
Keesokan hari nya, tepat nya setelah fenomena aneh yang menimbulkan banyak sekali pertanyaan. Seven Deadly Sins yang sudah berganti pemimpin yang tadinya di pimpin oleh Wrath Sins–Davian, kini di pimpin oleh Pride Sins–Dom. Melakukan pertemuan untuk membahas tentang Empat Pilar yang kemarin.
Mereka melakukan pertemuan di Altesia Empire, karena kekaisaran tersebut di pimpin oleh sang Pride Sins–Dom. Dan pertemuan yang seharusnya berjalan tepat waktu kini harus tertunda.
Karena banyak yang belum datang, bahkan saat ini yang sudah duduk di kursi ruang pertemuan hanya ada dua orang. Yaitu Envy Sins–Rena dan Lust Sins–Shisi.
Mereka berdua hanya saling berpandangan dalam diam, tidak ada yang berbicara sepatah kata pun. Hingga Sang Lion Sins muncul dari ruang hampa.
Dom tersenyum tipis. “Lama tak bertemu.”
Tapi senyuman Dom bukannya dibalas dengan senyuman. Malahan dibalas dengan ocehan dua wanita itu.
“Apa kau benar-benar sudah mengirimkan undangan kepada mereka?” tanya Shisi.
“Aku yakin sih belum,” celetuk Rena.
Bukanya marah mendengar kata-kata dua rekan nya itu, Dom malah hanya tersenyum tipis. “Tentu saja sudah, tunggu saja sebentar lagi-”
BRAK!
Pintu ruang tersebut, tiba-tiba terbuka. Terlihat ada dua orang yang sedang berdiri di depan pintu, satu wanita dan yang satu nya lagi adalah seorang pria.
Yang perempuan adalah Gluttony Sins– Aleta dan yang pria adalah Greed Sins–Hyde. Mereka berdua pun berjalan dengan santai nya menuju ke arah meja pertemuan yang ada di tengah ruangan.
Saat sampai di depan kursi masing-masing, mereka berdua langsung duduk begitu saja tanpa permisi sama sekali.
“Wah wah wah... Tuan Hyde Nona Aleta, apa kalian berdua tidak pernah diajari tentang Tata Krama oleh orang tua kalian?” Dom bertanya sambil tersenyum sinis.
“Diamlah Tuan singa!” Aleta mendengus kesal.
“Untuk apa sih kita melakukan pertemuan ini? tidak penting sekali.”
Dom hanya tersenyum, walaupun urat-urat lehernya sudah terlihat jelas. Kemudian dia menyuruh pelayan yang ada di situ untuk membuat kan teh terbaik yang ada di Istana ini.
Pelayan tersebut pun langsung berlari ke dapur dengan tergopoh-gopoh. Keringat dingin mulai bercucuran dari kening nya, waktu pun seolah-olah berjalan lambat bagi dirinya. Menandakan bahwa dia sedang sangat ketakutan.
Setelah pelayan tersebut keluar ruangan, Dom kembali memandangi wajah mereka berempat. “Bagaimana kabar Sekte kalian masing-masing?” Dom berusaha mencari topik pembicaraan sebelum memulai pertemuan.
“Baik...,” jawab Hyde singkat.
“Kau tidak perlu tahu, Tuan Singa.”
Rena mengetuk-ngetuk kan jarinya di meja. “Disana tumbuh banyak bunga.”
“Aku menemukan satu murid berbakat.”
Setelah nya, suasana ruangan kembali hening sejenak. Hingga ada beberapa pelayan yang masuk dengan membawa 2 guci teh.
Pelayan tersebut pun langsung menuangkan teh nya ke beberapa cangkir, terlihat jelas tangannya gemetaran hebat saat menuangkan teh itu. Setelah selesai, pelayan itu langsung memberi hormat kemudian keluar ruangan.
“Silahkan diminum teh ny-”
Rena menggebrak meja pertemuan. “Mereka berdua lama sekali!”
“Kami datang...” tiba-tiba terdengar suara seorang pria dengan nada malas.
“Kau itu saja yang terlalu optimis Ryushiki.”
GUBRAK!
“Cepatlah kalian berdua!” bentak Aleta.
“Iya iya.” Sang Wrath Sins–Ryushiki berjalan dengan terburu-buru menuju ke arah kursi yang kosong.
“Ryushiki tunggu...” Sang Sloth Sins–Kyotetsu berjalan mengekor di belakang Ryushiki.
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
“Baikalah, mari kita mulai. Kita bahas yang ini dulu. Ini tentang badai petir yang terjadi sekitar 10 tahun yang lalu di kota Frozen. Kalian pasti sudah tahu kan apa yang aneh dengan badai tersebut, jadi apa pendapat kalian?”
“Mungkin itu adalah ulah dari Magic Caster yang iseng...” Kyotetsu menyahut malas.
“Magic Caster iseng?” Dom terkekeh geli. “Tapi setelah badai petir itu berakhir, istri Wali kota Frozen mengandung anak yang saat lahir, diberi nama yang sama dengan si orang gil-”
WUSH! SRAK! DUAKH! TENG! GRRRRR
“Tutup mulutmu Tuan Singa.”
“Coba ulangi sekali lagi!” Rena menodongkan pedang nya.
“Kecapiku sudah siap untuk mencincang tubuhmu.” Shisi menatap tajam ke arah Dom.
Dom memposisikan kedua tangannya di depan dada. “Oi oi, tenanglah. Lagi pula kenapa kalian semarah ini?”
“Haish... Diamlah, aku benci keributan.” Hyde menghela nafas panjang.
“Slurp... Teh ini enak juga.”
“Kyotetsu, kenapa kau malah minum teh? apa kau tidak melihat ada keributan yang sangat seru disini?” Ryushiki menggoyang goyangkan tubuh Kyotetsu.
Ketiga wanita itu masih berada pada posisi siap tempur. Tidak menurunkan niat membunuh sedikitpun.
“Hah~ Orang mati saj-”
TING! JDUAR!
Shisi memetik benang kecapi nya, seketika angin kencang berhembus kemudian langsung menghantam tubuh Dom. Tapi Dom masih berdiri tegak di situ dan yang hancur malah tembok yang berada di belakang sang Pride Sins.
“Sudahlah, aku sudah menduga bahwa sejak awal ini adalah hal yang konyol.” Rena membuang muka, kemudian keluar ruangan itu, diikuti oleh Aleta dan Shisi.
“Hah? mereka pergi? Kyotetsu, ayo kita juga pergi.” Ryushiki menarik kerah baju Kyotetsu, kemudian keluar ruangan sambil menyeret sahabat nya itu.
“Entah kenapa aku merasa sedikit aneh saat hanya duduk ruangan ini dengan mu.” Hyde pun langsung berjalan keluar ruangan.
Sang Pride Sins, diam mematung memandangi punggung rekan-rekan lamanya itu.
Dom merapatkan gigi nya sambil mengepalkan tangan nya keras. Wajahnya juga mulai memerah menandakan dirinya sedang sangat marah. “Si brengsek itu...” geram Dom.
To Be Continue