
Davian langsung duduk bersila, kemudian memejamkan mata nya secara perlahan. Lalu mengosongkan pikiran nya dan mematikan kelima panca indera milik nya.
Entah darimana Davian bisa mengetahui cara paling efektif untuk mengumpulkan Shinsu. Tapi yang pasti itu adalah hal yang bagus.
Setelah beberapa saat, mulai muncul semacam air berwarna biru terang di pikiran Davian. Air tersebut pun mulai mengelilingi tubuh pemuda itu, kemudian meresap ke dalam dada Davian.
Saat air tersebut sudah berada di Soul Core Davian. Dia merasakan sensasi hangat di batin nya, jujur itu adalah sensasi paling nyaman yang pernah Davian rasakan.
‘Bagus...’
Davian terus mempertahankan pola itu, tapi setelah sekitar enam jam tiba-tiba muncul siluet seorang pria yang memikul pedang di pundaknya.
Semakin lama, siluet pria itu semakin jelas, hingga setelah 3 menit wajah pria itu mulai terlihat. Pria itupun tersenyum ke arah Davian, mulutnya juga terlihat komat-kamit.
Menandakan dia sedang mengatakan sesuatu, suaranya hanya terdengar samar-samar. Tapi intinya dia mengatakan. “Snow Petals.”
Setelah berkata demikian, tubuh pria itu mulai memancarkan cahaya yang sangat terang. Sangking terangnya jika ada orang yang melihat cahaya itu. Bisa-bisa orang tersebut akan mengalami kebutaan.
Tapi karena Davian hanya berwujud jiwa, jadi tubuh asli nya tidak terlalu terkena dampak nya.
“Uhuk! uhuk!”
Davian langsung tersadar dari meditasi nya, wajahnya sangat basah oleh keringat dingin. Dadanya terasa sesak dan tubuhnya lemas sampai bergetar.
Tidak hanya itu, ada semacam energi yang merembes keluar dari tubuh Davian. Energi tersebut melayang di udara sebelum masuk ke Soul Core nya Liana, tapi Davian tidak menyadari nya.
Tangan Davian mengelus-elus dadanya untuk menenangkan diri, kemudian dia memandangi sekeliling nya. Terlihat semua calon murid baru masih bermeditasi.
Pandangan nya terhenti saat melihat ada satu Tetua, sedang duduk jongkok sambil memegangi pundak Flarace. Davian mengerutkan keningnya, dan ada satu pertanyaan besar di benaknya. ‘Apa yang Tetua itu lakukan?’
Tetua itu diam beberapa saat, dan setelah itu dia pergi begitu saja. Kembali ketempat dia duduk mengawasi para calon murid Sekte.
Saat masih terus memikirkan tentang Tetua itu dan pria yang muncul di pikirannya tadi. Tiba-tiba terdengar suara hembusan angin kencang tepat di samping dirinya.
WUSH~ DAAS!
Tubuh Liana tiba-tiba menghembuskan angin kencang yang membuat debu di sekitar situ berterbangan kemana-mana.
Gadis itu membuka matanya secara perlahan, dia mengedipkan matanya beberapa kali, sebelum menatap balik tatapan mata Davian.
Tatapan mata mereka berdua pun bertemu, tapi itu hanya berlangsung singkat kerena terdengar suara langkah kaki yang mendekat di ikuti dengan suara tepukan tangan.
“Hebat hebat, murid rekomendasi memang hebat. Dan selamat kau telah menjadi seorang Magic Caster.” Tetua Sam tersenyum tipis.
Mendapat pujian dari salah satu Tetua, membuat Liana menjadi salah tingkah. “Anu... a... saya... begini...”
Tetua Sam tersebut lantang memotong perkataan Liana. “Kau sudah boleh istirahat.” Kemudian Tetua Sam berjalan pergi dari situ.
Setelah pria paruh baya bertampang muda itu sudah tidak terlihat, Liana langsung mendekati Davian yang berjarak sekitar 5 meter dari nya.
“Davian, apa kau juga sudah menjadi Magic Caster?”
Davian menggelengkan kepalanya. “Belum, soalnya aku belum Wush das! seperti yang terjadi padamu tadi.”
Mendengar jawaban itu, ada sedikit rasa kecewa di hati Liana. “Yasudah, coba saja besok,” kata Liana mencoba menghibur Davian.
“Tidak tidak, aku akan menjadi seorang Magic Caster hari ini juga. Lagian ini masih siang, jadi kau istirahat saja dulu.”
“Hihihi... Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa.” Kemudian Liana berdiri dan langsung berlari pergi menuju sebuah tempat makan.
‘Bodoh!’
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
WUSH! DAAS!
Suara tersebut terulang lagi, kemudian berdirilah dua orang pemuda. Satu terlihat seperti orang konyol sedang kan yang satunya lebih elegan dan terlihat seperti bangsawan.
“Wohoo ini hebat!” kata si pemuda konyol yang berambut putih sambil melompat.
Sedangkan pemuda yang berpakaian layaknya seorang bangsawan, hanya memandangi tangan nya kemudian berjalan pergi dari situ. “Delapan jam...,” gumam nya pelan.
Saat si pemuda yang berpakaian bangsawan sudah pergi, si pemuda berambut putih itu masih melompat-lompat kegirangan. Hingga lompatannya terhenti saat terdengar suara.
WUSH! DAAS!
Pemuda berambut putih itu langsung menengok ke arah sumber suara tersebut, terlihat seorang pemuda berambut hitam yang sedang membersihkan bajunya dari debu.
Pemuda berambut putih itu langsung menghampiri di pemuda berambut hitam karena merasa tertarik. Kemudian dia menepuk pundaknya. “Hei kawan, siapa namamu?”
“Davian,” jawab si pemuda berambut hitam sambil tersenyum.
“Salam kenal Davian, namaku Zyan.” Zyan menjabat tangan Davian.
“Emmm... Zyan, mau mencari tempat yang lebih bagus untuk mengobrol?”
“Baiklah!”
Mereka berdua pun berjalan meninggalkan lapangan yang sudah sangat sepi itu, karena kebanyakan calon murid sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing, yang tentunya sudah di sediakan oleh Sekte.
Ada yang kembali dengan keberhasilan dalam memasuki Refinement Of Shinsu 1, dan ada yang masih belum berhasil.
Para calon murid, di berikan waktu 15 hari untuk memasuki Refinement Of Shinsu 1 dan jika gagal maka mereka tidak akan di terima di Sekte, kemudian di pulangkan.
Orang yang masih berada di lapangan itu, hanya pada murid yang sedang mengobrol santai dengan teman-teman mereka. Sedangkan para Tetua yang bertugas mengawasi sudah tidak ada di situ.
“Hei, kau dari kota mana?” tanya Zyan.
“Kota Frozen, kau sendiri?”
“Kota Snow Wings.”
Mata Davian melebar saat mendengar nama kota itu, selama ini Davian memang selalu tertarik dengan kota Snow Wings. “Woaa, kau berasal dari kota hebat itu? apa ada sesuatu yang keren di sana?”
“Tentu saja banyak malahan, kau ingin tau?”
“Ya ya, aku ingin tau,” kata Davian antusias.
“Baiklah...”
Obrolan mereka berdua pun mengalir bak air sungai, sangking asiknya mengobrol mereka berdua sampai tidak sadar kalau sudah sampai di tempat tujuan.
To Be Continue.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Para Reader sekalian, saya punya satu permintaan ni, terserah kalian mau melakukan nya atau tidak, itu kebebasan kalian.
Saya cuma mau kalian men-share Novel ini, atau mempromosikan nya ( itu sama saja sih ). Saya akan sangat berterimakasih untuk kalian yang mau melakukannya dan tidak terimakasih untuk yang nggak mau. ( canda woi )