
Untuk para pembaca sekalian, saya ucapkan terimakasih karena sudah membaca Novel saya dan sebelum lanjut.
Selalu ingatlah pesan dari Jotaro Kujo, karena dengan begitu. Kalian akan mendorong Novel ini untuk semakin baik lagi.
Dan... Selamat membaca 🙂
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pertandingan ke enam hingga ke sepuluh berjalan dengan cukup menegangkan. Di tambah lagi pertandingan ketujuh berlangsung cukup lama.
Setelah pertandingan di Stone Circle selesai, ada jeda waktu selama setengah jam sebelum masuk ke acara utama hari ini. Yaitu duel antara Davian dan Akira.
Duel ini tentu saja sudah mendapatkan persetujuan dari Patriach. Jadi apapun yang terjadi, tidak akan ada yang protes.
Sambil menunggu, Davian memeriksa kembali Magic Paper yang dia bawa. “Sepertinya aku harus membuat beberapa lagi yang elemen air.”
Saat ini Davian sedang berada di sebuah pohon rindang yang besar, dan dia hanya sendirian di sana.
Dengan gerakan kecil, Davian mengeluarkan beberapa kertas khusus dari Space Ring miliknya. Kemudian meletakan kertas-kertas tersebut di atas pahanya.
Lantas Davian menggigit ibu jarinya hingga mengeluarkan darah, lalu dia menempelkan ibu jarinya di kertas khusus tersebut dan mulai menggambar sebuah pola.
Terlihat Davian cukup cekatan dalam menggambar pola-pola sihir yang rumit itu. Setelah semua kertas selesai di lumuri oleh darah nya, Davian dengan cepat membentuk sebuah Segel Tangan.
Tangan nya bergerak dengan sangat lihai, membentuk pola-pola yang sangat rumit. Tapi Davian dapat melakukannya dengan sangat cepat dan tak kesusahan sedikit pun.
Setelah tangan Davian berhenti bergerak, seketika darah yang ada di kertas itu mengering dan warnanya juga berubah menjadi biru muda.
“Fyuh~ selesai.”
Membuat Magic Paper dari darah manusia itu adalah hal yang sangat sulit, sulit bukan berarti mustahil. Karena memang ada beberapa orang yang dapat melakukan nya, salah satunya adalah Davian.
Sebuah Magic Paper itu dibuat menggunakan kertas khusus yang terbuat dari kayu Phoetens dan darah dari Artic Beast. Tapi tidak semua Artic Beast memiliki darah yang bisa dipakai untuk bahan pembuatan Magic Paper.
Davian dapat membuat Magic Paper dari darah nya sendiri, itu di karenakan kondisi tubuhnya. Darah dari Night Dark Body memiliki kondisi khusus, yang dapat di gunakan untuk membuat sebuah Magic Paper.
Dengan begitu, sekarang Davian memliki cukup banyak Magic Paper yang dapat di gunakan untuk melawan Mystical Magic milik Akira.
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
Di arena pertandingan sudah berdiri dua orang pemuda, dengan pedang di masing-masing tangan mereka berdua. “Sudah siap untuk kalah?” tanya Davian.
“Seharus nya aku yang mengucapkan kata-kata itu, bocah...”
“Yaa... Terserah.”
Setelah saling memberi salam dan Wasit berkata mulai, mereka berdua langsung melesat di saat yang bersamaan. Dan dua bilah besi pun mulai saling beradu.
TRANG! SRANG! SREEENG!
Padang mereka berdua yang sama-sama merupakan Soul Weapon–Iron Tier Elite–Quality itu, menimbulkan percikan-percikan api yang sangat banyak saat saling beradu.
Yang berada dalam posisi menyerang adalah Akira, sedangkan Davian hanya menghindari dan sesekali menangkis serangan yang terarah padanya.
Disisi lain, para penonton sedang bersorak-sorai dengan meriah. Sangking meriahnya, ada pula yang bersiul, bahkan tidak sedikit yang menggunakan Mystical Magic untuk membuat suasana menjadi semakin meriah.
TANG! TENG!
“Apa kau hanya bisa menghindar, huh?!”
“Aku hanya ingin melakukan olahraga.” Setelannya, Davian langsung melompat, kemudian melayangkan sebuah tendangan yang tepat mengenai wajah Akira.
Melihat ada api yang mulai muncul di tangan Akira, Davian langsung melompat mundur untuk menjaga jarak. “Water–Magic Paper–Water Shot!” Langsung saja Davian mengeluarkan Magic Paper dari Space Ring miliknya. Untuk menahan serangan dari Akira.
Seketika asap hitam tebal memenuhi arena pertandingan saat dua serangan itu saling bersentuhan.
Mata semua orang langsung melotot saat melihat Davian menggunakan sebuah Magic Paper hanya untuk menahan serangan dari Akira. Mereka tidak pernah menyangka, Davian akan membuang-buang barang berharga seperti itu.
Akira menebas asap tebal itu, hingga asapnya sudah tidak ada lagi. “Tunggu, di mana bocah itu?” Akira celingukan ke sana kemari mencari keberadaan Davian.
“Aku disini!”
DUAKH!!!
Davian menendang punggung Akira dengan sangat keras, hingga pemuda itu terpental dan berakhir tersungkur dengan mulut yang di penuhi oleh darah.
Akira mendengus kesal, sebelum berdiri lantas menggunakan Mystical Magic. “Fire–Mystical Magic–Burner!”
Di saat yang bersamaan juga, Davian mengeluarkan lima Blue Magic Paper, dan seketika kertas-kertas itu melayang di hadapannya. “Blue–Magic Paper–Water Bullets!”
SHHHHH
Lagi-lagi, asap tebal menyelimuti arena pertandingan. Hingga membuat para penonton hanya bisa melihat percikan-percikan api saja. Suara dua bilah besi yang saling beradu itu, berhenti saat terdengar suara...
SRAAT!!!
Para penonton langsung tegang, dan mata mereka semua memelototi arena pertandingan yang masih di selimuti oleh asap itu.
Berbeda dengan Wasit, dan tiga Tetua yang ada di situ. Mereka hanya menundukkan kepala dengan mata tertutup sambil menghela nafas panjang.
Setelah beberapa saat, asap itupun mulai menipis dan akhirnya mereka semua bisa melihat siluet seorang pemuda berdiri tegak dengan tangan kanannya yang memegang sesuatu yang bulat.
Saat asap nya sudah sangat tipis, para penonton langsung menutup mulut mereka menggunakan telapak tangan. Karena benda bulat yang terangkat itu adalah kepala Akira.
Tidak sedikit pula yang mengeluarkan isi perut mereka saat melihat pemandangan yang sangat mengerikan itu. Bagaiman tidak mengerikan?
Seorang bocah sepuluh tahun, mengangkat kepala tanpa tubuh yang di penuhi oleh darah dengan senyuman puas di wajahnya. “Jangan terkejut dulu! masih ada satu lagi yang harus mati!”
Seketika semua orang langsung menatap Flarace yang tubuhnya saat ini sudah di penuhi oleh keringat dingin.
Tetua Sam menghampiri Davian. “Biar aku saja yang mengurusnya.”
“Tidak...”
WUSH! WUSH!
Mereka berdua melesat ke bangku penonton. Dan berhenti dihadapan seorang perempuan berambut cokelat. “Kau cukup hebat dalam berakting, tapi tidak cukup hebat untuk menyembunyikan nya dariku.” Davian berkata dengan penuh penekanan.
Sedangkan Tetua Sam masih diam saja, tapi tatapan nya kepada perempuan di hadapan nya itu sangat tajam.
“Ada apa ini Davian?” tanya Liana.
“Hei hei kawan, kenapa ini?” tanya Zyan.
Davian menghela nafas panjang, kemudian ujung pedang yang ada di tangan kirinya itu menyentuh dagu perempuan berambut cokelat itu, yang tidak lain tidak bukan adalah Lyla. “Maaf, tapi kau harus mati... Nona...”
Seketika tubuh Lyla langsung bergetar hebat. Wajah memucat dan keringat dingin sudah membasahi wajahnya. Sedangkan disisi lain Flarace bernafas lega.
To Be Continue.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Plot Twist yang sangat mantap ( ´◡‿ゝ◡`)