
Para pembaca sekalian, saya mempunyai permintaan. Permintaan ya bukan paksaan, saya hanya ingin para pembaca sekalian untuk like dan komen.
Ketik huruf 'A' aja udah termasuk komen kok :') dan selamat membaca.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Karena berhasil menjadi juara 1 Liana di berikan sebuah Soul Weapon berbentuk pisau yang bernama Wind Blade. Soul Weapon–Iron Tier Low–Quality itu sangat cocok dengan gaya bertarung nya Liana.
Dengan kecepatan dari Violet Light Petals di kombinasikan dengan Wind Blade, tentu itu akan sangat menguntungkan bagi Liana. Tidak hanya Soul Weapon, Liana juga mendapatkan 4 Shinsu Collecting Pills.
Sedangkan untuk Davian dan Zyan, mereka berdua hanya mendapatkan 5 Shinsu Collecting Pills. Sedangkan sisanya juga mendapatkan Shinsu Collecting Pills, tapi dalam jumlah yang lebih sedikit.
Setelah sesi pertama selesai, para murid di izinkan untuk kembali ke hunian mereka masing-masing. Davian, Liana dan Zyan pun langsung kembali ke Shady Hut untuk berburu beberapa Artic Beast.
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
“Petok! Petok! Petook!”
“Fiuh... Akhirnya tertangkap juga kau ayam sialan.” Zyan pun langsung mengikat ayam hutan tangkapan nya tersebut agar tidak lari.
Di sisi lain, Davian dan Liana sedang mengejar seekor Artic Beast yang berbentuk seperti rusa. Dan daging nya juga lumayan enak untuk di makan.
Walaupun mereka berdua memiliki jurus meringankan tubuh yang sangat hebat. Tapi tetap saja mereka berdua masihlah bocah Refinement Of Shinsu 2.
Dengan usaha yang cukup keras, akhirnya mereka berdua berhasil menangkap Artic Beast yang bernama Snake Tail Deer itu. Cepat-cepat Liana menusukan Wind Blade ke leher Snake Tail Deer, dan langsung membuat Artic Beast itu mati.
“Ternyata Soul Weapon ini sangat hebat.” Liana berdecak kagum.
“Hahaha... Cepatlah potong Artic Beast itu menjadi beberapa bagian agar lebih mudah untuk di bawa.”
Setelah memotong Snake Tail Deer menjadi beberapa bagian. Mereka berdua pun berjalan santai untuk kembali ke Shady Hut.
“Hari sudah menjelang sore, mungkin tim lain sudah kembali,” kata Liana sambil memandangi langit.
“Aku yakin sih sudah,” sahut Davian.
Di Shady Hut ada beberapa tim yang disebut Hunter, tim ini di tugaskan untuk memburu beberapa Artic Beast atau hewan biasa yang berada di sekitar Shady Hut.
Dengan begitu penghuni Shady Hut tidak akan kekurangan pasokan makanan. Dan Artic Core dari Artic Beast juga bisa di jual. Para Hunter biasanya akan berburu pada tengah hari dan kembali saat hari sudah menjelang sore.
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya Davian dan Liana sampai di gerbang belakang Shady Hut. Dan seperti biasanya para Hunter akan mengumpulkan hasil buruan mereka ke dapur.
“Davian! cepat bantu-bantu di sini!”
“Ahaha... Iya, iya aku datang.” Davian menengok ke belakang. “Liana, coba kau cari Zyan, aku tidak melihatnya dari tadi.”
“Baikalah, semoga saja dia tidak tersesat seperti kemarin.” Liana pun melambaikan tangannya kemudian berlari menyusuri Shady Hut untuk mencari Zyan.
Setelah Liana berangkat, Davian pun langsung berlari menuju dapur untuk ikut membantu memasak di sana. Jujur saja Davian itu tidak terlalu ahli dalam bidang memasak tapi dia sedikit-sedikit mengerti tentang memasak.
Itu di buktikan dengan dia cukup lihai dalam memotong daging daging yang ada di situ. Di tambah Davian juga mempunyai indera yang tajam, jadi dalam mencicipi makanan Davian lah ahlinya.
“Woi! anak terkutuk, keluarlah! atau temanmu ini akan menderita!”
Mendengar suara yang sangat akrab dengan dirinya, Davian pun langsung menghentikan kegiatan memasaknya. Orang-orang lain yang ada di dapur juga melakukan hal yang sama.
Davian pun langsung berlari menuju asal suara itu. Dan saat sudah sampai, dia mendapati Zyan sedang dalam posisi berlutut dengan tubuh penuh luka lebam.
Tepat di belakang Zyan, ada Flarace and the gang yang tersenyum penuh kemenangan. “Kukira kau tidak akan datang...”
Setelah beberapa saat dan tidak menemukan dimana letak Liana. Davian pun kembali menatap Flarace, tapi kini tatapannya tajam. “Lepaskan dia atau kau akan menerima akibatnya.”
Flarace menyeringai. “Coba saja kalau bisa.”
“Tidak Davian, lari!” teriak Zyan.
Tiba-tiba dari atas pohon seorang pemuda melompat sambil mengarahkan tendangan ke kepala Davian. Tapi Davian hanya perlu memiringkan kepalanya sedikit, dan alhasil tendangan pemuda itu meleset.
Para penghuni Shady Hut yang tadinya berdiri di dekat Davian, kini mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak. Khawatir jika terkena serangan yang nyasar.
“Hebat juga kau anak terkutuk.” Pemuda itu menengok ke belakang.
“Kau terlalu percaya diri senior!”
BUAKH!
Pukulan yang sangat keras, mendarat dengan mulus di perut pemuda itu. Tidak berhenti sampai disitu, Davian pun langsung menarik kerah baju pemuda itu kemudian melemparkannya ke arah Flarace.
BRAK!
“Uhuk... Uhuk... Beraninya kau...,” geram Pemuda itu.
Flarace yang dari tadi memasang ekspresi kemenangan, kini wajahnya pucat pasi seperti sudah tidak memiliki darah. Dia tidak kawathir bukan karena kekuatan Davian, malinkan kawathir jika sosok pemuda di hadapannya itu marah.
“Mana mungkin Refinement Of Shinsu 6 sepertiku kalah oleh bocah ingusan seperti dirimu...” Pemuda itu berdiri kembali.
“Senior, saya tidak berniat sedikitpun untuk melukai anda. Jadi tolong lupakan ini semua dan lepaskan teman saya.” Davian mencoba mencari solusi yang terbaik.
“Membicarakan ini baik-baik? setelah kau mempermalukan adikku kau ingin membicarakannya baik-baik?! jangan harap!”
Mata Davian melebar saat mendengar pemuda itu mengatakan kata adik. “Tunggu jadi anda adalah... Akira Song?”
Pemuda bernama Akira itu membunyikan jari-jemarinya. “Kau tau tentang diriku ternyata, jadi diam lah dan biarkan aku menghaj-”
“CUKUP!!”
Tetua Azrud dan Sam tiba-tiba muncul dari langit bersama dengan seorang gadis yang tidak lain tidak bukan adalah Liana.
Seketika jantung Flarace dan Akira berdegup kencang. Dan bertambah kencang saat melihat ekspresi wajah Tetua Azrud yang terlihat sangat marah.
Dua Tetua itupun langsung menghampiri Flarace and the gang. “Flarace cepat lepaskan anak ini.” Tetua Azrud berkata pelan, namun sangat menusuk telinga Flarace.
“B... Ba... Baik kakek...”
Flarace pun cepat-cepat melepaskan tali yang mengikat kedua tangan Zyan. Zyan pun langsung di gendong oleh Tetua Sam lalu si pria paruh baya dengan tingkat Master Soul Realm itupun berjalan mendekati Davian dan Liana.
Lalu Sam pun menyerahkan Zyan yang tubuhnya sudah lemas itu kepada Liana. Lantas dia menatap Davian dan Akira secara bergantian. “Akira, atas dasar apa kau menyerang Davian?”
“Karena dia sudah mempermalukan adik ku.” Akira menjawab tanpa pikir panjang.
“Flarace yang menyerang ku dulu.”
Tetua Sam menghela nafas panjang. “Jadi kalian akan melakukan apa untuk menyelesaikan masalah ini?”
“Berduel!” Davian dan Akira berkata serempak.
To Be Continue