
Pertarungan yang tidak jelas apa motif nya itu, sukses membuat Shady Hut berantakan. Dengan tubuh yang masih di selimuti oleh Aura Kegelapan, Davian berjalan mendekati Ellena.
SEK!
Langkah Davian terhenti saat sahabat nya yaitu Zyan, menarik baju nya. “Hai sudahlah kawan, jika kau tetap melanjutkan nya. Masalah hanya akan bertambah besar.”
Davian merapatkan gigi nya. “Asal kau tau Zyan, aku ini merupakan orang yang sangat tidak bisa mengontrol emosi, jika ada orang yang sudah membuat ku marah.”
“Eh?”
WUSH!!
Davian langsung melesat mengandalkan Snow Fals Slowy. Dia berhenti di hadapan seorang gadis yang kini sedang tersungkur di tanah, dengan bibir yang di penuhi oleh darah.
“Aku tidak tau alasan mengapa kau mennyerang ku, aku tidak terlalu peduli soal itu. Tapi, kau sudah terlalu berlebihan karena sudah membuat gubuk kesayangan ku hancur...”
Davian mengangkat tinggi-tinggi ranting kayu yang ada di tangan kirinya, bersiap untuk menebas Ellena. Para penghuni Shady Hut hanya bisa terdiam, karena mereka tidak mau terlibat dalam masalah.
Di sisi lain, Ellena tidak bisa berbuat apa-apa. Karena pukulan Davian tadi, beberapa tulang rusuk nya patah, di tambah tangan dan kaki kanannya yang juga mengalami hal yang sama.
Kini Ellena hanya bisa pasrah, tapi dia tidak menyesal sama sekali. Sebagai seorang teman, dia rela berkorban walaupun bayaran nya adalah nyawa nya sendiri.
Saat ranting kayu Davian mulai berayun, Ellena hanya bisa menutup matanya rapat-rapat. Namun, sudah beberapa detik berselang tidak terjadi apa-apa. ‘Apa dia berubah pikiran?’
Saat Ellena membuka mata nya, dia bisa melihat berdiri seorang pria yang menahan ranting kayu Davian menggunakan satu jari saja.
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
Tanpa basa-basi lagi, Davian langsung mengayunkan ranting kayu itu. Tapi terjadi sesuatu yang benar-benar tidak terduga.
SHH- CTAK!
Di hadapan Davian, tiba-tiba muncul seorang pria berbadan besar tinggi, mata biru, rambut hitam dan berwajah garang. “Sendaris...,” geram Davian.
PYUU CTAK!
Pria itu mematahkan ranting kayu itu. Davian secara refleks langsung melompat mundur, tapir pergerakan nya di tahan oleh pria itu. “Maaf, tapi anda tidak di izinkan untuk melukai putri saya.... Tuan Naga.”
“Sendaris kau-”
DUAKH!!
“Ught....”
Davian langsung di buat pingsan oleh pria bernama Sendaris itu. Dia menangkap tubuh Davian yang pingsan, lantas menopang nya di pundak.
Lalu dia duduk jongkok di hadapan Ellena putri semata wayang nya, dia pun mengeluarkan beberapa Pil Penyembuh untuk Ellena. “Makanlah, dan setelah kondisimu sudah lebih baik, kau akan mendapatkan hukuman.”
Tangan Sendaris pun menepuk pundak putri nya. Kemudian menghilang begitu saja dari situ, bak di telan bumi. Meninggalkan Shady Hut yang sudah berantakan saat ini.
Melihat Davian yang di bawa pergi oleh Patriach, membuat seluruh tubuh Liana manjadi lemas. Hingga kini dia sedang bertekuk lutut dengan air mata yang membasahi pipi nya. “Davian... Apa... Dia akan-”
PLAK!
Zyan mempertemukan kedua telapak tangan Liana dengan cukup keras, untuk menyadarkan gadis itu. “Tenanglah, Davian tidak akan kenapa-kenapa.”
“Tapi...”
“Sudah kubilang, Davian tidak akan kenapa-kenapa!”
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
“Maafkan atas tindakan tidak sopan saya dan putri saya, Tuan Naga.”
Davian mengerutkan kening nya, kemudian beralih ke posisi duduk. “Apa kau sudah mengetahui semua ini Talleius Sendaris?”
“Benar, karena saya yakin yang mempunyai Night Dark Body hanyalah diri anda,” jawab Sendaris seadanya.
“Apa kau tidak mau bertanya kenapa keadan ku bisa jadi seperti ini?”
“Tidak perlu, keberadaan anda saja sudah cukup, Tuan Naga.”
Sendaris tidak peduli cara apa yang Davian gunakan untuk dapat menjadi seperti anak kecil itu. Yang terpenting adalah keberadaan nya yang benar-benar sangat di butuhkan untuk saat ini.
Davian menghela nafas panjang. “Mmm... Bisakah kau menceritakan tentang perubahan benua Archi 200 tahun terakhir ini?”
Sendaris mengangguk pelan, kemudian mulai menjelaskan satu-persatu hal besar yang terjadi di benua Archi 200 tahun belakangan ini.
Mulai dari Aliansi Demon Slayer yang sudah bubar sejak bangsa Devil musnah. Tapi ada sepuluh Sekte Besar yang memutuskan untuk tetap membentuk Aliansi, yaitu Alliance Ten Great Sects.
Dan tujuh di antara Sekte-Sekte besar itu merupakan Sekte yang di pimpin oleh Seven Deadly Sins.
“Tunggu, berarti sudah ada yang menggantikan posisi ku?” tanya Davian.
“Benar.” Sendaris pun lanjut bercerita.
Sekarang Sendaris menceritakan tentang Sixteen Saints. Sixteen Saints adalah enam belas Manusia terkuat untuk saat ini. Para Seven Deadly Sins juga termasuk dalam Sixteen Saints.
Dan Sixteen Saints memiliki keturunan atau Murid berbakat yang di sebut sebagai Eight Holy Daughters dan Eight Holy Sons. yang tentu nya akan menggantikan mereka di masa depan.
Kini Sendaris mulai menceritakan tentang empat Kekaisaran yang berada di benua Archi. Pertama adalah Altesia Empire yang berada di bagian Timur Benua.
Altesia Empire di pimpin oleh Kaisar Dom sang Pride–Sins. Awalnya keputusan itu mendapat kan banyak tentangan, tapi setelah melalui beberapa diskusi, akhirnya Dom tetap di pilih untuk menjadi Kaisar.
Lalu di sebelah barat ada Sentleokrasi Empire, yang di pimpin oleh Kaisar Ains. Tidak terlalu banyak hal sepesial di Kekaisaran ini, selain merupakan Kekaisaran terkaya karena Sumber Daya nya.
Kemudian di sebelah Selatan ada Elf King Empire atau yang biasanya disebut dengan Elf Country. Elf Country di pimpin oleh Elf King itu sendiri yang bernama Elc.
Selain di kenal dengan keindahan alam nya, Elf Country juga di kenal akan keramahan penduduk nya yang tidak memandang Ras. Mau Manusia atau pun Ras yang lainnya, akan tetap mereka sambut dengan ramah.
Dan yang terakhir di sebelah Utara, ada Black Dragon Empire. Yang juga di pimpin oleh salah satu Sixteen Saints, yaitu Long Jin. Kekaisaran ini tidak memiliki banyak keistimewaan, selain kekuatan tempur mereka yang hebat.
“Huuum... Aku mengerti, cukup banyak ternyata yang berubah. Sekarang aku punya satu pertanyaan lagi,” ujar Davian.
Sendaris mengangkat sebelah alisnya. “Apa itu?”
“Kenapa Sekte Silhouette berganti nama menjadi Dark Shadow Sect dan berpindah lokasi di tempat seperti ini?”
Sendaris menelan ludah nya sendiri. “Maaf Tuan, saya tidak bisa memberi tau anda untuk sekarang.”
“Eh?“
“Maaf, dan permisi.” Sendaris pun berjalan keluar ruangan ini dengan terburu-buru.
Davian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Aneh, sepertinya ada hal besar yang dia sembunyikan.”
To Be Continue