Sent To Another World With Cheat Ability

Sent To Another World With Cheat Ability
Chapter 19 : Menemui Guru Shaletta



Keesokan harinya, setelah Shaletta pergi menemui gurunya.


Alfred pergi ke tempat yang dimana guru Shaletta berada dengan perasaan berat.


Pasalnya, Shaletta berkata bahwa gurunya ingin menilai Alfred dengan matanya sendiri.


Dengan kata lain, kesempatannya diterima sangat kecil. Jika guru Shaletta melihat potensinya sebagai pendekar pedang maka Alfred akan ditolak.


Selain hanya memiliki sedikit pengalaman berpedang, Alfred pasti akan memberikan kesan mengecewakan bahkan sebelum menilai.


Jika itu adalah potensi lain, maka Alfred masih bisa berjuang. Namun mengingat guru Shaletta adalah pendekar pedang, maka tebakan keduanya sedikit aneh.


Tetapi masih patut diperjuangkan. Jadi Alfred terus menerus menggumamkan mantra atau lebih tepatnya kata semangat. Dari rumahnya, dia berjalan dengan lesuh layaknya mayat hidup.


"Alfred, sini!"


Suara Shaletta terdengar, Alfred mengangkat pandangan dan mencari keberadaannya.


Shaletta terkejut, dia segera menemui Alfred langsung.


"A-ada apa? Kamu terlihat cukup pucat, Alfred!" ungkap Shaletta dengan khawatir.


Alfred segera membantahnya setelah berdehem.


"Aku hanya gugup, secara teori aku sepenuhnya baik-baik saja. Istirahatku cukup baik jadi tidak akan mendapatkan masalah."


Shaletta nampaknya tidak puas, namun segera membuang nafas pasrah. "Yah, jika itu yang kamu katakan maka tidak ada masalah. Ayo, pergi. Guru menunggumu di dalam."


Kemudian keduanya berjalan memasuki halaman yang cukup luas. Disekitar terdapat beberapa orang berlatih mengayunkan pedang sementar diawasi oleh senior mereka.


Ketika dalam perjalanan, Alfred bertanya tentang beberapa hal pada Shaletta.


Pertama-tama orang yang berlatih mengayunkan pedang. Mereka hanya menjadi murid sementara para senior sebelum menjadi murid resmi.


Alfred awalnya merasa kemungkinannya diterima hilang, namun Shaletta segera menambahi penjelasan lain.


Persyaratannya bukan hanya untuk menjadi cukup ahli dalam berpedang namun juga potensi lain. Jika Alfred memenuhi beberapa potensi, dia akan diterima tanpa harus melalui proses lama.


Penjelasan itu belum berakhir, Shaletta menambahi bahwa akan ada suatu ujian dan penilian tertentu, jadi Alfred harus siap siaga.


Mendengar penjelasan itu sudah membuat Alfred masam.


Dia berpikir kemungkinan akan ada pertarungan satu lawan satu untuk melihat potensi dirinya. Jadi Alfred berharap itu tidak berlangsung lama.


Namun demi mendapatkan kehidupan yang baik, Alfred harus sedikit berkorban disaat seperti ini.


Lalu sebuah suara menarik perhatian keduanya, disana terdapat lelaki tua dengan janggut putih yang panjang tertawa ringan.


"Kau membawa orang yang menarik, Shaletta," ucap pria itu sembari menatap Alfred.


"Ah, guru. Yah, mungkin seperti itu," jelas Shaletta dengan tidak yakin.


Kemudian Alfred sedikit memberi salam formal sebelum berbincang-bincang sebentar.


Lalu guru, orang tua yang bernama Howard, mengajak keduanya masuk.


Itu adalah rumah biasa yang sangat tradisional.


Setelah berjalan cukup lama menyusuri koridor, ketiganya memasuki sebuah ruangan.


"Anak muda, apa kau yakin untuk berlatih dibawa bimbinganku? Kukatakan saja bahwa tidak ada cara lembut."


Howard memperingati Alfred dengan serius.


Kemudian dijawab dengan anggukan.


"Tentu saja. Aku membutuhkan teknik berpedang dan apapun harus kuusahakan. Aku juga tidak berniat mendapatkan perlakuan lembut, karena hanya akan membuatku lengah," jelas Alfred dengan serius, dia menatap langsung mata Howard tanpa bergeming.


Dia memang tidak suka terkena luka, bagaimanapun Alfred bukan masokis. Tapi untuk mencapai tujuannya, rintangan itu bukanlah masalah.


Alfred memiliki skill, Regenerasi Super, yang menyembuhkan luka serta rasa sakitnya dengan cepat.


Dia hanya perlu menahan rasa sakit sesaat karena akan menghilang beberapa menit kemudian. Alfred tahu karena pengalamannya saat berburu memberinya banyak informasi.


"Aku senang mendengar tekadmu itu, tapi apa kau yakin tidak akan berhenti sebelum kuanggap lulus?"


"Aku tidak berniat berhenti ditengah jalan." kemudian berhenti sebelum melanjutkan, "Hanya bertanya, apakah akan memakan waktu lama sebelum bisa lulus?"


Mendengar itu, Howard menyipitkan matanya seakan meragukan tekad Alfred.


Itu tidak salah, tekad Alfred bergantung pada seberapa lama waktu proses sebelum lulus itu terjadi. Dia tidak akan begitu bodoh untuk berlatih tanpa henti hingga berbulan-bulan berlalu.


Jika itu terjadi, bukan hanya mendapatkan masalah karena belum sempat menaikkan Gradenya untuk The Five Chaos of World-Eater yang akan keluar. Kemungkinan Alfred akan ditampar bahkan diremas hingga hancur oleh Earnest jika gagal.


Kemungkinan terburuknya mendapatkan kutukan kesialan berturut-turut di reinkarnasinya.


"Seberapa lama waktu yang dibutuhkan tergantung pada orangnya. Itu akan cepat jika tekadnya kuat, dan lama ketika lemah serta bermalas-malasan."


Mendengar balasan itu, Alfred memiliki secera harapan. Dia hanya harus berlatih sangat keras hingga tidak memperdulikan tubuhnya.


Jika suatu hari nanti Alfred tiba-tiba tumbang karena terlalu banyak berlatih. Dia hanya perlu merampalkan 'purification' serta 'recovery' dan kemudian tubuhnya kembali seperti semula.


Itu hanyalah efek negatif. Alfred cukup ahli dalam menangangi status seperti itu, jadi bukan masalah besar.


Dengan pemikiran tersebut, tanpa sadar Alfred mendengus percaya diri dan memperlihatkan ekspresi semangat.


Karena tidak ada respon, Howard menganggap sikap diam Alfred sebagai persetujuan.


"Kalau begitu akan kumulai uji cobanya. Aku akan memutuskan untuk menerimamu atau tidak setelah melihat hasilnya. Jadi, berusahalah."


Selepas mengatakan itu, Howard mengambil langkah mundur hingga keluar dari garis yang tersambung ke pilar dan pilar lainnya.


Alfred berada ditengah, dia baru menyadari bahwa garis itu memanjang hingga membentuk segi empat yang tampak seperti melilit semua pilar.


Shaletta juga diam-diam mundur.


Kemudian cahaya mulai muncul dari garis ke pilar dan membentuk wujud kubus setelah Howard mengaktifkan mantra tertentu.


Sebelum pandangan Alfred tertutup cahaya sepenuhnya, dia mendengar suara Howard.


"Ingatlah bahwa kematian yang terjadi bukanlah kenyataan."


Dan kemudian, pandangan Alfred tertutupi cahaya tebal, bersamaan dengan kesadarannya yang memudar.


...Bersambung...