
"Darma, Bangun Darma." Seru kepala desa sambil menepuk pipi Darma dengan pelan.
Darma membuka matanya dengan perlahan, dengan badan lemas, Darma beranjak duduk di kasurnya.
"Hoamm, ada apa pak Kades, saya masih ngantuk pak." Sahut Darma sambil mengusap matanya.
"Aduh, anak ini. Mana semangatmu bocah!, hari ini kita akan berangkat ke akademi kota Ranja." Ujar kepala desa.
Darma akhirnya teringat dan dengan tergesa-gesa segera bersiap untuk berangkat. Setelah selesai bersiap, Darma dan kepala desa segera berangkat ke akademi.
Darma dan kepala desa menghabiskan waktu 2 jam sebelum akhirnya sampai ke kota Ranja.
"Wow, jadi ini yang namanya kota Ranja. Sungguh luar biasa, jauh jika dibandingkan dengan desa Mana." Ujar Darma dengan wajah penuh semangat.
"Sudahlah, ayo Dar, kita cari letak akademi Ranja dulu." Seru kepala desa.
"Mana kertas alamatnya pak kades, biar aku tanya ke orang-orang." Pinta Darma yang segera mengambil kertas alamat dan menghampiri orang didekatnya.
"Tuan, apakah anda tahu alamat ini?." Tanya Darma.
orang yang ditanya Darma melihat pakaian lusuh Darma dari atas sampai bawah.
"Heh, orang desa busuk sepertimu ingin apa ke akademi kota Ranja?." Tanya Orang tersebut dengan sinis.
"Aku adalah murid baru dari akademi kota Ranja, Tuan." Jawab Darma dengan sopan.
"Heh, orang desa sepertimu menjadi murid akademi Ranja?. Sepertinya akademi kota Ranja sudah menurun kualitasnya." Hina orang tersebut yang lalu pergu tanpa pamit.
Darma kaget melihat perlakuan orang tadi, ini adalah pertama kalinya dia diperlakukan acuh tak acuh selama hidupnya.
"Hehehe, bagaimana?." Canda Darma.
"Sepertinya desa Mana masih lebih baik, pak Kades." Sahut Darma.
"Hahaha, sudahlah, ayo. Aku sudah tahu tempat akademi berada." Ajak kepala desa.
"Eh?, tahu darimana pak kades?." Tanya Darma.
kepala desa hanya tersenyum sambil mengibas-ngibaskan sejumlah uang sebagai kipas.
Tak lama berjalan, terlihat 2 orang berbadan kekar berdiri didepan gerbang dengan desain yang mengintimidasi menghiasi gerbang, dibagian atas gerbang tertulis "Akademi Kota Ranja.".
"permisi 2 Tuan muda, apa benar ini adalah akademi Ranja?. Tanya kepala desa dengan sangat sopan.
"Benar!, ada perlu apa pak tua?." Tanya balik sala seorang prajurit.
kepala desa memberikan sebuah surat kepada mereka.
"Oh, kamu adalah murid baru." Tanya seorang penjaga.
"Benar, Senior." Sahut Darma.
"Oh, kalau begitu, silahkan masuk." Seru Penjaga sambil membuka gerbang. Dibalik Gerbang tersebut terlihat sebuah taman yang amat luas dan dihiasi dengan kolam air mancur yang membuat taman tersebut begitu megah.
"Darma, masuklah dan belajar yang rajin." Seru kepala desa.
"Tentu saja pak kades, terima kasih." Pamit Darma sambil berjalan masuk gerbang meninggalkan kepala desa di belakangnya.
Setelah berjalan-jalan sampai sore, Darma akhirnya menemukan kamar miliknya dan segera masuk ke kamar yang sudah ditetapkan. Terlihat sorang anak kecil yang cara berpakaian hampir mirip dengan Darma.
"Halo, namaku Darma, salam kenal." Sapa Darma.
"Oh, Hai. Namaku Rahul, Salam kenal juga." Sahut Rahul.
Darma berjalan masuk dan membereskan barang bawaannya.
"Darma, Kamu berasal dari desa mana?." Tanya Rahul.
"Oh, aku dari desa Mana, Kamu?." Jawab Darma.
"Oh, Desa Mana. Kalo aku dari desa Lapu. Hei, lima menit lagi waktunya makan malam. Jadi, bergegaslah." Seru Rahul sambil berjalan melewati pintu.
"Tunggu aku sebentar Rahul. Aku tak tahu dimana tempat makannya." Cegah Darma yang membuat Rahul berhenti.
"Ya, Baiklah, tapi cepatlah." Sahut Rahul.
Tidak berselang beberapa lama, mereka akhirnya sampai ke tempat makan, tetapi tempat makannya sudah terisi penuh dan tidak terlihay adanya kursi kosong yang dapat ditempati oleh mereka berdua.
"Ah, gara-gara kamu Dar, kita jadi kehabisan tempat." Keluh Rahul yang kesal .
"Maaf,Maaf." Sahut Darma sambil melihat sekitar mencari tempat kosong.
"Eh?, diatas sana masih banyak yang kosong, ayo kesana." Seru Darma sambil menunjuk kelantai 2 tempat makan yang terlihat masih banyak yang kosong
"Yaelah, kamu anak baru, jadi tidak heran kalo kamu tidak tahu." Seru Rahul.
"Apa maksudmu?." Tanya Darma.
"Di akademi ini, ada 2 macan siswa, yang pertama, Siswa kelas atas yang berisi anak-anak kaya dan bangsawan." Jelas Rahul.
"Yang kedua pasti siswa kelas bawah, seperti kita kan?." Potong Darma.
"Iya benar, kamu pintar juga Darma." Sahut Rahul.
Darma wajahnya berubah menjadi kesal dan menarik Rahul menaiki tangga.
"Hei,hei. Kalo mau mati jangan ajak aku Dar." Seru Rahul sambil memberonta.
"Diamlah Rahul, kesabaranku sudah habis dengan sifat-sifat orang kota ini." Sahut Darma yang terus menarik Rahul dengan kesalnya.
Darma terus menarik Rahul keatas, hingga tak sadar dia menabarak orang.
"Hei, orang kampung!. Ngapain kamu keatas, tempatmu itu dibawah." Hina seorang tersebut.
"Orang kampung,orang kampung!, diamlah!. Aku sudah bosan mendengar kata-kata itu." Maki Darma.
"Kenapa?, ngak terima?." Tantang orang tersebut.
"Aduh, maaf senior." Ujar Rahul.
"Hei, Darma. Ayo minta maaf, dia ini senior Iqbal yang merupakan murid terkuat di sini." Sambung Rahul pada Darma.
"Tidak akan aku minta maaf padanya." Sahut Darma.
"Wow, sepertinya anak baru ini minta dihajar." Timbrung Iqbal.
"Sinilah, Tampol aku, dapat duit nanti." Tantang Darma.
"Hahaha, kamu jual saya beli!. Iqbal Spirit Kalajengking merah, Spirit Pelajar tingkat 3." Seru Iqbal yang memunculkan bentuk Spirit kalajengking dari telapak tangannya.
"Kalajengking?, Aku juga punya." Darma juga memunculkan bentuk Spirit rubah miliknya.
"Hei bocah kampung, jika ingin bertarung, sebutkan tingkatmu." Seru Iqbal.
"Eh?, memang harus begitu ya, Rahul?." Tanya Darma pada Rahul.
"Tentu saja, kamu, jangan-jangan masih baru dibangkitkan dan belum tahu cara bertarung dengan menggunakan Spirit ya?." Tanya Rahul.
"Heheh, benar." Jawab Darma sambil menggaruk rambut sampingnya.
"Hahaha, anak kampung ini, tak tahu cara bertarung berani menantangku." Ledek Iqbal.
"Tidak rotan kayu pun jadi." Seru Darma yang melompat maju dan memukul Iqbal hingga terpental.
"Sialan, pintu neraka ditutup tapi malah kau buka!. Spirit Fusion!." Seru Iqbal yang bersatu dengan spiritnya.
Tubuh Iqbal mulai berubah, Tangannya menjadi capit, di pantatnya muncul sebuah ekor kalajengking.
"Hahah, Takutlah, dasar orang kampung!." Seru Iqbal.
"Takut?, dengan bentukmu yang seperti remah roti itu?." Ledek Darma.
"Remah roti kamu bilang!, Matilah." Maki Iqbal yang marah dan melompat kearah Darma.
"Majulah mahluk jelek!." Ujar Darma yang menerjang maju.
Ketika kedua orang tadi hampir saling menyerang, muncul seseorang yang berdiri ditengah-tengah mereka dan menghentikan mereka berdua. Semua orang terdiam melihat kemunculan orang tersebut.