
Kakinya mengetuk ke tanah dua kali dan membuat sebuah gelombang yang menyebar hingga jauh tidak terlihat dan membuat semuanya kembali seperti semula, terbukti pada taman bunga itu yang kini juga sudah ditumbuhi lagi oleh bunga-bunga milik dewa Herstal seperti sedia kala sebelum dihancurkan.
"Anda harus memasukkan diri ke dalam air dan berendam disana kira-kira selama beberapa saat saja dan kemudian saya akan ambil gelembung yang keluar dari mata air itu" jelas dewa Herstal yang langsung diangguki oleh Leviathan, dia tidak ingin membuang waktu lagi dan dengan segera memasukkan diri pada kolam itu.
Leviathan menunggu beberapa saat di dalam kolam dan tidak mendapati ada sebuah petunjuk apapun di sana, "lalu apa setelah ini?" Leviathan menoleh ke arah dewa Herstal yang kini mencoba mengalihkan pandangannya ke tempat lain dan sedang mencari sesuatu.
Dewa Herstal kini panik karena tidak biasanya kolam takdir ini tidak berfungsi layaknya kolam peramal yang sudah tertulis dalam takdir, "m-maaf tuan! Sepertinya memang saat ini tidak ada ramalan yang tertulis untuk anda dan jika tidak mungkin sesuatu yang anda maksud itu melebihi batas kehidupan dan kematian" dewa Herstal mencoba menerawang kembali dan tidak mendapati apa-apa selain sebuah cahaya terang yang bahkan itu melebihi dari semua cahaya yang ada dalam alam semesta ini.
"AGRHH!!!" Teriak dewa Herstal saat cahaya itu semakin terang dan hanya dia yang dapat melihatnya, seketika Leviathan yang mendengar teriakan dewa Herstal segera keluar dari kolam dan mencoba mendekat ke arahnya.
Dewa Herstal terlihat berteriak dengan memegang kedua matanya yang tiba-tiba berubah menjadi putih semua, di mana itu merupakan pertanda bahwa dia kini telah buta.
"Ada apa denganmu ini hah!?" Teriak Leviathan mencoba mendekati tubuh dewa Herstal yang kini sudah diam tidak seperti tadi.
Sebuah gelombang sinar keluar dari tubuhnya dan membuat Leviathan terjungkal ke belakang tidak bisa mempertahankan dirinya untuk tetap berdiri.
"Kau dan takdir tidak akan pernah bisa bersatu dan oleh sebab itu semua yang kau cari akan berubah buta atau menjadi batu" dewa Herstal terbang di tengah-tengah pusaran cahaya itu dan matanya terlihat bersinar.
Leviathan yang melihat itu tidak merasakan energi milik dewa Herstal lagi dan semua yang dia lihat tidak ada lagi untuk kali ini. Beberapa saat kemudian tubuh dewa Herstal berubah menjadi batu dan kebutaan yang dialami oleh dewa Herstal berpindah pada Leviathan yang kini tampak tidak terlalu mengerti dengan keadaanya.
Leviathan sekarang akan menjadi seorang makhluk dengan tingkat energi tinggi karena pusat matanya telah tercabut, dia tidak akan memiliki penglihatan meski berubah bentuk atau mengambil bentuk menjadi hewan yang memiliki mata seribu ataupun lebih, karena semua mata yang ada dalam dirinya telah buta. Itu semua adalah ulahnya sendiri karena telah ikut campur pada sang penulis takdir yang merupakan sebuah emosi dalam diri.
Tempat itu juga kini telah hancur atau lebih tepatnya kembali pada tempat yang seharusnya di mana kura-kura yang merupakan penyokong dari kota itu telah kembali menjadi kura-kura biasa dengan ukuran yang tetap tentu saja, maksud dari menjadi kura-kura biasa adalah dia tinggal pada laut yang luas dan itu adalah tempat dimana Leviathan berada.