.


Dari kejauhan, Davian terlihat sedang sangat fokus memperhatikan apa yang sedang Zyan lakukan. Karena menurut nya itulah adalah hak yang sangat menarik, sekaligus terasa familiar baginya.


Setelah diam selama kurang lebih semenit, Zyan langsung membuka matanya kemudian melakukan sebuah gerakan.


“Arie Family Style Martial Technique – God and Goddess Vibration!”


DUASK!! GRRRR....


Zyan mengarahkan pukulan nya tepat di atas kepala nya. Dan seketika udara di Stone Circle bergetar hebat, pukulan Zyan bisa sehebat itu juga berkat dukungan dari Soul Weapon nya.


Khun yang saat itu sedang berada di dekat Zyan, menjadi orang yang merasakan efek paling parah dari Teknik yang bocah berambut putih itu gunakan.


Alhasil dirinya langsung berubah kembali ke bentuk semula, memanfaatkan situasi itu. Zyan cepat-cepat melesat ke arah Khun untuk mengunci pergerakan nya.


Namun tidak semudah itu, sekali lagi Khun berubah menjadi bayangan hitam. Tapi karena getaran yang ada di udara membuat dirinya kehilangan keseimbangan.


Alhasil Zyan berhasil mengunci pergerakan Khun Setelah beberapa menit. Dan dia di nyatakan menjadi pemenang nya.


“Hehe, kau sengaja menggunakan Teknik itu saat aku sedang berada di dekat mu ya?”


“Tebakan anda 100% benar, dan itu hebat kan? aku sangat yakin, para wanita akan mulai menyukai ku hihihi.”


“Kau terlalu percaya diri.”


Setelah getaran terhenti, Stone Circle langsung menjadi sangat hening. Hingga keheningan itu di pecahkan oleh suara tepukan tangan.


Sambil bertepuk tangan, Davian berkata. “Keluarga Arie memang hebat.”


To Be Continue.