
Di aula Desa Mana, berkumpul beberapa anak berumur 8 tahun yang diteman oleh orang tua masing-masing.
"Hei, Lihat!. kepala desa datang bersama Darma."
Darma dan kepala desa berjalan ke depan kumpulan orang tua dan anak tadi.
"Eh?, pengujinya belum sampai ya?." Tanya kepala desa sambil mencari di sekitar.
"Belum, pak kades." Sahut orang-orang.
tiba-tiba angin berhembus, seperti kilat, seseorang tiba-tiba berada di samping kepala desa.
"Selamat datang tuan penguji!." Sambut kepala desa.
"Heh!, cepatlah!. Aku yang seorang Spirit mahasiswa tak bisa membuang-buang waktu di desa kumuh ini." Seru Penguji tersebut dengan sombongnya.
"Sombong sekali orang ini!, hanya Spirit mahasiswa saja!." Maki kepala desa dalam hati dengan wajah kesal.
"Ada apa pak tua!." Tanya penguji.
"Hahaha, tidak ada tuan muda. mari-mari kita mulai." Sahut kepala desa.
"April! Maju kesini." Panggil kepala desa.
seorang anak keluar dari kerumunan tersebut.
"Silahkan tuan penguji." Ujar kepala desa.
dengan wajah sombong, sang penguji meletakkan tangan di punggung anak tersebut. Cahaya biru muncul dari tangan penguji sombong tersebut dan masuk kedalam tubuh anak tadi.
"Buka telapak tanganmu, bocah bau!." Suruh penguji sombong tersebut.
Anak tadi membuka tangan miliknya, dari telapak tangannya keluar cahaya biru yang menyala-nyala. Kepala desa yang melihat hal tersebut hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hahhh, kenapa para atasan harus repot-repot mengurusi desa kumuh begini sih!." Hina penguji.
Wajah seluruh orang disana terlihat kesal mendengar perkataan penguji tadi.
"Hahaha, maaf merepotkan tuan penguji. selanjutnya Ani!." Seru kepala desa.
Satu persatu anak-anak mulai diuji, hasilnya gagal semua.
"Hah, buang-buang waktu saja. Lebih baik aku pulang ke kota Ranja sekarang." Seru penguji dengan sombongnya.
"Tuan penguji, masih ada satu anak lagi yang belum." Cegah kepala desa, yang mencegah penguji pergi.
"Astaga!, cepatlah sini!. hasilnya pasti sama saja!." Teriak Penguji sombong tersebut.
"Darma, kesini." Panggil kepala desa.
Darma segera maju,seperti sebelumnya, penguji meletakkan tanganya ke punggung Darma,Cahaya Biru memasuki punggung Darma.
"Rasanya hangat ini memasuki tubuh melalui pungggungku lalu mengalir dan berkumpul ditelapak tanganku." Ujar Darma dalam benaknya.
"Buka telapak tanganmu,bocah bau." Seru Penguji tersebut.
Darma membuka telapak tangan kanannya, muncul cahaya biru yang membentuk seekor rubah. Semua orang sangat takjub dengan apa yang dilihatnya, semua orang terdiam dengan mulut ternganga.
"Darma!. Selamat Darma!. Kamu berhasil!." Ujar kepala desa dengan senangnya memeluk erat Darma.
"Heh!, Seperti mencari jarum di tumpukkan jerami." Seru Penguji dengan wajah jaim.
"Jarum tetaplah Jarum, emas tetaplah emas, walaupun ditemukannya di tempat sampah." Bela kepala desa.
"Heh!, terserahlah!." Sahut penguji yang segera pergi dengan kesal.
"Selamat Darma!."
"Kalo sudah hebat jangan lupa sama kita ya!."
Seluruh orang disana mendekat kearah Darma dan mengangkatnya lalu mengaraknya keliling desa.
"Semua Warga desa!, hentikan perkerjaan kalian. Anak kita Darma akan menjadi Spirit Master, malam ini kita akan makan bersama untuk merayakannya." Seru kepala desa dengan wajah gembira dan dihiasi dengan air mata kegembiraan.
Malam harinya diadakan makan bersama di aula desa. Seluruh warga desa tanpa terkecuali datang dengan wajah gembira dan menyantap makanan sambil bercanda ria bersama.
"Oh, iya Darma. Kamu dah ada rencana mau masuk akademi mana kedepannya?." Tanya Pak Inu.
"Eh?, apa harus ke akademi pak?."
"Iyalah, sayang sekali bakatmu kalo ngak dikembangkan." Ujar Pak Inu.
"lho, kalo masalah uang kamu tenang saja Dar. Bapak bisa bantu kok." Ucap Pak Inu.
"Terima kasih pak Inu." Sahut Damar.
"Saya juga."
"Saya juga."
Sahut seluruh warga desa.
"Terima kasih semuanya. Saya tak akan melupakan kebaikan kalian sampai akhir hidupku." Seru Darma.
"Aih, pada ribu-ribut apa ini. Darma kan, akan menjadi ikon desa Mana, Jadi tenang saja kalo masalah uang pendidikannya, akan ditanggung dengan uang kas desa. Setuju semuanya?." Tanya kepala desa.
"SETUJU!." Seru seluruh orang dengan serempak.
"Nah, masalah sudah terselesaikan. Sebenarnya tadi sore kamu sudah kudaftarkan di akademi Bintang terbang di kota Ranja. Jadi besok kita sudah berangkat kesana Dar." Jelas kepala desa.
"Iya, terima kasih Pak Kades." Sahut Darma
Makan malam pun dilanjutkan. Tidak beberapa lama, anak-anak pulang bersama para ibu-ibu, begitu pula dengan Darma yang pulang bersama istri kepala desa.
tidak berselang lama setelah anak-anak pulang, para pria melanjutkan pesta dengan minum-minum hingga larut malam.
Setelah sampai rumah, Darma segera masuk dan menutup pintu dan jendela yang ada, lalu duduk diatas ranjang miliknya.
"Ayah, Ibu, anakmu telah berhasil menjadi Spirit Master. Tetapi, saat penguji tadi membangkitkan Spiritku, bukan hanya tangan kananku saja yang terasa hangat, tapi tangan kiriku merasakan hal yang sama." Gumam Darma sambil melihat kedua telapak tangannya.
"Coba kuingat perasaan tadi." Sambungnya, Darma segera menutup matanya dan mengingat-ingat perasaan dan sensasi tadi.
Cahaya biru berbentuk rubah muncul ditangan kanannya, cahaya biru perlahan membentuk sebuah pedang dengan ukiran naga muncul ditangan kiri Darma.
"Eh?, kok ada dua?." Cetus Darma yang terkaget setelah membuka matanya.
"Ada apa ini?. Satu berbentuk rubah, satu lagi berpentuk pedang yang sangat indah!. Bukannya setiap orang hanya punya satu Spirit ya?. kenapa aku ada dua?." Sambung Darma.
"Surat dari ayah dan ibu!." Seru Darma yang terburu-buru mengambil kotak dan membuka kembali surat dari kedua orang tuanya.
"Teteskan darah ke cincin putih." Bacar Darma.
Darma mengambil cincin putih peninggalan orang tuanya, dan menusukkan jarum di ujung telunjuknya lalu meneteskannya ke cincin putih tersebut.Tiba-tiba, Darma tersedot masuk ke dalam cincin tersebut.
"Eh?, ini didalam cincin putih tadi?." Gumam Darma.
Damar melihat sekitar, terlihat pemandangan seperti langit tanpa bintang di malam hari. Tidak jauh didepan Darma, terlihat sebuah gapura bertulis "Untuk Darma."
"Ada namaku disini?, sepertinya ini dari orang tuaku." Ujar Darma setelah melihat gapura tersebut.
Darma melangkah maju melewati gapura tersebut, hingga bertemu dengan sebuah gedung bertulis "Perpustakaan.". Darma tanpa ragu memasuki gedung tadi, terlihat didalam sana penuh dengan buku yang berjejer rapi.
"Banyak sekali buku disini. Pasti ada petunjuk dengan kondisiku." Seru Darma yang mulai mencari disetiap rak buku.
"Ah, ini dia. Buku tentang kebangkitan Spirit!." Ujar Darma sambil mengambil sebuah buku tebal bertuliskan "Kebangkitan Spirit".
Darma membaca lembar demi lembar, kata demi kata dari buku tersebut. Tak terasa sudah hampir 3 jam Darma membaca buku itu.
"Hoamm, Akhirnya ketemu. Ternyata kondisiku disebut Double Spirit atau Spirit Ganda, yang merupakan bakat alami maksimal dari seorang manusia yang biasanya salah satu dari dua bentuk Spiritnya adalah Spirit yang kuat. Baiklah, karena semua orang terlihat biasa saja dengan Spirit rubah milikku, kemungkinan besar Spirit rubahku adalah Spirit rubah biasa. Selanjutnya mencari info tentang spirit keduaku." Ujar Darma yang segera mencari buku di rak buku tadi.
Tak lama kemudian, Darma menemukan buku bertulis "Spirit Senjata". Darma segera duduk dan membaca buku tersebut, selama 3 jam sampai akhirnya menemukan Bentuk Spirit yang mirip.
"Hmm, sepertinya yang ini." Ujar Darma.
Darma berkonsentrasi untuk memunculkan bentuk spirit ditangan kanannya.
"Hmm, sepetinya jika aku tak membuka telapak tangan, Spirit tak akan muncul. Bagus!."
"Eh?, benar ternyata. Spirit pedangku adalah Spirit Legendaris yang sangat kuat bernama Pedang Raja Naga. Disini tertulis bahwa Spirit Pedang Raja Naga hanya akan muncul pada orang dengan bentuk spirit kembar sepertiku, dan juga Spirit ini tak perlu dilatih, karena pasti bisa beradaptasi dengan pasangan Spiritnya. Sungguh berkah tersembunyi, aku harus menyembunyikannya guna menghindari masalah yang tidak perlu." Seru Darma.
"Semua rasa ingin tahuku sudah terpenuhi. Tapi bagaimana caraku untuk keluar dari sini?. Saat ini pasti sudah pagi, sebentar lagi Pak kades akan kerumah, aku harus keluar dari sini." Keluh Darma.
Ketika Darma berpikir untuk keluar, tiba-tiba Darma sudah berada diluar dan segera membuka pintu depannya.
"Eh?, lilin ini kok masih menyala?. Apa jangan-jangan masih malam?." Gumam Darma yang segera keluar rumahnya.
Benar saja, waktu didalam dimensi cincin putih dengan waktu luar berbeda. Langit yang harusnya terang masib gelap gulita.
"Hmm, ternyata begitu. Walau tak tahu perbedaan waktunya tapi ini sudah cukup untuk malam ini, lebih baik aku langsung tidur." Ujar Darma.