
"Kau harus melepaskan segel itu! Grrr" ucap burung itu dengan geraman yang sangat menyeramkan.
"Menjauh lah!!!" Teriak Violence dengan keras yang ditanggapi tawaan dari burung itu.
"Hahaha"
"Pergilah dan jangan ganggu aku!" Ucap Violence dengan putus asa dan terlihat sangat rapuh untuk kesekian kalinya.
"Ingatlah bahwa aku akan selalu berada didalam mu untuk selamanya karena itu takdirmu" ucap burung itu yang setelahnya menghilang dan Violence terbangun dengan ngos-ngosan.
"Komandan! Kami sudah mendapat beberapa informasi mengenai gadis itu" ujar anak buah kepada sang komandan yang kini tengah menatap keluar jendela.
"Jelaskan!"
"Baik komandan!" Ujar anak buah itu yang bernama Clation.
Komandan Lakhutos membaca dengan rinci isi didalam komputer itu tanpa terlewat.
"Dia dari masa lalu?" Gumamnya.
Clation yang mendengar itu mengangguk, "benar tuan! Dari data yang kami kumpulkan dari membobol CCTV di tempat wanita itu muncul menunjukkan dia datang dari sebuah portal yang tidak pernah terlihat pada masa ini" jelas Clation yang ditanggapi dengan anggukan ringan dari komandan Lakhutos.
"Baiklah! Sekarang siapkan pasukan tingkat A dan suruh mereka untuk membawa senjata terbaik yang kita miliki untuk menangkap wanita itu!" Perintah final komandan Lakhutos.
Clation mengangguk dan segera pergi dari sana untuk menjalankan tugasnya.
Melihat kepergian tangan kanannya, komandan Lakhutos meremat kuat tangannya dengan melihat keluar jendela menerawang masa lalu.
"Aku akan menyelamatkanmu kakak" ucapnya dengan lirih.
"Sudah berapa kali nenek bilang jangan terlalu bekerja keras karena kamu masih belum terlalu pulih!" Nenek Perry datang dari dapur langsung merebut sapu yang dipegang Violence, padahal dia sudah mengingatkan Violence agar beristirahat dulu karena takut jika dia kenapa-kenapa lagi seperti tadi malam.
"Tidak apa-apa nek! Aku hanya bosan saja jika terus berada di dalam kamar" jawab Violence yang kini ingin meraih kembali sapu yang direbut nenek Perry.
Nenek Perry memperlihatkan wajah marahnya yang membuat Violence menjadi tidak enak, "sudah-sudah kamu sekarang istir-" ucapan nenek Perry terpotong ketika sebuah suara mengintruksi dari arah luar toko untuk jangan bergerak dan meninggalkan tempat itu.
"JANGAN BERGERAK DAN SEGERA KELUAR DARI TOKO ITU!" Sebuah suara mengunakan pengeras sehingga dapat terdengar hingga ke dalam toko.
Hal itu membuat nenek Perry dan Violence panik, masalahnya mereka tidak pernah melakukan apapun sehingga harus ditangkap seperti sekarang ini.
Wajah nenek Perry seketika ikut panik saat Violence mencegahnya.
"Ada apa Violence?" Tanya nenek Perry dengan panik sambil memegang kedua tangan Violence.
Violence menghela nafas panjang, "sepertinya mereka tahu jika aku tidak berasal dari sini" ucap Violence dengan menunduk dan berucap lirih.
Nenek Perry mengernyit heran, "bagaimana kamu tahu itu?" Tanyanya.
"Entahlah tapi aku merasakan itu akan terjadi dalam waktu dekat dan malam tadi aku tidak bisa tidur karena memikirkan hal itu" jawab Violence dengan jujur apa yang dia lihat malam tadi dalam sebuah bayang-bayang takdir miliknya.
Nenek Perry menghela nafas pasrah, "jangan terlalu takut karena bisa saja ada hal penting yang mereka ingin tanyakan pada kita" ucap nenek Perry yang berusaha untuk tetap berpikir positif.
"Tapi nek-"
Violence menatap kearah nenek Perry dengan pandangan memohon untuk tetap tinggal tapi wajah nenek Perry yang penuh ketulusan terus membuatnya ingin melindunginya tapi apalah daya ketika dia tidak sekuat itu.