
"Jadi begitu, sangat disayangkan," ujar Alfred dengan tersenyum. "Lain kali jika bertemu, aku akan berterima kasih."
"Kenapa kau justru senang saat prestasimu diambil?!" teriak Elard dengan tidak percaya.
"Yah, kau tahu? Karena ada yang mengambil prestasiku, sekarang aku masih bisa hidup damai. Berkatnya, kau juga bisa bersantai dirumahku. Jika prestasi itu tidak diambil, mungkin sekarang rumahku akan ramai oleh orang seperti milikmu."
Mendengar itu, Elard terdiam.
Dia kesal karena prestasi temannya, Alfred diambil orang. Namun setelah mendengar itu, Elard pikir tidak ada salahnya prestasi temannya diambil.
"Sial! Kau mau mencuci otakku bukan?!"
"Tsk."
"Sudah kuduga!"
"Aku hanya bercanda," balas Alfred dengan tertawa sebelum melanjutkan, "Tapi apa yang kukatakan memiliki kesempatan menjadi kenyataan. Jadi kupikir itu tidak sepenuhnya salah."
"... Yah, kurasa itu benar." Elard membalas dengan tidak yakin.
"Tapi apa kau tidak masalah?" sambung Elard kembali.
"Jika bermasalah, maka aku akan kembali bersamamu sembari membawa material golem itu," jelas Alfred dengan tak acuh. "Lagi pula, kehidupanku tidak bergantung pada popularitas. Jadi akan kusampingkan hal itu."
"Kurasa itulah gaya hidupmu, aku terkesan." Elard berkata dengan senyum lega, sementara itu Alfred mengiyakan menggunakan ekspresi datar.
Dia mulai membaca buku sihir lagi, sementara itu Elard bersandar pada sofa sembari memikirkan hal lain.
"Hei, sampai kapan kau membuatku menunggu?"
"Apa maksudmu?"
"Tentang belajar teknik berpedang."
Ketika mendengar itu, tubuh Alfred membeku.
Dia benar-benar melupakannya. Beberapa minggu ini dia terlalu asik membaca buku sihir, bahkan Alfred telah menyelsaikan semua seri Magic Book of Great Mage.
Lalu melanjutkan dengan Magic Book of Sorcerer. Meski harganya cukup mahal, namun itu setara sebab serangannya menjadi lebih eksplosif.
Setidaknya sihir apinya bisa berubah menjadi jenis Hellfire.
"Kau ... melupakannya?"
"... Yah, karena situasinya menjadi rumit, hal itu jadi tidak terhindarkan," balas Alfred dengan mengalihkan pandangan.
Sementara itu Elard menyeringai penuh antisipasi.
"I-intinya! Ayo segera mulai pelatihannya, setelah beberapa minggu beristirahat entah kenapa aku bosan membaca!"
Sementara itu Alfred memiliki ekspresi masam sebelum menanggapinya, "... Itu benar, aku ingin meminta tolong pada tuan Elard."
"Hm? Bukan memohon pada tuan Elard yang hebat?"
"Ugh ,... aku memohon pada tuan Elard yang hebat."
"Meski tidak ada penyebutan Alfred sang pelupa, tapi tidak masalah. Tuan Elard memaafkan itu."
Elard lalu berjalan menuju pintu keluar, karena pelatihan itu lebih baik dijalankan di tempat luas.
Disisi lain, Alfred berdecak kesal sembari menggumamkan ketidak puasannya.
"Sepertinya aku mendengar sesuatu."
"Itu hanya suara lalat yang lewat."
"Kau benar, tidak ada suara yang seburuk itu," ujar Elard lalu tertawa sinis.
Hanya saja, segera membeku saat melihat ekspresi datar Alfred. Elard membeku bukan karena ekspresi namun tatapannya.
Tatapan itu mengandung perasaan berbahaya.
Sebagai kesatria berpengalaman Elard tahu itu.
Kenyataannya, Alfred memang ingin menguji coba sihir es yang dia pelajari dari Magic Book of Sorcerer pada Elard karena terlalu kesal.
Jika sesuai penjelasan, maka Elard akan membeku seperti saat terkena Cocytus.
Namun jika tidak, Alfred harus memikirkan solusi agar dampaknya sesuai.
"... Sepertinya aku berlebihan, maaf."
"Tidak apa, lakukan saja."
"Tidak, maaf karena berlebihan."
Saat Elard meminta maaf, Alfred hanya membalas dengan senyum datar. Itu membuatnya lebih bergedik ngeri.
Elard pikir, Alfred benar-benar ingin menyerangnya.
"M-mari mulai pelatihannya!" ujar Elard lalu segera keluar dengan cepat seperti kabur dari anjing liar.
Alfred yang tertinggal hanya bisa menggelengkan kepala dengan ekspresi bermasalah sebelum menyusul Elard.
...Bersambung...