
Ace Hardware, melatih mereka bertujuh dengan sangat keras tapi, dia tidak pernah memaksa mereka untuk berlatih.
Di Minggu pertama, anak-anak itu sangat kepayahan oleh latihan yang di berikan sang Ghost Mask kepada mereka.
Mereka kepayahan bukan karena mereka lemah. Melainkan latihan yang diberikan Ace Hardware terlalu berat untuk anak yang baru berusia 5 Tahun.
Alasan Ace memberikan latihan yang berat adalah. Ingin membuat tubuh para calon Seven Deadly Sins tidak kaget saat mendapat kan latihan yang sesungguhnya.
Bulan pertama bagai neraka bagi mereka, walaupun tidak di paksa untuk berlatih, namun mereka bertujuh tetap berlatih kerena menghormati Guru mereka.
Dan di bulan selanjutnya mereka sudah semakin terbiasa, tapi tetap saja latihan dari Ghost Mask adalah yang tersulit.
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
“Baiklah maju dan serang aku!”
Kali ini Ace Hardware mengumpulkan para muridnya di sebuah ruangan untuk mengengroyok dirinya. Tujuan Ace Hardware melakukan ini adalah untuk menguji kerja sama para muridnya dan juga ada maksud lain.
Tapi semua itu sirna saat Dom Altaris maju tanpa pikir panjang, diikuti juga oleh Rena Nozawa.
Setelah dua teman mereka maju, yang lain pun juga ikut maju. Tapi tidak dengan Davian, dia masih diam menganalisis keadaan, matanya bergerak kesana-kemari berusaha mencari celah.
Ace Hardware menjentikkan jarinya, seketika itu muncul hempasan angin yang langsung membuat para muridnya terpental.
Dirinya yang sudah mencapai Holy Realm, hanya perlu menggunakan 0,3% kekuatan nya saja untuk membuat para muridnya yang baru mencapai tingkat Refinement Of Shinsu 5 itu terpental.
“Sekali lagi!”
Mendengar teriakkan Dom, kelima orang yang tadi ikut menyerang dengan nya, langsung menyerang untuk yang kedua kalinya.
Keenam anak itu maju secara bersamaan, tapi kali ini mereka melakukan gerakan zig-zag yang dapat membuat orang menjadi pusing saat melihat nya.
Tidak seperti tadi, sekarang Ace Hardware mempertahankan diri dengan cara mengibaskan tangannya ke arah Rena.
Seketika Rena terpental, tapi tidak ada yang mau menolongnya. Namun mata Ace Hardware melebar saat melihat Davian langsung menangkap tubuh Rena sebelum jatuh ke lantai.
Kemudian Davian membuat sebuah pisau api hitam, Lantas dengan cepat melemparkannya ke arah Ace Hardware.
“Itu kesempatan!” teriak Davian.
Dengan cepat kelima teman Davian langsung berpencar dan menyerang Ace Hardware dari segala arah.
Tapi dengan santainya, Ace Hardware menyentil pisau api hitam Davian. Tidak hanya pisau itu yang hancur tapi para murid nya juga terkena dampak dari sentilan itu.
Mereka berlima terpental dan berakhir tersungkur di lantai. Ace Hardware menghela nafas panjang.
“Aku jadi sedikit bing-”
Belum sempat Ace menyelesaikan perkataan nya, dari belakang tiba-tiba Davian muncul dan langsung mengarahkan sebuah tendangan ke kepala nya.
Lagi-lagi Ace di buat terkejut oleh apa yang di lakukan Davian. Dia tersenyum tipis di balik topengnya, kemudian menangkap kaki Davian lalu langsung melempar nya ke arah yang lain berada.
PLOK! PLOK! PLOK!
Ace berjalan mendekati Davian sambil bertepuk tangan, kemudian dia jongkok di hadapan murid yang telah mengejutkan nya sebanyak dua kali itu.
Lalu Ace membuka topengnya. “Kau sekarang adalah Ketua nya, jadi tolong jadilah ketua yang bertanggung jawab.”
Ekspresi Dom dan yang lainnya langsung berubah. Mereka menunjukkan ekspresi tidak setuju atas keputusan dari sang Ghost Mask.
Menyadari pemikiran Murid Murid nya itu, Ace menggeleng gelengkan kepalanya. “Davian berada dengan kalian, dia tidak asal menyerang. Dia juga mementingkan temannya, itu di buktikan dengan dia langsung menolong Rena tadi.”
Dom ingin sekali protes, tapi perkataannya seakan tersangkut di tenggorokan, saat melihat ekspresi wajah datar Ace. Sebagai yang tertua, dia merasa di rendahkan.
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
“Ketua!”
“Shisi tung-”
Belum sempat Davian selesai berbicara. Shisi langsung memeluknya erat. Seakan-akan tidak ingin terpisah dari Davian.
“Shisi! lepaskan!” Davian mendorong Shisi.
“Hmph! apa Ketua tidak punya perasaan?” Shisi memanyunkan bibirnya.
Davian menghela nafas panjang. “Bukan begitu, aku baru saja selesai menjalankan misi. Jadi aku sedang sangat lelah sekarang.”
Davian tersenyum lembut sambil mengelus kepala Shisi.
Setelah gadis itu tersenyum, Davian langsung berbalik arah kemudian berjalan menuju kamarnya untuk istirahat.
Shisi hanya diam mematung melihat punggung Davian yang semakin menjauh. Namun tiba-tiba...
PLAK!
“Aduh~ Rena! apa yang kau lakukan?!” bentak Shisi sambil mengelus-elus punggung nya yang sakit
“Hihihi... Apa kau menggoda Ketua lagi?”
Shisi mengembungkan pipinya “Aku tidak menggodanya! aku cuma ingin melepas rindu dengan nya, cuma itu!” Kemudian Shisi berjalan menjauh dari Rena dan entah kemana tujuannya.
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
Disisi lain, Davian tidak jadi menuju kamarnya. Di tengah jalan berbelok dan berjalan menuju ke tempat lain.
TOK... TOK... TOK...
“Masuk.”
Davian pun langsung masuk, kemudian memberi hormat pada sang Ghost Mask yang ada di depannya itu.
Ace menyuruh murid-muridnya yang sudah berusia 21 tahun itu untuk berdiri. “Selamat atas keberhasilannya menjalankan misi kelas S pertama mu.”
Davian tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya. “Terimakasih pujiannya Guru, ini juga berkat latihan yang Guru berikan padaku.”
Ace menggeleng gelengkan kepalanya. “Jadi apa tujuanmu kemari?”
Davian langsung membungkuk kemudian berkata. “Murid meminta restu dari Guru untuk melakukan latihan tertutup, untuk mencapai Early Realm - Mortal.”
Ace tersenyum tipis. “Aku akan merestuimu, jika ibumu juga merestuimu.”
Senyum sumringah pun mulai menghiasi wajahnya Davian. “Aku juga sudah meminta restu dari Ibu.”
To Be Continue.