
Ke-enam pria itu dengan cepat bergerak menghadapi serangan demi serangan yang Ellena berikan.
Setelah beberapa saat dan tidak bisa menggores sedikit pun tubuh Ellena, ke-enam pria itu pun memutuskan untuk menggunakan formasi andalan mereka.
Mereka berenam pun membentuk sebuah formasi melingkar untuk mengepung Ellena. Disisi lain, Davian hanya bisa cengar-cengir melihat apa yang di lakukan enam pria itu.
Dengan sedikit gerakan lengan, Davian membuat Ellena bergerak lincah menghadapi kepungan ke-enam pria itu.
WUSH! DUAS!!
Tubuh Ellena melompat tinggi, kemudian dia menghempaskan tubuh enam pria itu dengan cara mengibaskan tangan nya.
Ke-enam pria itu terhempas cukup jauh, sehingga formasi yang mereka buat gagal total.
Saat Ellena hampir menyentuh tanah, Davian menekuk jari telunjuk nya dan di saat yang bersamaan kaki Ellena terangkat kemudian menghantam tanah dengan cukup keras.
Dari dalam tanah, keluar beberapa sulur yang mulai merambat ke segala arah.
Sebelum sulur milik Ellena beehasil menggapai mereka, salah satu dari ke-enam pria itu melemparkan pisau miliknya tepat mengarah ke hadapan Ellena. Dengan harapan bisa memutus benang baja yang mengendalikan tubuh gadis itu.
SRANG!!
Namun bukan nya benang baja itu yang terputus, malahan pisau yang merupakan Soul Weapon – Iron Tier Low – Quality itu yang terbelah menjadi dua.
Melihat hal itu, mereka berenam menelan ludah berat. Sebelum menjaga jarak sejauh mungkin untuk menghindari benang dan sulur yang mulai mendekat ke arah mereka.
Pria misterius yang menyandra Kirana tadi, menatap Davian dengan penuh amarah. “Early Realm sialan...” Pria misterius itu mengepalkan tangan nya keras.
Davian yang mendengar perkataan itu dari kejauhan, hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Dia tidak menyangka kemampuan pria itu dalam mengukur Tingkatan ternyata sangat buruk.
Mereka berenam terus menghindar dan menyerang sambil di iringi oleh suara tawa lantang dari Davian.
Sebenar nya, mereka sangat ingin sekali berpencar dan menyerang Davian. Tapi mereka sadar bahwa itu hanya tindakan bunuh diri.
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
Saat mereka menggunakan Cloud Poison Magic, Ellena akan langsung me netral kan racun yang terarah kepada nya. Dan itulah kenapa ke-enam pria itu sangat jarang menggunakan Cloud Poison Magic.
Jadi mereka berenam hanya bisa mengandalkan kemampuan bela diri mereka, yang tidak seberapa hebat itu.
Sulur yang tadi Ellena keluarkan bergerak cepat melilit ke-enam pria itu. Disisi lain mereka berenam hanya bisa mengumpat, melawan orang yang Elemen Utama nya Angin itu benar-benar menjengkelkan bagi pengguna Cloud Poison Magic seperti mereka.
Menggunakan pisau, mereka berenam memotong sulur yang melilit tubuh mereka. Tapi sulur-sulur itu seakan-akan tidak ada habisnya.
Setelah beberapa menit, tidak ada yang berubah. Ke-enam pria itu masih saja kesulitan menghadapi Ellena yang Davian kendalikan. “Hah...! aku sudah mulai bosan.”
Davian mengalirkan lebih banyak Shinsu ke benang baja nya. Kemudian melompat turun dari pohon dan menjauh.
Setelah mendarat tangan Davian langsung bergerak dengan sangat cepat, di ikuti oleh tubuh Ellena yang mulai memasang kuda-kuda siap menyerang.
Ke-enam pria itu tidak mau menunggu, mereka langsung maju untuk mengehentikan Ellena. Tapi semua itu sudah terlambat.
“Shadow Sword Technique – One Thousand Shadow Steps!”
Ellena langsung bergerak cepat membentuk pola zig-zag. Tangan nya pun juga menebas kesana kemari dan baru berhenti di tebasan yang ke seribu.
ZRAASSS!!!
Tubuh ke-enam pria itu seketika ter cincang menjadi ribuan potongan kecil. Di ikuti oleh darah segar yang menyembur kemana-mana membuat tubuh Ellena dan Kirana di guyur oleh cairan berwarna merah.
Pepohonan di sekitar situ pun juga ikut terkena dampak nya, beberapa tumbang dan sisa nya hancur menjadi debu.
Karena tidak menguasai sama sekali Shadow Sword Technique, tulang-tulang Ellena terasa seperti remuk setelah menggunakan Teknik tersebut.
“Hah... hah... hah...”
Ellena langsung ambruk kerena sudah terlalu lemas, dengan susah payah dia menengok ke arah Davian yang ternyata sekarang sedang berada pada posisi berlutut dengan tubuh yang di banjiri oleh keringat dan nafas nya juga terengah-engah.
Sebelum Ellena menutup mata, dirinya sempat melihat ada segerombolan orang yang berlari ke arah nya dengan suara teriak antusias.
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
Di sebuah gunung yang tinggi, ada seorang gadis yang hanya duduk diam memandangi sebuah perang yang sangat mengerikan. Dan gadis itu tidak lain tidak bukan adalah Ellena.
Di hadapan nya sekarang sedang terjadi perang besar yang melibatkan Manusia, Ardonia dan Devil. Di perang itu Ardonia dan Manusia sama-sama memusuhi Devil.
Tempat yang seharusnya sangat indah, akibat peperangan itu sekarang tempat dimana Ellena berada sudah benar-benar menjadi Neraka.
Awan berubah menjadi merah, tumbuhan-tumbuhan mati atau hancur, darah mengalir kemana-mana, dan yang paling mengerikan adalah mayat yang tergeletak di mana pun.
Melihat pemandangan yang sangat mengerikan itu, Ellena hanya bisa terdiam sambil terus menelan ludah berat.
DUAR!!!!
Tiba-tiba terjadi sebuah ledakan yang sangat besar, ledakan itu sukses membuat mata Ellena langsung bergerak ke arah ledakan tersebut. Dan diri nya mendapati dua orang sedang saling bertarung di kejauhan.
Pria dan Wanita itu hanya saling bertukar serangan berdua saja, namun dampak dari pertarungan mereka jauh lebih besar dari pada perang yang sedang terjadi.
Saat Ellena masih fokus memperhatikan Pria dan Wanita itu, dia tidak menyadari bahwa ada sebilah besi yang menempel di lehernya, dan alhasil...
SRAK!
“Huft!!”
Tubuh Ellena langsung berkeringat dingin, kedua tangan nya kini sedang meraba-raba lehernya sendiri. “Fyuh, untung saja itu cuma mimpi...” Kini Ellena sudah bisa bernafas lega.
“Apa mimpi mu menyenangkan nona?” celetuk Davian.
Saat ini mereka berdua sedang berada di sebuah ruangan yang bisa disimpulkan bahwa ruangan ini adalah ruangan medis.
Ellena tidak memperdulikan perkataan Davian, dia yang masih sangat lemah itu sedang mengedarkan pandangan ke sekeliling nya dan ternyata dia tidak sendirian bersama dengan Davian.
Tepat di sebelah kanan nya ada Kirana yang terlihat masih pingsan. Setelah memandangi Senior nya itu selama beberapa saat, Ellena langsung beralih ke arah Davian yang terbaring di ranjang sebelah kiri nya.
“Kalau boleh tau, apa alasan mu mau membantu ku?”
“Aku tidak membantu, aku hanya memanfaatkan mu yang kukira sudah memiliki Holy Songs, tapi ternyata tidak ada Holy Songs sama sekali dalam dirimu.”
Ellena mengerutkan kening nya. “Mana mungkin aku sudah boleh menggunakan Holy Songs, sedangkan tingkatan ku saat ini saja masih di Refinement Of Shinsu 8”
Mendengar perkataan itu, Davian ingin sekali memukul sesuatu tapi dia berusaha untuk menahannya telapak tangannya mengepal keras hingga kuku-kuku jari nya memutih.
“Dan karena kau tidak bisa menggunakan Holy Songs, aku jadi terpaksa menggunakan Shadow Sword Technique.” Davian berkata penuh penekanan.
Ellena menggelengkan kepala nya. “Tidak perlu memikirkan hal itu lagi, dan... Siapa orang yang telah membawa kita kemari?”
“Para Murid Inti.”
“Hah?! jadi mereka hanya menonton saja saat kita sedang bertarung di kejauhan?!”
“Begitulah, ya itu juga karena Sendaris yang melarang mereka, dan terserah kau mau marah karena aku memanggil ayahmu dengan tidak sopan.” Davian pun beranjak dari ranjang nya.
Dia langsung berjalan keluar ruangan medis itu, namun dirinya berhenti di daun pintu. “Katakan pada pamanmu Galleius Sendaris, untuk menghargai adik nya.”
BRAK! WUSH!
Setelah membanting pintu, Davian langsung menghilang dari ruangan medis. Meninggalkan Ellena yang sedang duduk dan sangat kebingungan.
To Be Continue.