
"Duduklah!" Perintah nenek itu.
Violence yang berniat menjawab pertanyaan nenek itu kini memilih berdiam dulu dan menuruti perintah nenek itu.
"Maaf aku tadi menggeretmu karena kita tidak bisa membiarkannya diluar" ucap nenek itu dengan membawa secangkir teh dan makanan ringan.
Violence menerima minuman dan makanan itu dengan senang, "jadi sebenernya nenek itu siapa?" Tanya Violence dengan menyeruput minuman yang tersaji.
"Aku hanyalah berjualan saja sejak zaman dulu dan ini adalah toko peninggalan dari suamiku!"
"Jika dilihat-lihat kamu mirip seperti seseorang anak muda yang aku kenal dua puluh tahun lalu" nenek itu melihat wajah violence menelisik dan berpikir mirip siapa sebenarnya anak didepannya itu.
Violence mengernyit, "lalu siapa nama nenek?"
"Oh maaf! Tadi aku sedang melamun jadi tidak menjawab pertanyaanmu" ucap nenek itu ketika kembali pada dirinya setelah melamun atau lebih tepatnya berpikir tentang anak muda didepannya itu.
"Namaku Perry aku sudah lama sekali menempati toko ini dan juga aku baru ingat kalau dulu aku punya seorang pelanggan tetap yang sangat pekerja keras, dia sudah ku anggap seperti anakku sendiri karena dia sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya sejak kecil" jawab nenek Perry dan mulai bercerita tentang kenangannya dua puluh tahun lalu.
Violence mulai tertarik dengan cerita nenek itu tanpa tahu maksud atau artinya, "siapa nama nya nek? Dan dimana dia tinggal?" Tanya Violence dengan tidak sabaran.
"Nama anak itu Violence dan aku baru sadar jika wajahmu sangat mirip dengannya saat dia muda dulu" jawab nenek Perry dengan senang ketika menceritakan tentang Violence.
Deg...
"V-violence?"
Nenek itu mengernyit heran ketika melihat wajah Anak muda didepannya yang terlihat sangat kaget saat mendengarnya mengucapkan nama Violence.
"Oh ya nenek tadi bilang sekarang tahun 2021 bukan?" Tanya Violence tanpa menjawab pertanyaan nenek Perry.
Nenek Perry mengangguk.
"A-aku Violence yang nenek maksud" ucap Violence tiba-tiba.
Wajah nenek Perry terlihat cukup terkejut dan setelahnya terkekeh kecil.
"Mana mungkin itu terjadi, seharusnya dia saat ini sudah berkeluarga karena aku sudah sangat lama tidak melihatnya"
"Jika kamu bilang mungkin Violence saat ini sudah cukup tua" ucap nenek Perry dengan terkekeh seperti nenek kebanyakan.
Wajah Violence kini terlihat serius meskipun nenek didepannya itu terlihat tidak percaya tentang apa yang dibicarakannya barusan.
"Jujur saja nek! Aku bukan dari sini karena beberapa waktu yang lalu aku melewati sebuah portal entah apa yang terjadi sehingga aku bisa berada di tempat seperti ini" ucap Violence mulai serius dengan perkataannya.
Wajah nenek Perry yang semula tidak percaya kini terlihat serius dan menampakkan wajah cukup terkejut dengan perkataan anak didepannya itu.
"L-lalu apa benar kamu Violence yang aku ceritakan itu?" Dengan wajah terlihat sedih nenek Perry menatap kearah Violence dengan pandangan berharap jika itu memang benar kenyataannya.
Violence yang melihat itu mengangguk, "tolong rahasiakan tentang keberadaanku karena aku yakin bahwa akan ada beberapa pengintai yang akan menangkap ku dan mengintrogasi ku karena hal ini" ucap Violence berharap dengan memegang erat kedua tangan nenek Perry.
"Aku sangat merindukanmu! Kamu sudah nenek anggap seperti anakku sendiri dan sekarang kamu terlihat seperti cucuku" nenek Perry melepas pelukannya dan tekekeh kecil serta menghapus air matanya yang sedikit menetes keluar.