
Zyan mengelus-elus dagu nya. “Ini kan permainan Kucing dan Tikus, jika Senior Khun menggunakan Ilusi maka...”
“Ya begitulah, mereka akan kejar-kejaran di dunia Ilusi sana.”
“Hmm... Kalau begitu pasti Senior Khun akan sangat di untungkan di sana.”
Davian langsung memasang wajah datar saat mendengar perkataan Zyan. “Dari tadi, dia memang sudah di untungkan.”
“Huh?! apa maksudmu?”
Davian menghela nafas pelan, kemudian menjelaskan bahwa sejak awal Khun memang sudah di untungkan.
Bayangkan saja para Murid Luar harus mengejar Khun yang sudah menguasai Shinsu Technique – Self Shadow dan Illusion Magic – The Crow's Dream.
Pasti akan sangat susah, oleh karena itu Pihak Tikus hanya boleh berlari tanpa mengeluarkan Teknik atau Sihir sedikit pun, agar pihak Kucing lebih mudah saat mengejar mereka.
Pihak Kucing di izinkan untuk menggunakan Teknik atau Sihir, dan itu juga bisa menjadi keuntungan bagi mereka. Tapi keuntungan itu bisa langsung sirna jika tidak di manfaatkan dengan baik.
Karena berada di wilayah musuh, itu akan membuat kekuatan musuh meningkat berkali-kali lipat, walaupun itu bukanlah dunia Ilusi.
Zyan mengangguk-angguk tanda bahwa dia faham apa yang sedang Davian jelaskan.
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
“Ahaha, ternyata kau ya Liana? aku kira siapa.”
Liana tersenyum canggung menanggapi perkataan Davian, kemudian meraih tangan pemuda berambut hitam itu.
Setelah berdiri, Liana hanya diam memandangi Davian dari atas sampai bawah. ‘Apa dia benar-benar Davian?’
Liana membatin begitu itu karena Davian yang dia lihat saat ini adalah, seorang pemuda tampan yang gagah. Sangat berbeda dengan yang ada di dunia nyata.
CTAK!
Lamunan Liana langsung terpecah saat Davian menyentil jidat nya. “Jangan terlalu banyak melamun, bisa-bisa kau kerasukan jiwa gentayangan.”
“Ugh..... Sakit tau... Oh ya, kau mau kemana buru-buru begitu?” Liana mencoba untuk mencari topik pembicaraan.
“Bertemu dengan seseorang, kalau mau ikut ayo cepat! kita bisa terlambat.” Davian langsung berlari tanpa menunggu jawaban dari Liana.
“Davian tunggu!”
Mereka berdua pun berlari bersama menuju bangunan paling megah dan besar yang ada di kota itu, yaitu Istana Kerajaan.
Sesampai nya di sana, mereka berdua di sambut oleh seorang pria dengan perawakan yang sedikit menyeramkan. Tapi sifatnya berbanding terbalik dengan penampilan nya itu.
“Hai Davian.” Pria itu melirik ke arah Liana. “Dan seperti biasa, Nona Liana selalu menempel pada mu.”
“Diamlah Richard, aku kesini itu untuk menjadi bagian militer dari Kerajaan, jadi cepat antarkan aku tempat nya,” kata Davian datar.
“Baiklah baiklah, apa Nona Liana juga tertarik untuk bergabung menjadi anggota mili-”
“Kalau Davian melakukan nya, aku juga akan ikut.” Liana memotong perkataan Richard.
Davian tersedak nafasnya sendiri saat mendengar itu. “Liana kau tidak bersungguh-sungguh kan? itu adalah pekerjaan yang bera-”
“Tentu saja aku bersungguh-sungguh!” jawab Liana dengan sangat bersemangat.
Walaupun Liana sudah berkata seperti itu, tapi Davian terus-terusan memaksa gadis itu untuk tidak bergabung dengan anggota militer Kerajaan.
Namun, Liana tetap ngeyel dan tidak mau memperdulikan semua perkataan Davian yang menghawatirkan nya. Setelah beberapa menit, akhirnya Davian mengizinkan Liana untuk ikut bersamanya.
‘Astaga kenapa aku mengajak gadis ini tadi? Dia itu hebat sekali dalam berkata-kata, sampai-sampai aku harus terpaksa mengizinkan nya seperti ini.’
Mereka bertiga pun masuk ke dalam Istana dengan Richard sebagai pemandu nya. Setelah melakukan beberapa tes, akhirnya mereka berdua di terima sebagai anggota militer Kerajaan.
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
Beberapa bulan telah berlalu, mereka berdua sudah menjadi salah satu Komandan yang bisa di bilang sangat hebat.
Pencapaian itu tentu bukan main-main karena untuk menjadi komandan umumnya di perlukan waktu belasan tahun, tetapi mereka berdua berhasil mencapai posisi itu hanya dalam beberapa bulan saja.
Itu dikarenakan mereka berdua selalu berhasil dalam menjalankan setiap misi yang mereka terima. Bahkan bisa di bilang mereka melakukan nya dengan sangat baik, melebihi standar yang harus di penuhi.
Sehingga tidak heran dalam jangka waktu yang sangat singkat saja, mereka berdua sudah bisa mendapatkan posisi Komandan.
Beberapa tahun kemudian, mereka berdua sudah berhasil menjadi Jenderal. Dan mulai dari situlah mereka di beri julukan sebagai Too Fast.
Hingga tibalah mereka di sebuah obrolan yang cukup serius.
“Kau dulu pernah bilang kan? kalau ingin menjadi anggota militer Kerajaan karena mengikuti ku.”
“Ya... Memang nya kenapa?”
“Atas dasar apa kau mau mengikuti ku?”
Seketika suana langsung menjadi hening, hanya terdengar suara hembusan angin malam dan percikan air danau.
Setelah beberapa menit, akhirnya Liana buka suara. “Tentu sana karena.... Aku...”
Davian menatap Liana dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata. “Sebenarnya aku juga.”
‘Astaga Daviaaaan! apa kau tidak bisa mencari kata-kata yang lebih kereeen?!”
Liana yang dari tadi hanya menundukkan kepala nya, kini langsung melemparkan pandangan ke arah Davian. “Kau... Serius?!”
“Tentu.” Davian tersenyum tipis.
‘Aaaaa!!! semoga saja Liana tidak menganggap ku mirip dengan om-om!’
DEEP!
“Eh?”
Dengan wajah melongo, Davian menatap Liana yang kini sedang menempelkan wajah nya sendiri ke dada Davian.
Setelah diam sejenak, Liana pun menengok ke atas dan memandangi wajah Davian. “Jadi kalau begitu...” Liana langsung terdiam dengan wajah merah padam karena malu.
Dia langsung kembali menundukkan kepala nya. Davian hanya bisa tersenyum canggung. “Haha, karena tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat lebih baik kita anggap saja begitu, haha, ahaha.”
‘Ya ampuuun! lebih baik aku bunuh diri...’
⟨\=\=\=⟨⟩\=\=\=⟩
5 bulan kemudian, mereka berdua sudah menikah. Tapi mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa mereka tidak akan bisa mempunyai anak.
Tahun-tahun pun kembali berlalu, walaupun tanpa kehadiran sesosok anak namun mereka berdua tetap hidup bahagia.
Di suatu malam, Kerajaan yang merupakan musuh menyerang. Seluruh Kerajaan panik karena serangan kejutan itu.
Mereka segera bersiap-siap untuk menghadapi serangan. Di ruangan senjata, Davian dan Liana tengah mempersiapkan alat-alat mereka.
Dan tiba-tiba Richard masuk dengan wajah panik. “Hei cepatlah! bawa senjata kalian saja, kita harus cepat!”
Karena desakan itu, Liana dan Davian terpaksa harus membawa peralatan yang penting saja. Karena suana sudah semakin kacau.
Di tengah perjalanan, mereka bertiga berpapasan dengan pasukan yang akan mereka pimpin. Namun tiba-tiba...
WUSH!!! SRAT!! SRUAK!!! DUAR! DUAKH!!! SRAK!!
Entah dari mana, muncul ratusan orang dan langsung membantai habis semua nya yang ada di situ, kecuali Liana dan Richard.
Tubuh Liana langsung lemas saat melihat Davian yang sudah terbelah menjadi dua di hadapan nya. Dia bertekuk lutut di hadapan tubuh kekasih nya itu.
Air mata sudah tidak bisa Liana tahan lagi. Dia menangis sambil terisak pelan di hadapan tubuh kekasih nya itu.
Richard yang berada tidak jauh dari tempat Liana, terlihat tersenyum penuh kemenangan. Dia berjalan menghampiri wanita itu sambil menyeret sebilah pedang.
Saat sudah dekat, Richard pun menempelkan ujung pedang nya ke leher Liana. “Selamat tinggal, Too Fast.”
“RICHAR-!!!”
SRAT!!!
“Hug!”
Waktu sekarang sedang siang hari, dan kini Liana sedang berdiri di tengah-tengah masyarakat yang berlalu lalang. “Ada apa ini?”
To Be Continue.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Apa kalian bisa merasakan emosi nya? aku yakin sih tidak.