The Darkness: Reincarnation

The Darkness: Reincarnation
Ch 22 – Permainan Seruling Yang Indah



Jadilah Pembaca yang Budiman dengan cara Like, Vote, Share dan Komen.


Cepat lakukan atau rambut anda akan hilang dalam kurun waktu 70 tahun lagi!!


Davie 504: SLAP Like Now!!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Davian menepuk-nepuk pipi nya, mencoba untuk berpikir positif tentang alasan Sendaris mengubah nama dan lokasi Sekte Silhouette. Lantas dia menengok ke arah pintu. “Lebih baik aku mencari udara segar saja.”


Kemudian Davian beranjak dari tempat tidur nya, dan langsung berjalan keluar ruangan itu.


Saat keluar ruangan, Davian di sambut oleh pemandangan yang sangat indah. Pohon dan bunga banyak tumbuh di sekitar lingkungan itu.


Udara nya yang segar, di tambah suara gemericik air mancur dan kicauan burung. Benar-benar membuat siapapun akan merasa sangat bahagia dan tenang.


“Mpssp! haah~” Davian menghirup udara di situ dalam-dalam, lantas menghembuskan nya secara perlahan.


Kemudian Davian mendekati tempat dimana ada kumpulan pohon bambu yang sangat indah. Dengan menggunakan jarinya yang sudah di lapisi oleh Shinsu, Davian memotong salah satu bambu yang berdiameter sekitar 4cm.


SRAK!


Bambu itu terpotong dengan rapinya. Kemudian Davian mengibas-ngibaskan bambu itu hingga bersih, tanpa tersisa satu pun gelugut.


Setelah bersih, Davian pun mulai membuat lubang-lubang kecil di bambu itu menggunakan jari kelingking nya. Setelah semuanya selesai, Davian langsung melompat ke atap ruangannya tadi.


Mata Davian langsung melebar saat menyadari bahwa lingkungan yang dia tempati saat ini ternyata cukup luas dan tentunya sangat indah. Dia menggelengkan kepala pelan, lalu duduk bersila di atas atap.


Davian tersenyum tipis, lalu menempelkan ujung bambu itu ke bibir nya. Lantas dia mulai meniup dan terciptalah suara seruling yang sangat merdu.


TUUT TUT~ TUT TUT TUUUT~


Secara perlahan, suara merdu seruling bambu Davian mulai menghiasi udara sejauh puluhan kilometer. Itu dapat di lakukan karena suara seruling itu mengandung Shinsu.


Sangking merdunya suara seruling bambu Davian, sampai-sampai semua orang yang mendengar nya kala itu. Langsung menghentikan aktivitas mereka dan memilih untuk fokus mendengar alunan suara merdu itu.


Di sisi lain, Sendaris yang sedang duduk bersantai di teras kediaman nya. Senyum-senyum sendiri saat alunan suara seruling bambu Davian mulai memasuki telinga nya. “Sudah lama aku tidak mendengar nya.”


Tidak hanya suaranya yang merdu, permainan seruling Davian juga dapat membuat pendengarnya langsung bahagia mau seburuk apapun suasana hati orang tersebut.


Begitulah yang sekarang terjadi kepada Ellena, suana hati nya yang belum bisa beralih dari kematian Akira dan kekalahan nya melawan Davian. Seketika langsung membaik.


Karena merasa penasaran, Ellena pun langsung melesat keluar kediamannya yang berada di lingkungan yang sama dengan si peniup seruling bambu.


Ellena terus mengikuti arah dari suara seruling itu. Dirinya semakin antusias saat suaranya sudah semakin dekat, dia juga semakin menambah kecepatan nya.


Saat dia sudah menemukan siapa yang meniup seruling bambu itu. Seketika suasana hatinya langsung menjadi buruk lagi, karena yang dia temukan adalah Davian.


⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩


Setelah tepat lima menit, Davian pun menghentikan permainan seruling nya. Membuat orang-orang yang tadinya fokus mendengarkan, kini kembali melakukan aktivitas mereka.


Davian pun langsung memasukan ssruling bambu itu ke dalam Space Ring milik nya. Kemudian dia berdiri dan berniat untuk pergi berlatih karena hari sudah menjelang siang.


Tapi tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang gadis yang menghentikan langkah Davian. “Apa yang kau lakukan di sini?!”


Suara yang sangat dia kenal itu langsung menusuk telinga nya. Lantas Davian menengok kebelakang dan menemukan seorang gadis dengan rambut cokelat dan mata biru.


“Tidak tau, tanya saja pada Sendaris-”


SYUU! DUAR!


Sebuah pisau angin tiba-tiba langsung menerjang ke arah Davian, namun hanya dengan gerakan kecil saja dia bisa menghindari nya. “Jangan memancing kemarahan ku Nona.”


“Kau yang melakukan nya duluan, berani-beraninya kau memanggil Patriach dengan nama nya.”


Mendengar perkataan itu, Davian menepuk jidatnya sendiri. ‘Astaga, aku lupa kalau gadis ini tidak tau kalau aku dan Sendaris itu saling mengenal.’


“Terserah! aku mau pergi berlatih jadi jangan mengganggu ku.”


Tanpa basa-basi lagi, Davian langsung melompat pergi dari situ. Meninggalkan Ellena yang merapatkan gigi nya dan mengepalkan tangan nya keras.


Ellena menghela nafas berat, sebelum mengikuti kemana pergi nya Davian. Tapi dia sudah terlambat, karena Davian sudah tidak terlihat lagi.


“Kemana pergi nya bocah itu.”


⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩


WUSH! DUAKH!


Tiba-tiba, Ellena di serang oleh seorang pria berjubah hitam. Ellena yang terlambat menyadari nya, harus terkena sebuah tendangan.


Tapi dengan mudahnya, Ellena membalas tendangan itu, dengan pukulan keras yang mendarat tepat di wajah pria berjubah hitam itu.


BUAKH! DAK!


Pria itu terpental hingga menubruk sebuah pohon, akibatnya dia terbatuk-batuk. Kemudian dia menengok ke atas, dan menemukan Ellena sudah berada di hadapan nya.


Pria itu mengumpat dalam hati, karena sudah merasakan ada sesuatu yang dingin di sebelah lehernya.


“Siapa namamu! dan tunjukan wajahmu!”


Pria itu tidak menjawab, yang dia lakukan hanya jarinya menggores gores tanah. “Dasar bodoh!”


DUAS!!


Tiba-tiba Muncul asap hitam pekat dari tanah, Ellena dengan sigap menutup rapat hidung nya, kemudian melompat mundur untuk menghindari racun itu.


Mengandalkan Elemen Angin nya, Ellena mengibaskan tangan nya. Hingga membuat racun itu menghilang, matanya langsung melotot saat melihat pria tadi sudah menghilang.


“Sial!”


Ellena mengedarkan pandangan nya ke sekeliling, memastikan bahwa pria tadi sudah benar-benar hilang. Setelah yakin, Ellena langsung melesat untuk melaporkan semua ini ke Patriach.


⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩


“Uhuk! uhuk! huek!”


Davian memuntahkan darah segar dari mulut nya. “Hais... Aku membenci hal ini.”


Setelah membasuh muka menggunakan air sungai, Davian langsung kembali ke kediamannya yang berada di lingkungan indah bernama Green Garden itu.


Di sepanjang perjalanan, Davian selalu di sapa oleh Murid Inti yang berpapasan dengan nya. ‘Mungkin mereka mengenalku karena kejadian waktu itu.’ Yang Davian lakukan hanya menjawab sapaan sapaan itu se sopan nya.


“Hah~ aku ingin cepat-cepat istirahat dan menikmati sore yang indah ini.” Lantas Davian mempercepat langkah nya, karena ingin melihat pemandangan indah yang ada di kediaman nya.


Namun ekspektasi Davian yang menginginkan pemandangan sore hari yang indah, seketika langsung hancur saat melihat lingkungan di depan kediaman nya berantakan total.


Davian menghirup nafas dalam-dalam. “SENDARIS, APA KAU TIDAK BISA MENDIDIK PUTRI MU UNTUK TIDAK MERUSAK BARANG MILIK ORANG, HUUH?!!!”


Di Tempat Lain.


“Hacih!! ada apa ini?” Sendaris mengusap-usap hidung nya yang gatal.


To Be Continue