
Di pagi hari, ketika Alfred masih tertidur.
Suara ketukan pintu yang tidak terlalu keras terdengar, berkat kemampuan indranya yang meningkat karena Grade up, Alferd benar-benar terganggu.
"Sial, sebenarnya siapa yang memiliki urusan denganku di pagi-pagi buta seperti ini?!" Alfred menggerutu kesal.
Namun karena ketukan itu tidak kunjung berhenti, dia akhirnya menyerah dan pergi untuk memeriksa siapa orang itu.
Dan ketika pintu dibuka-
Seorang yang paling ingin dia hindari justru muncul di depannya.
"Pagi, Alfred!" sapa remaja perempuan berambut perak dengan ekspresi ceria yang bernama Shaletta Nieven.
Di pupil biru safirnya terdapat jejak semangat dan keantusiasan tanpa akhir.
Bahkan sebelum pembicaraan itu berlangsung satu menit, Alfred merasa mentalnya dikuras hingga ke titik paling ekstrim dan ingin beristirahat lagi selama beberapa jam.
"... Aku merasa sangat lelah, jadi aku akan kembali tidur." ucap Alfred memberi alasan lalu beranjak dari tempatnya.
Namun jari-jari ramping Shaletta segera mencengkram lengan Alfred.
"Tidak baik untuk kembali tidur lagi! Selain itu, kamu tidak terlihat lelah atau sakit, justru lebih baik dari pada kemarin!" ungkap Shaletta dengan tatapan pantang menyerah.
Alfred tidak bisa berkata-kata, memang kondisinya sekarang jauh lebih baik dari pada kemarin. Selain tidak terbiasa menghabiskan banyak Mana dan melemparkan sihir kuat, juga kemarin dia di seret oleh Shaletta ke berbagai tempat hingga membuat staminanya sekarat.
Itu tidak seintens ketika bertarung menggunakan pedang, namun Shaletta tidak membiarkannya lolos bahkan setelah berjalan-jalan hingga hampir petang.
Alfred secara jujur mengakui, bahwa Shaletta harus dihindari karena lebih menakutkan dari pada King Orc kemarin! Yah, karena dia tidak bisa mengatakannya secara terang-terangan jadi hanya bisa menghindar.
Namun dia hanya bisa pasrah, sebab Merry menyebarkan kabar tentang rumah serta dirinya dan sekarang semua warga tahu tempat Alfred tinggali.
Salah satu alasannya adalah karena rumah yang Alfred huni dikenal paling mewah di desa Avelia.
"Maaf, tap-" ketika Alfred ingin kembali menolak.
Shaletta menatapnya penuh harapan dan terlihat akan menangis kapan saja.
Alfred hanya bisa mengeluh dalam hatinya, dia juga tidak bisa membuat mawar desa Avelia ini menangis atau akan menjadi pusat kebencian para remaja lain.
"... Baiklah, terserah kamu saja!"
Mendengar Alfred menyerah, Shaletta menampakkan ekspresi bahagia yang sanyat menyilaukan.
"Ugh, kenapa begitu banyak matahari di desa ini?" Alfred bergumam lirih mengabaikan Shaletta yang mulai melompat-lompat kegirangan.
Mengalihkan pandangan ke rumahnya, Alfred segera menutup pintu dan menguncinya.
"Apa kamu tidak mandi dahulu? Bukannya rumah ini memiliki sumur pribadi?" Shaletta bertanya.
"Ya, memang. Tapi aku tidak memerlukannya," balas Alferd dengan tenang lalu memunculkan tongkat Magic Staff of Divine dari balik badannya.
"... Jadi kamu tipe yang seperti itu ...." Shaletta berkata dengan masam.
Kemudian dia terdiam ketika Alfred mengucapkan kata, "Purification."
Tubuh Alfred disinari cahaya hijau terang, setelah beberapa saat akhirnya menghilang.
"Sudah selesai, mari langsung berburu."
Alfred berkata dengan tak acuh lalu berjalan meninggalkan Shaletta yang bergumam, "... Solusi yang sangat praktis." sebelum menyusulnya.
....
Berbanding berbalik dari kemarin, saat ini Alfred yang memimpin saat berburu dan menuju hutan di timur.
Karena berdasarkan pengamatan Alfred, hutan utara dan barat hanya terdapat slime serta beberapa monster lemah berpangkat F.
Bahkan tanpanya yang maju, semua monster sudah Shaletta bantai. Jadi, waktu setelah makan siang hingga hampir petang kemarin, Alfred hanya menontonnya bertarung.
Mengingat kejadian itu, Alfred kagum dengan dirinya yang bisa bertahan hingga akhir tanpa mengeluh.
Saat terus berjalan menyusuri hutan cukup jauh dari desa, keduanya melihat semak-semak bergerak tidak wajar.
Shaletta maupun Alfred segera mempersiapkan diri untuk pertempuran.
Kemudian, di dalam semak itu muncul beberapa goblin dengan pedang berkarat.
[Misi baru di temukan]
[Kalahkan 6 goblin terdekat]
[Reward : Menggandakan exp yang di dapat sebesar 5x lipat]
Alfred bersiap untuk memberikan bantuan kepada Shaletta ketika bertempur dan ketika ada kesempatan maka dia akan melemparkan serangan jarak jauh.
Namun orang yang akan dibantu, memiliki ekspresi terkejut sekaligus rumit.
"... Kenapa goblin ada disini?!"
"Huh?"
Alfred yang selalu melawan goblin di hutan tersebut jelas terkejut. Dia adalah orang baru, wajar jika tidak tahu.
"Bukankah wajar jika goblin mudah ditemui?" Alfred bertanya.
Kemudian dia menyerang goblin yang mendekat.
"Paralyze."
Gelombang petir langsung menyerbu ke depan dan goblin yang terkena segera ambruk ke tanah.
"Ya, goblin memang mudah ditemui. Namun khusus daerah tertentu, seperti desa Avelia, goblin sangat jarang muncul. Pada dasarnya habitat mereka berada di dekat gunung Westra sebelah utara." jelas Shaletta sembari melihat Alfred membunuh satu demi satu goblin dengan menusukkan ujung tongkatnya.
"... Daerah dekat sini khusus ditempati oleh hewan lemah dan monster slime saja. Itu juga alasan kenapa barrier buatan penyihir agung tetap ada selama puluhan tahun."
Ketika Shaletta selesai menjelaskan, Alfred sudah mengalahkan sebagian besarnya dan tersisah satu yang mulai berlari karena telah lepas dari efek 'stun'.
"Fire Lance."
Tombak api terbentuk dan segera melesat lalu menembus dada goblin itu tanpa ampun.
Bam!
Kemudian meledak yang membuat tubuh goblin itu berserakan, berkat itu juga inti sihirnya mudah ditemukan.
"... Maaf, aku tidak berpikir bahwa Fire Lance bisa meledak." Alfred masam ketika menjelaskan.
Meski tahu bahwa wanita di dunia itu lebih kuat, namun Alfred belum mengatahui apakah Shaletta bisa tahan melihat daging dicincang seperti itu.
Alfred sendiri di awal-awal merasa tidak biasa namun semakin lama dia menjadi terbiasa. Meski dibilang semakin lama, dia masih baru 3 hari di dunia tersebut.
Caranya beradaptasi cukup tidak normal, namun itu mungkin ada hubungannya dengan skill serta kemampuan lain yang belum diketahui.
"Ti-tidak masalah, dan juga bisakah kita melanjutkan? Aku pikir tidak hanya goblin saja yang mendekat ke desa Avelia," jelas Shaletta dengan ekspresi rumit.
Dia menahan dirinya agar tidak tampak menyedihkan di depan Alfred yang masih baru di desa Avelia. Jika tidak, kesan baiknya akan hancur.
"Tentu saja. Ngomong-ngomong, tempat tinggal Orc apakah lebih jauh ke dalam dari pada Goblin?" tanya Alfred.
Dia tidak berniat menakuti Shaletta hanya karena pernah melawan Orc. Namun Alfred ingin Gradenya naik lebih cepat jika dia melakukan perburuan Orc.
"Tentu saja! Tunggu ..., apa kamu jangan-jangan pernah bertemu mereka?" Shaletta menjadi gemetar dengan jejak rasa takut di matanya.
"Tentu saja tidak, mungkin," balas Alfred dengan tidak yakin.
Orc yang ditemui tidak normal. Dia tidak bisa mengatakan pernah bertemu mereka, terlebih Orc yang mengendalikan goblin itu sudah agak di luar nalar.
"Be-begitu, syukurlah," ujar Shaletta dengan lega, ekspresinya mulai mengendur lagi.
Diam-diam Alfred mengalihkan pandangannya, sembari berpikir harus cepat-cepat melakukan pembantai Orc agar tidak ada yang melakukan invasi ke daerah tempat expnya.
"Daerah Orc ada di dekat gunung Westra tepat bagian barat. Jalan satu-satunya adalah melewati hutan ini, namun akan memakan waktu lama karena jaraknya."
Mendengar penjelasan Shaletta, Alfred berharap Orc itu juga mendekat. Akan merepotkan jika harus bermalaman di hutan hanya untuk berburu beberapa Orc.
"Mari pergi lebih dalam, aku harus melaporkan kejadian ini segera setelah sedikit menjelajah ke kepala desa." Shaletta berkata, lalu berjalan menyusuri hutan.
Alfred bermasalah jika Orc dilihat Shaletta, dia berharap tidak akan bertemu mereka.
Ketika berpikir seperti itu, beberapa Goblin lain muncul dari semak-semak mungkin karena mendengar teriakan sekutunya.
Shaletta segera menarik pedangnya dari sarung, namun sebelum menyerang.
Gelombang petir telah disebarkan dan goblin-goblin itu telah ambruk ke tanah.
"...."
"Fire Arrow."
Sementara Shaletta yang diam dengan masam, Alfred menembakkan beberapa panah api ke seluruh goblin.
Panah api itu segera membakar tubuh goblin yang terkena efek 'stun'.
Dan diakhiri dengan ledakan kecil, Bam!
[Misi telah selesai]
[Mendapatkan 60 Exp]
"Mau kembali ke desa?" Alfred bertanya.
Shaletta segera menggelengkan kepalanya, "Informasinya masih kurang, aku ingin melihat monster apa saja yang mengalami perubahan habitat."
Mendengar penyataan pantang menyerah seperti itu, membuat Alfred bermasalah. Dia berharap Shaletta tidak berbuat nekad dan melihat jauh lebih ke dalam dan berakhir melihat sekumpulan Orc.
Rencananya untuk membuat ladang exp akan kacau, kemungkinan terburuknya dia harus membantai diberbagai tempat orc berada dalam beberapa jam.
Apakah itu mungkin? Tentu saja tidak. Maka dari itu Alfred harus terus memantau jarak sarang Orc agar tidak ditemukan oleh Shaletta.
"Kuharap kemungkinan terburuk tidak akan terjadi ..."
...Bersambung...