Sent To Another World With Cheat Ability

Sent To Another World With Cheat Ability
Chapter 7 : Teman Hyperaktif



[Status]


[Nama : Alfred Kairo]


[Grade : D (1,555/18,225)] (+ Grade B)


[Race : Human]


[Job : Human of Judgement]


[Title : Special Human, Judge, Friend of God]


[Skill : Sword of God, Magic Staff of Divine, Divine Protection, Mana Mastery (S), Magic Creation (S), Dispel (S), Demi-god Form (S)]


[Passive Skill : Multiplier Exp (S), Limit Breaker (S), Super Regeneration (S), Super Mana Regeneration (S)]


[Unique Skill : System (Unknow)]


Melihat statusnya, Alfred mengerang tidak puas.


Setelah mengambil Inti Sihir Orc dan kembali ke desa, Alfred bergegas menuju tempat makan karena cukup kelaparan.


Sesaat setelah selesai makan, Alfred melihat statusnya. Memang Grade dia telah naik, namun entah kenapa exp yang di butuhkan naik beberapa kali lipat.


Hal tersebut membuatnya kesal, itu masih di Grade rendah namun sudah sangat sulit untuk naik kembali. Apa lagi jika sudah di Grade sangat tinggi?


Tidak diketahui!


Sembari menghembuskan nafas berat, Alfred membuka System Menu.


[System Menu]


[Poin : 1,066,160]


[Shop]


[MISI]


[STORAGE]


"Eh, ada fitur baru?"


[Storage dibutuhkan untuk menampung 100 Exp Potion dan 10,000 Poin di potong untuk membelinya.]


Mendengar itu, Alfred mengangguk paham. Dia memang belum menjelajah bagian [Shop], jadi tidak tahu keberadaan [Storage].


Dia bersyukur memiliki System yang bergerak cepat untuk mengatasi masalah agar Alfred tidak kehilangan 100 Exp Potion.


Sekali lagi, rasa kekagumannya pada System meningkat.


Alfred segera membuka [STORAGE] dan menekan Exp Potion untuk melihat deskripsi.


[Exp Potion (100x)]


[Description : Potion yang dibuat dari Alkemis terkenal dan sekaligus pahlawan di pilih oleh para dewa.]


[Effect : meningkatkan 1,000 exp]


[Pick up #XXXX# Cancel]


Melihat itu, Alfred terdiam.


Bukan terkejut saat melihat sesuatu yang luar biasa, tapi lebih tepatnya ke arah bingung.


"Apa ada semacam fitur transaksi atau jual antar dunia?"


[Ya, lebih tepatnya 'System Trade'. Fitur itu terbuka ketika anda melewati batas Grade.]


Ketika mendengar penjelasan itu, ekpresi Alfred masam. Dia masih Grade D, jadi perjalanannya akan panjang untuk melewati batas Grade yang belum dia ketahui ujungnya.


Menurut spekulasi, Alfred menebak batasnya adalah Grade A karena selama ini terus naik dari F ke E dan D.


"Jadi begitu. Karena itu masih lama, mari pikirkan itu nanti!" ujar Alfred dengan tak acuh, dia kemudian memikirkan apakah harus memakai potion itu sekarang atau tidak.


Setelah berpikir beberapa saat, Alfred memutuskan untuk memakainya saat di rumah. Cukup merepotkan jika ada yang bertanya 'potion apa itu'.


Karena sangat bosan jika dia pulang, maka dari itu Alfred lebih memilih untuk duduk disana agak lama sembari memesan makanan lagi.


Yah, karena penjualan kemarin. Alfred benar-benar memiliki banyak uang.


Meski itu hanya beberapa silver koin. Tapi tetap saja banyak, sebab makanan disana tidak lebih hanya beberapa koin tembaga saja.


Sembari menunggu makanannya di antarkan, Alfred melihat-lihat [SHOP] di System Menu.


Disana memang ada [Storage] namun harganya telah naik menjadi 30,000. Alfred berpikir jika dia membelinya, maka Storagenya akan mengalami peningkatan.


Namun karena masih miskin poin, Alfred menolak gagasan itu. Lagi pula dia sangat jarang menggunakan Storage.


Jadi dia akan membelinya lagi ketika sudah agak kaya.


Ketika Alfred terus menerus memainkan jari telunjuk untuk melihat apa saja yang ada di [SHOP].


"Oh, apakah kamu yang bernama Alfred Kairo?"


Mengalihkan pandangan kesamping, Alfred melihat seorang remaja perempuan dengan ekspresi ceria mendekat.


Jika Callistal adalah remaja cantik yang pasif, maka perempuan ini adalah jenis Hyperaktif.


Begitu banyak perbedannya, terlebih bagian aset dan pesonanya.


"Ya, aku Alfred Kairo. Apakah ada yang ingin kamu bicarakan atau perlu sesuatu padaku?" tanya Alferd dengan tenang, sembari diam-diam menutup System menu.


Meski tahu jika tidak ada yang bisa melihat hologram tersebut, namun masih ada kemungkinan jika seseorang bisa melihatnya. Jadi lebih baik untuk waspada.


Terlebih, akan menghalangi Alfred ketika sedang mengobrol. Jadi tidak ada salahnya untuk menghilangkannya.


"Tidak, aku hanya ingin berbicara sebentar dengamu saja!" saat berkata seperti itu, remaja tersebut beranjak pergi dari tempat berdirinya ke tempat duduk di seberang Alfred.


"Aku mendengar banyak hal dari bibi Merry, jika kamu sangat sopan dan baik! Terlebih seperti memiliki pesona bangsawan! Jadi apakah kamu adalah anak dari bangsawan di kerajaan yang jauh?" Perempuan itu bertanya dengan antusias.


"Tentu saja tidak. Jika aku memang anak bangsawan, pastinya tidak akan mau makan disini. Selain karena etika, juga pastinya lebih memilih masakan pelayan." Alferd menjelaskan dengan tenang.


"Uwah, masuk akal! Sungguh, pemikiranmu sangat luas! Seperti telah mengalaminya sendiri!"


Perempuan itu terkejut dengan lucu, bersamaan dengan Alfred yang tertawa kecil akan reaksi tersebut.


"Ah, aku lupa. Perkenalkan namaku Shaletta Lieven. Umurku lima belas tahun. Kamu bisa memanggilku dengan nama depan karena umur kita sama!" jelas Shaletta.


Sementara itu, Alfred hanya tersenyum.


Alfred berkata pada Merry saat dia bertanya berapa umurnya. Meski dia berbohong fakta itu.


Umur asli Alfred satu tahun lebih tua, dia berbohong untuk antisipasi jika ada sihir kutukan yang melibatkan umur.


Meski tidak tahu kebenarannya, namun tidak ada salahnya untuk waspada.


Demi kehidupan normal dan tenang, Alfred berpikir cara seperti ini perlu. Karena dia akan masuk ke sisi dunia yang kejam dan penuh bahaya, setidaknya untuk permulaan harus mengantisipasi pemicunya di masa depan.


"Hei, hei! Tadi aku mendengar suara dentuman keras! Oh, dan juga ada petir yang menyambar-nyambar! Aku pikir itu adalah pertempuran Great Mage dan monster kuat! Menurutmu bagimana?" Shaletta bertanya dengan berbinar-binar lebih dari beberapa saat lalu.


Alfred tidak terkejut karena telah menduga ini. Tidak! Lebih tepatnya, dia telah mendengar pembicaraan ini dari orang yang makan di tempat tersebut.


Jadi saat ditanya setelah mendengar berkali-kali tidak akan memberikan efek apapun.


Sebaliknya, Alfred tersenyum tipis sebelum membalas.


"Entahlah? Jika memang ada Great Mage, kemungkinan memang terdapat monster kuat disana." balas Alfred dengan mengambil cangkir teh dan menyesapnya perlahan sembari bertanya-tanya penyebutan apa lagi itu?


Sementara itu, Shaletta yang fokus pada pemikiran tersebut, membuat ekspresinya menjadi lucu.


"... Monster kuat itu masih hidup atau tidak ya? Kuharap saja sudah mati, kumohon matilah ...!" Shaletta bergumam dengan sedikit ambigu.


Alfred memiliki ekspresi sedikit masam. "Kamu sebanarnya berharap atau mau mengutuk monsternya?"


"Ah, kamu benar! Uh, sekarang aku sudah tidak lagi menjadi gadis normal ..."


"... Kupikir tidak ada hubungannya menjadi gadis normal dengan mengutuk?"


"Jika seorang gadis mengeluarkan kata kutukan, maka dia akan menjadi gadis kasar ..."


"Yah, kupikir selama kamu tidak sering melakukannya dan berkata kasar, maka tidak akan terjadi."


Ketika Shaletta membalas dengan ekspresi murung dan sedih, Alfred hanya bisa menatapnya masam sembari membantah pemikirannya.


'Apakah desa ini benar-benar terpencil hingga warganya tidak terpengaruh budaya luar?'


Alfred berpikir jika ini agak aneh. Namun jika fakta bahwa Avelia itu desa terpencil, maka itu masuk akal.


"... Apa itu benar?" Shaletta bertanya ragu-ragu.


"Ya."


Kemudian ekspresinya menjadi ceria lagi.


Alfred semakin masam, 'Bukankah perubahan emosinya terlalu cepat?'


Setelahnya Shaletta terus berbicara dengan antusias dan Alfred hanya mendengarkan sembari sesekali menjawab pertanyaan.


Kemudian Alfred dan Shaletta makan bersama, karena keduanya memesan di waktu yang hampir sama.


Lalu setelahnya, Shaletta menyeret Alfred untuk menemaninya berburu karena temannya yang biasa sedang jatuh sakit.


Alfred berpikir bahwa Shaletta terlalu aktif hingga temannya yang tidak bisa mengikuti perkembangannya berakhir jatuh sakit.


Jika itu benar, maka dia adalah target selanjutnya.


Sembari mencatat dalam dirinya, Alfred menguatkan tekad untuk menaikkan Gradenya lebih cepat.


Sebab, dia tidak ingin menjadi korban kedua. Jatuh sakit setelah tidak bisa mengikuti perkembangan arus yang Shaletta buat.


...Bersambung...