Spirit World

Spirit World
CHAPTER 7



Darma berjalan mendekat ke Spirit hollow berwarna kuning tersebut, guru Rama panik melihat hal tersebut.


"Darma, apa yang kamu lakukan?. usia Spirit hollow tersebut melebihi kemampuanmu saat ini." Seru Guru Rama.


"Tapi,,, hanya ini cara nyelamatkan guru." Sahut Darma yang mulai duduk bersila didekat Spirit hollow yang melayang diatas mayat ular jambul api.


"Jang...an...." Guru Rama pingsan.


Darma mulai menyerap hollow spirit tersebut. Didalam alam bawah sadarnya, Darma melihat sebuah api merah yang membara di depannya. Darma berjalan mendekat dan memegang api tersebut, ketika Darma hampir memegangnya, api tersebut menyerang Darma dan menyerap dalam secara perlahan ke dalam api itu.


"Arghhhhh." Teriak Darma yang kesakitan di alam bawah sadarnya.


Lengan kanan Darma mulai terhisap masuk sepenuhnya kedalam api tersebut. Sementara itu, di dunia nyata, Darma mengeluarkan darah dari mulutnya.


Tidak butuh waktu lama, api tersebut sudah menghisap seluruh bagian lengan Darma dan mulai menuju kebagian tubuh dan wajahnya.


"Sial!, aku tak akan tewas disini. Aku masih ada hutang budi sama penduduk desa Mana!." Teriak Darma.


Darma tiba-tiba berubah, Wajahnya mulai menyerupai rubah, kukunya mulai menjadi tajam, dan muncul ekor dari bokongnya. Ekor tersebut menusuk kedalam api yang membara itu dan perlahan menghisapnya hingga habis.


"Haa...haaa...haaa... Akhirnya aku bisa menyerap api dari ular jambul merah itu." Ujar Darma sambil terengah-engah.


Darma sadar dari meditasinya dan berdiri lalu mengeluarkan api dari tangan kanannya.


"Jadi ini element dari ular jambul api. HAA!." Teriak Darma yang menyerang sebuah pohon di dekatnya dengan element api miliknya.


"Guru!." Seru Darma yang berlari menghampiri guru Rama.


Darma mengeluarkan apinya dan mengarahkannya ke area tubuh guru Rama yang terluka. Asap ungu yang berasal dari racun di tubuh guru Rama sudah menghilang setelah api milik Darma menyentuhnya.


"Seharusnya guru sudah baik-baik saja, sambil menunggu guru, lebih baik aku berlatih." Ujar Darma yang duduk bersila di samping guru Rama yang tergeletak tak sadarkan diri.


Setelah satu jam, guru Rama akhirnya sadar dan melihat Darma tengah bermeditasi.


"Sepertinya Darma berhasil menyerap hollow Spirit dari ular jambul api tadi. Aku berhutang nyawa pada muridku." Pikir guru Rama.


Guru Rama menghampiri Darma yang bermeditasi tak jauh dari tubuhnya dan membangunkannya.


"Darma, tidak aman berlatih terlalu lama disini." Tegur guru Rama.


Darma perlahan membuka matanya dan segera memeluk guru Rama setelah melihatnya.


"Guru!, syukurlah guru baik-baik saja." Ujar Darma yang memeluk erat guru Rama.


"Semua ini berkatmu, terima kasih. Ayo kita kembali ke akademi." Ajak guru Rama.


"Baik guru." Sahut Darma.


Guru Rama dan Darma segera berjalan pulang ke akademi, meninggalkan kawasan hutan Purwo. Ketika dalam perjalanan pulang, mereka mampir ke pasar kota Ranja.


"Darma, ini uang buatmu. Anggap saja hadiah dari gurumu atas Spirit hollow pertamamu, belanjakanlah sesuka hatimu, aku harus pergi ke suatu tempat dulu. Kita akan bertemu lagi besok di kantorku." Ujar guru Rama sambil memberikan sekantong koin emas pada Darma.


"Terima kasih guru." Sahut Darma.


Guru Rama dan Darma pun berpisah. Darma segera melihat-lihat dagangan yang ada di pasar dan membeli beberapa barang kebutuhan sehari-hari. Tak lama berjalan, Darma berpapasan dengan Iqbal dan gerombolannya.


"Oi, bukannya ini bocah kampung itu. Sepertinya dia ingin mencuri disini." Hina Iqbal setelah melihat Darma.


"Anjing yang hanya menggonggong tanpa mengigit tak usah dihiraukan." Sahut Darma yang tak menghiraukan keberadaan Iqbal dan terus melihat dagangan di kios dekatnya.


"Hei, Gimana jika kita selesaikan urusan yang tertunda?." Tantang Iqbal sambil menarik kerah Darma.


"Kamu yakin?." Tantang Darma.


"Sekedar info saja, dunia telah berputar. Tapi kalo masih mau coba ya, silahkan." Seru Darma.


"Bocah kampung sombong!, ikut aku!." Seru Iqbal yang melepaskan Darma, lalu berjalan duluan dan diikuti oleh kelompoknya dan Darma.


Setelag 10 menit berjalan, mereka sampai di sebuah lapangan yang cukup luas. Iqbal dan kelompoknya berdiri di sisi yang berlainan dengan Darma.


"Kalian lihatlah, bagaimana wajah bocah kampung yang sombong ini akan menangis." Seru Iqbal yang maju meninggalkan kelompoknya tersebut.


"Iqbal, Master Spirit pelajar tingkat 4, Spirit kalajengking merah." Ujar Iqbal yang mengeluarkan bentuk Spiritnya di telapak tangannya.


"Darma, Master Spirit mahasiswa tingkat 1, Spirit rubah kurama." Seru Darma yang juga mengeluarkan bentuk Spiritnya ditelapak tangannya.


"Apa!, dalam 10 hari sudah sampai ke spirit mahasiswa?, tidak mungkin!." Teriak Iqbal yang mulai ketakutan.


"Iya, benar mana mungkin ada orang yang bisa naik tingkat secepat itu." Ujar seseorang dari kelompok Iqbal.


"Hahaha, Dunia itu luas. Diatas langit masih ada langit, kalian seperti katak dalam tempurung saja." Sahut Darma.


"Hahaha, jangan mencoba menipuku. Fusion!." Iqbal melakukan fusion dan berubah menjadi manusia kalajengking merah.


"Kalo sudah kuhajar, baru terungkap kebohonganmu." Sambung Iqbal yang segera menerjang kearah Darma.


"Hahaha, hanya fusion abal-abal." Ujar Darma yang masih berdiri dengan tenang.


Darma mengeluarkan api dari telapak tangannya dan melemparnya kearah Iqbal. Iqbal pun terpental jauh, terkena api dari Darma.


"Arghh!, panas!." Teriak Iqbal yang mengerang kesakitan.


Melihat Iqbal yang kesakitan, kelompoknya segera mengambil air dan menyiramkannya ke tubuh Iqbal yang terbakar. Api tersebut belum hilang, setelah disiram air satu ember penuh. Kelompom Iqbal menyiram terus menerus api pada tubuh Iqbal, hingga akhirnya pada juga.


Setelah api tersebut padam, muncul luka bakar dengan asap berwarna ungu seperti yang terjadi pada guru Rama. Seorang dari kelompom tersebut mencoba menyetuh luka tersebut, tetapi dihentikan oleh Darma.


"Jangan sentuh, itu beracun." Cegah Darma.


"Kamu... apa benar-benar seorang Spirit mahasiswa?." Tanya seorang dari kelompok tersebut.


"Iya, buat apa aku bohong." Jawab Darma dengan santai. Mendengar hal tersebut, wajah orang-orang itu berubah menjadi ketakutan.


"Hei, Iqbal. Jika kamu masih ingin hidup, berjanjilah akan minta maaf padaku dan murid kelas bawah lainnya di kantin esok." Tawar Darma.


"Arghhh!, baiklah. Tolong hilangkan racunya." Sahut Iqbal yang mengerang kesakitan.


Darma segera mengeluarkan api miliknya dan menyerap racun di tubub Iqbal. Setelah racun tadi hilang semua, Darma segera berjalan pergi.


"Jangan lupa janjimu, kalo lupa mati!." Ancam Darma sambil berjalan pergi meninggalkan kelompoknya Iqbal.


"Bos!, tidak apa-apa?." Tanya seseorang pada Iqbal.


"Iya, bawalah aku pulang kerumah. Ingin aku minta maaf?, jangan mimpi." Seru Iqbal.


Iqbal pun segera dibawa pergi oleh kelompoknya. Sesampainya dirumah, ayah Iqbal yang sedang mengobrol dengan ibunya pun terkejut dengan keadaan anaknya.


"Kenapa denganmu anakku?." Tanya ayah Iqbah dengan wajah panik.


Iqbal pun menceritakan keseluruhan kisahnya pada ayah dan ibunya.


"Ayah, tolong minta kakak balaskan dendamku." Mohon Iqbal sambil terbaring di tangan ayahnya.


"Tenang saja, mata dibalas mata anakku. Sekarang kamu haru sembuh dulu." Sahut ayah Iqbal sambil membopongnya masuk ke dalam rumah.