
"Hmph! Meski telah membatai boneka raja, tetap saja mudah terbunuh! Tapi, dengan ini tuan akan dimarahi Raja Iblis."
Setelah menebas Alfred, Orc itu berkata dengan rumit. Dia juga seperti memikirkan sesuatu karena meninggalkan pedangnya yang tertancap di tanah.
"Kenapa tidak kau lawan saja Raja Iblisnya?"
"Jangan bodoh! Dia itu Raja Iblis! Kekuatannya jauh melebihi tuanku! Pertarungannya pasti tidak seimbang! Apa lagi bawahannya begitu kuat!" Orc itu menjawab ucapan yang tiba-tiba muncul.
Ketika dia sadar, itu terlambat!
Crat!
Bilah emas berkilau dengan perpaduan garis biru transparan menembus dada Orc tersebut.
"Manusia sialan!"
Dengan cepat dia mengayunkan tangannya, namun Alfred telah menarik pedangnya dan menjauh.
"... Kenapa kau masih hidup?!"
"Yang kau bunuh hanyalah ilusi keberadaanku. Yah, aku sedikit beruntung karena menggunakan itu. Meski agak mengecewakan sebab ilusi kekacauan tidak bisa dipakai." Alfred menjawab dengan nada santai.
Sementara Orc itu menggunakan pedangnya agar tetap berdiri. Darah yang keluar terus mengalir, Alfred tadi juga menyeret pedangnya kesamping membuat lukanya begitu panjang.
"... Tapi kenapa kau tadi seakan-akan berada disini?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Alfred berpikir itu ada benarnya.
Alasannya karena Illusion of Existence, tidak bisa aktif secara otomatis jika pengguna belum berada dikeadaan hidup dan mati.
Aktif secara otomatis akan begitu nyata, karena akan mempengaruhi lingkungan.
Itu seperti halusinasi namun dengan pengaruh luas, mahluk selain pengguna akan terkena efeknya.
Dalam kasus Alfred dia mengaktifkan secara manual jadi tidak berpangaruh pada sekitar.
Karena hal itu juga, dia berhasil mendapatkan sedikit informasi.
"Itu memang aku, hanya saja di detik-detik terakhir aku berpindah tempat. Mungkin seperti itu?" jelas Alfred dengan ekspresi tidak peduli.
"Yah, karena tidak ingin melanjutkan bertarung. Akan kuakhiri sekarang," sambung Alfred.
"Increased Physical Attack. Increase Speed. Increase Agility."
Berbeda dengan untuk sihir, Alfred hanya mengetahui sedikit tentang peningkatan fisik. Selain karena berfokus ke sihir, juga tidak terlalu banyak memiliki teman pengguna pedang.
Swosh!
Tanpa menunggu lawan bersiap, Alfred segera melesat cepat layaknya petir. Dia langsung berada disamping Orc tersebut.
Lalu menebas secara horizontal.
Slash!
Orc itu yang melihat pergerakan Alfred bisa menghindarinya meski pada akhirnya tetap terkena tebasan.
"Manusia! Jangan kau pikir aku tidak bisa melawan!" Orc itu meraung marah dan mengayunkan pedangnya kearah Alfred.
Karena kondisi fisik yang berbeda, Alfred dengan mudah menangkisnya.
Ding!
Perbedaan masa membuat Alfred sedikit terdorong mundur, namun itu adalah rencananya.
Alfred segera melesat kembali dan menebas pinggang kiri Orc tersebut.
Crash!
Sedikit berputar, Alfred kemudian menebas punggungnya.
Slash!
Tanpa memperdulikan raungan marah Orc itu, Alfred berniat menebas lehernya.
Hanya saja...
Percikan petir terlihat disekitar tubuh Orc itu, dengan cepat Alfred menghentakkan tanah dan melesat mundur.
Blar!
Pillar petir muncul disekitar Orc tersebut dan Alfred yang melihat itu memiliki ekspresi rumit.
"Selain anti sihir juga memiliki perlindungan petir? Ada apa dengan kombinasi tidak masuk akal ini?"
Setelah mengamati Orc itu, Alfred merasa aneh. Karena gerak-geriknya seperti penuh syukur.
"Manusia, beraninya kau ingin membunuh bawahan terkuatku!"
Ketika sedang mengawasi, Alfred mendengar suara asing.
Alfred mengalihkan pandangan dan melihat sosok tua dengan jubah hitam. Di tangan kanannya terdapat tongkat dengan bola kristal merah yang memancarkan energi negatif.
"Lich? Jadi begitu, pantas saja lebih lemah dari Raja Iblis!" ujar Alfred mengungkapkan pemikirannya.
"Lantas kenapa jika aku lebih lemah dari Raja Iblis?" Lich itu mendengus sombong.
"Aku, sebagai Raja Penyihir akan memberimu hukuman!" sambungnya.
Alfred mendengar itu menjadi tertawa. "Raja Penyihir ... Kupikir akan begitu hebat sampai menyandang gelar itu. Namun ternyata hanya kroco?"
"Leluconmu tidak lucu, Lich! Menganggap dirimu Raja Penyihir, bukankah itu terlalu lancang?" ujar Alfred dengan mengejek.
Lich tersebut lebih lemah dari Orc itu. Alfred tidak tahu kenapa monster merepotkan itu tunduk pada ranting kayu itu.
Tetapi karena itu Lich, Alfred berpikir dia menggunakan cara licik untuk menundukkannya.
"Kau berlagak begitu sombong, manusia! Baiklah, akan kutunjukkan yang namanya perbedaan kekuatan!" setelah mengatakan itu, Lich tersebut mengayunkan tongkatnya dan 3 lingkaran magis muncul.
Disana kemudian muncul 3 mahluk berbeda.
Monster seperti manusia berkepala banteng dan memiliki sayap.
Werewolf yang mempertahankan bentuk serigalanya namun memancarkan energi negatif.
Dan sosok manusia setengah badan dengan jubah hitam yang menutupi wajah serta seluruh badannya.
"Lesser Demon, Werewolf, dan Wraith? Sudah kuduga, kau lemah tanpa bawahan!" ujar Alfred mengejek.
Tiga musuh itu mudah dikalahkan. Tapi menjadi sulit karena luka Orc itu disembuhkan.
"Manusia, sekarang berputus asalah! Negative Boost!" setelah mengatakan itu, Lich tersebut memberikan sihir kebawahannya.
Alfred mendecak kesal, selain karena kemampuan keempat musuhnya yang meningkat.
Juga dia kalah jumlah.
"Earth Spikes!"
Alfred mengarahkan serangan ke empat musuhnya.
Namun ketika keempatnya ditusuk hanya Lesser demon yang terkena.
Werewolf berhasil menghindar, sementara Orc itu memiliki pertahanan kuat dan Wraith tersebut memiliki kemampuan menembus objek.
Namun, hal yang merepotkan adalah Lich itu terus menerus menyembuhkan Lesser Demon membuatnya kembali seperti semula.
".... Merepotkan!"
...Bersambung...