
Serangan petir hitam dari jauh mengarah ke mereka berempat yang membuat peri itu mengeluarkan sebuah batu yang terlihat ukurannya sama dengan batu kematian tapi yang ini berwarna sangat putih dan terang sekali. Petir hitam itu langsung memantul kembali ke arah sang pelempar sehingga tidak jadi mengenai mereka.
"Apa itu tadi!?" Tanya North yang mulai panik akan apa yang dia lihat barusan.
"Itu Demon yang sudah menyadari keberadaan batu kehidupan!" Bukan peri tadi yang menjawab melainkan Els yang sudah bersiap mengeluarkan kekuatannya.
Demon menyadari hal itu dan kini dia sedang menahan sakit akibat kekuatan petir hitam yang dia arahkan pada para penyihir dan peri itu malah memantul padanya dan mengenai dia. Luka cukup lebar di bagian perut kirinya dan juga tubuhnya terasa seakan diserap oleh batu kematian itu.
"Sial! A-aku harus bertahan agar tidak diserap oleh batu ini" Gumamnya dengan mencoba kembali untuk mengendalikan kekuatan batu kematian yang mulai tidak stabil karena keberadaan batu kehidupan di sekitarnya.
Demon mulai kesulitan dan menengok ke belakang untuk menjalankan rencananya, "dimana wanita itu!?" Gumamnya dengan amarah yang sangat terlihat pada wajahnya karena tidak menyadari keberadaan Violence di sana.
"Kau akan kalah Demon!" Ujar pangeran peri itu saat melihat Demon yang sudah mulai kewalahan dalam mengendalikan energi batu kematian yang semakin menyerap tubuhnya.
Demon menatap nyalang ke arah pangeran, "dengan kekuatan batu kehidupan dan batu kematian maka aku akan dapat menguasai seluruh alam semesta ini!!!" Teriaknya dengan penuh amarah.
Semua pasukan Demon juga telah lenyap dan hanya tersisa sedikit saja yang masih bertahan dan mereka lebih memilih untuk kabur.
Demon mengarahkan batu itu ke perutnya dan mencoba bertahan pada kekuatan besar yang akan dia tampung ketika berhasil mengendalikan batu itu. Tubuhnya mulai membesar dan matanya menggelap semua, tubuhnya sedikit retak dengan darah yang terlihat hitam keungu-unguan.
"LUCAS!!!" Teriak Els dengan mendekat ke arah pangeran peri yang ternyata bernama Lucas itu.
Demon menyeringai dan tertawa sumbang ketika tubuhnya semakin membesar seperti raksasa, dia berhasil mengendalikan kekuatan batu kematian dan kini saatnya untuk dia mengambil kekuatan batu kehidupan agar selanjutnya semakin mudah untuknya menguasai alam semesta.
Di tempat dimana Violence kini berada yaitu di balik batu yang cukup besar sehingga dirinya tidak nampak terlihat oleh Demon.
"Dia terlihat sangat menyeramkan saat ini!" Ujarnya entah pada siapa tapi baginya dia bicara pada Zinox.
Zinox terkekeh, "batu itu tidak seberapa kuat jika dibandingkan makhluk-makhluk yang ada diluar alam semesta ini" Ujarnya menjawab perkataan Violence barusan.
"Kenapa dia terlalu terobsesi pada kedua batu itu?" Tanya Violence yang kini melihat Demon menghancurkan daratan sekitarnya.
"Entahlah aku juga tidak tahu" Balas Zinox yang kini mulai tertidur kembali.
Violence berhasil melarikan dirinya tanpa diketahui oleh Demon karena dia telah menggunakan kekuatan yang baru dia ketahui ada pada dirinya. Violence menggunakan kekuatan Zinox untuk memanipulasi pikiran dan ternyata itu berhasil sehingga membuat seolah-olah dirinya masih ada di sana padahal telah kabur. Sebaliknya pada Demon dia tidak akan melihat siapapun di sekitarnya ketika Violence telah melepaskan kekuatan manipulasi pikirannya.
Kembali pada Demon yang kini sangat murka dan mencoba mengejar Lucas untuk merebut batu kehidupan yang dia pegang.
Para peri yang melihat pangerannya akan diserang kini mendekat dan mencoba menyerang tubuh raksasa Demon. Petir dan panah menyerangnya tapi tidak ada tanda-tanda terluka pada tubuh Demon karena keberadaan batu kematian. Demon mengeluarkan api ungu dari mulutnya yang dia arahkan ke para peri sehingga membuat mereka berlarian dan beberapa terkena api itu.