Spirit World

Spirit World
CHAPTER 6



Keesokan harinya, Darma menemui guru Rama di ruangannya.


"Guru, aku sudah siap berangkat." Cetus Darma pada guru Rama yang sedang sibuk menulis sesuatu.


"Kamu tunggulah di gerbang, aku harus menyiapkan sesuatu terlebih dahulu." Seru guru Rama yang berhenti menulis sebentar.


"Baik guru." Sahut Darma yang segera kekuar ruangan dan berjalan menuju gerbang.


Darma menunggu di gerbang akademi sendirian selama 1 jam, hingga akhirnya guru Rama datang.


"Maaf, menunggu lama Darma." Seru guru Rama.


"Tidak masalah, guru." Sahut Rama.


"Baiklah, ayo berangkat." Ajak guru Rama.


Guru Rama dan Darma berjalan keluar akademi. Tidak lama berjalan, Darma berjalan mendekat ke arah guru Rama.


"Guru, kita akan pergi kemana?." Tanya Darma.


"Ke hutan purwo." Sahut guru Rama.


"Hutan Purwo?, apa itu?." Tanya Darma.


"Hutan Purwo adalah hutan yang dipenuhi Spirit Beast, letaknya ada ditengah-tengah kerajaan Majamanis dan dikelilingi beberapa kota, salah satunya adalah kota Ranja ini." Jelas guru Rama.


"Wow, terdengar seru. Tapi apa tidak bahaya guru?." Tanya Darma dengan wajah penuh antusias.


"Ya, seharusnya. Karena kita hanya akan pergi ke pinggiran hutan saja, jadi kemungkinan kita hanya akan menemui Beast berusia 10- 200 tahun." Jelas guru Rama.


Setelah berjalan beberapa menit, mereka akhirnya sampai ke pintu gerbang hutan Purwo, pintu Gerbang tersebut dijaga oleh 2 orang prajurit penjaga.


"Berhenti disana, area ini bukan untuk umum." Seru seorang prajurit yang menghentikan Darma dan guru Rama.


Guru Rama mengeluarkan sebuah surat dari kantongnya dan memberikannya kepada penjaga tersebut. Setelah menerima surat dari guru Rama, penjaga itu membaca suratnya dan tiba-tiba wajahnya berubah.


"Maaf, prajurit rendahan ini tidak tahu kalo tuan adalah utusan dari kepala akademi." Ujar prajurit tersebut sambil memberikan kembali suratnya dan membukakan pintu gerbangnya.


Guru Rama segera berjalan memasuki area hutan, disertai oleh Darma yang berjalan dibelakangnya.


Tak beberapa lama berjalan memasuki hutan, Darma dan guru Rama bertemu dengan kelinci bertanduk ungu.


"Bersiagalah Darma, kita sudah memasuki area pertama/pinggiran hutan Purwo. Meski beast disini adalah tingkat rendah, tetapi mereka biasanya berkelompok." Seru guru Rama.


"Area pertama, maksudnya guru?." Tanya Darma.


"Hutan Purwo dibagi menjadi 3 area yaitu area pertama atau pinggiran hutan, area kedua atau pertengahan hutan, area ketiga atau pusat hutan. Semakin kita ke dalam hutan, maka semakin tua atau kuat beast yang kita temui." Jelas guru Rama.


Darma dan guru Rama berjalan semakin dalam kedalam hutan, tetapi mereka tidak menemui satu pun beast semenjak bertemu dengan kelinci bertanduk ungu.


"Darma, berdirilah dibelakangku dan bersiaplah bertarung." Seru guru Rama.


Darma dengan sigap segera berdiri dibelakang guru Rama. Guru Rama memberikan sebuah pedang kepada Rama.


"Ada apa Guru?, apa ada perampok?." Tanya Darma.


"Bukan, bahkan lebih buruk. Sepertinya kita telah diintai dengan segerombolan beast, makanya kita tidak menemui satu pun beast dari tadi." Jelas guru Rama.


Perkiraan guru Rama ternyata benar, tak lama dia selesai bicara, muncul puluhan beast serigala merah dan mengepung mereka.


"Darma, lihat dan pelajarilah cara seorang Spirit Master bertarung." Ujar guru Rama.


Guru Rama mengeluarkan bentuk seekor singa dari telapak tangannya.


"Teknik pertama, auman singa." Teriak guru Rama.


"Guru, hebat sekali. Tapi kenapa guru tidak bergabung dengan bentuk beastmu seperti Iqbal?." Tanya Darma.


"Yang dilakukan Iqbal adalah Fusion, tapi imitasi." Sahut guru Darma.


"Imitasi?." Tanya Darma.


"Iya, Fusion sesungguhnya hanya dapat digunakan ketika sudah mencapai Spirit Jenderal. Yang digunakan Iqbal hanya bisa untuk berubah, tanpa mengeluarkan kemampuan tertentu. Jadi hanya tampilannya saja yang berubah." Jelas Darma.


"Aku mengerti guru." Ujar Darma.


Darma dan guru Rama melanjutkan perjalanan. setelah 5 menit berjalan, mereka bertemu dengan sebuah beast ular besar yang sedang melingkar diatas batu.


"Darma, inilah beast yang cocok untukmu. Sebuah ular Bara dengan panjang sekitar 20 meter, Beast ular berelement api. jika melihat panjang tubuhnya, dia sudah hidup selama 200 tahun, sangat dekat dengan usia maksimal yang bisa kamu hisap." Jelas guru Rama.


"Apa guru yakin?, Beast ini terlihat berbahaya." Tanya Darma.


"Tenang saja, Ular bara adalah Beast yang pasif. Kamu seranglah dengan serangan mematikan di bagian kepalanya." Suruh guru Rama.


"Baik guru." Sahut Rana yang mendekat ke ular tersebut dengan hati-hati.


ketika Darma sedikit lebih dekat, ular tersebut bangun dan muncul jambul berapi ditubuhnya.


"Sialan, itu adalah ular jambul api, dia menyamar ke area ini untuk berburu. Darma menjauhlah." Teriak Guru Rama.


Ular jambul api tersebut menyerang Darma dengan semburan api dari mulutnya. Beruntung, Darma masih sempat melompat mundur.


"Guru, bagaimana ini?." Tanya Darma yang berdiri samping guru Rama.


"Teknik pertama, auman singa." Seru guru Rama yang menyerang ke arah ular jambul api tersebut.Ular jambul api itu terhenti karena serangan guru Rama.


"Darma, ayo lari. Ular jambul api ini ukuran asalnya lebih kecil dari ular bara, umurnya sekarang sekitar 300 tahun. Kita berdua bukan lawannya." Jelas guru Rama sambil berlari bersama Darma.


Ular jambul api segera sadar dari serangan guru Rama, dan menyerang Darma dengan sabetan ekornya. Darma terjatuh, Guru Darma segera berbalik badan.


"Darma, aku akan menahannya disini, kamu segera larilah. Teknik kedua, tembakan surai jarum." Seru Guru Rama sambil menembakkan rambut-rambutnya yang berubah menjadi keras dan tajam.


Sayang sekali, serangan guru Rama tidak berefek pada kulit dari ular jambul api. Ular jambul api segera menyerang guru Rama dengan semburan api miliknya.


"Teknik ketiga, perisai surai perak." Seru guru Rama yang membuat rambutnya memanjang dan menutupi seluruh tubuhnya.


Guru Rama berhasil menahan serangan dari ular jambul api tersebut. Tetapi, ular jambul api terus menyemburkan apinya tanpa henti dan sedikit demi sedikit mulai menembus rambut guru Rama.


"Sial, teknikku takkan bertahan lama." Gumam guru Rama.


Benar saja, serangan ular jambul api akhirnya berhasil memecahkan pertahanan rambut guru Rama.Guru Rama terpental dan bajunya terbakar, tubuh bagian atasnya dipenuhi luka bakar dan keluar asap berwarna ungu.


Ketika ular jambul api hendak menerkam gurh Rama, Darma melompat dari atas pohon dan menikam ular jambul api dengan pedang tepat dibagian kepalanya. Ular jambuk api pun tewas seketika, dan muncul sebuah lingkaran berwarna kuning. Setelah memastikan bahwa ular tersebut mati, Darma segera berlari kearah guru Rama yang terkapar lemas.


"Guru!." teriak Darma sambil berlari kearah guru Rama.


"Jangan mendekat!." Teriak guru Rama.


"Kenapa guru?." Tanya Darma.


"Serangan ular jambul api mengandung racun yang mematikan. Jika kamu bersentuhan denganku, kamu akan teracuni juga." Sahut guru Rama.


"Terus, aku harus bagaimana guru?. Apa aku pergis saja dan meminta bantuan?." Tanya Darma.


"Hahaha, percuma saja, tidak ada penawar buat racun ular jambul api. Yang bisa menghilangkannya hanyalah api dari ular jambuk api. Jadi temanilah aku sebelum kematianku datang menjemput." Sahut guru Rama.


Darma terkejut dan panik dengan perkataan guru Rama.