
Di medan perang, terdapat beberapa perajurit pengguna pedang serta sihir yang berkumpul.
Mereka menyerang monster kerdil bersayap yang biasa disebut sebagai Lesser Demon.
Meski serangan fisiknya lemah, tapi kemampuan membakarnya begitu berbahaya.
Hal itu membuat kesatria yang membawa perisai bekerja keras untuk menghalangi. Sementara para penyihir melemparkan serangan.
Dengan suara rengekan terakhir, kelompok itu bernafas lega karena beberapa Lesser Demon yang menyerang telah dikalahkan.
Hanya saja itu adalah medan perang, bukan tempat pelatihan.
Sesaat kemudian, beberapa siluet hitam pekat melesat melintasi medan perang menyerang para kesatria dengan ganas.
Suara teriakan kesakitan dan ketakutan terdengar.
"Mundur! Demon Venom menyerang!"
Namun sebelum mereka beraksi, beberapa sosok anjing dengan mulut lebar menyerang.
Mereka segera memakan setengah tubuh salah satu kesatria dengan sekali gigit.
Suara jeritan putus asa terdengar.
Kemudian sebelum menjadi pembantaian sepihak, cahaya terang berwarna emas melintasi langit dan menghantam salah satu Demom Venom.
Slash!
Pedang panjang dan kokoh membelah Demon Venom dengan sekali tebas. Memperlihatkan betapa kuat serangannya.
Demon Venom lainnya memandang waspada pada penyerang kawanannya.
Disisi lain, sang penyerang, pria itu berdiri dan memandang serius para Demon Venom.
Tatapannya kemudian beralih ke kesatria dan penyihir yang tersisa.
"Apa yang kalian tunggu?! Cepatlah mundur!"
Saat ucapan itu keluar, para kesatria dan penyihir kembali sadar pada situasi lalu pergi kembali ke kota dengan berlari cepat.
Mengalihkan pandangan, tatapannya menuju para Demon Venom.
Ekspresi bermasalah nampak diwajahnya yang agak pucat. Sebenarnya dia ingin kembali ke kota untuk beristirahat, namun melihat kesatria dan penyihir yang berada diujung tanduk membuatnya berubah pikiran.
Dia terpaksa harus bertarung lagi namun dengan porsi yang lebih sedikit.
Setidaknya, melawan Demon Venom bukanlah hal buruk untuknya.
Suara menggonggong terdengar bersamaan dengan Demon Venom melesat kedepan.
Pria itu mengangkat pedangnya untuk melawan.
Kemudian dia menebas dengan cepat pada Demon Venom.
Slash!
Hanya saja, dia tampak tumpul.
Setelah menyerang, pria itu membutuhkan waktu lebih untuk menebas kearah lain.
Hal itu membuat Demon Venom lain memiliki kesempatan untuk menyerang. Alhasil, bahu kiri pria itu terkena gigitannya yang memiliki racun.
Jika bukan karena intuisi seorang kesatria dan kewaspadaannya, setengah tubuh pria itu sekarang pasti telah digigit.
Dengan cepat pria itu menusukkan pedang ke kepala demon venom yang menggigitnya.
Srat!
Kemudian mundur dengan cepat. Karena Demon Venom lain telah menerjang kearahnya.
Pria itu segera mengayunkan pedangnya kembali, namun gerakannya semakin melambat.
Slash!
Tentu saja itu karena racun dari gigitan beberapa saat lalu.
Tidak menunggu untuk dibunuh, Demon Venom lain mengigit pada bahu kanannya.
Kemudian berbagai serangan dilancarkan.
Dengan menggeram tidak senang, pria itu menjaga jarak.
Posisinya buruk, dia telah disudutkan.
"Sial, aku tidak ingin mati sekarang!"
Mengatakan itu, pria tersebut perlahan-lahan mengumpulkan semua Mananya kemudian memusatkannya pada bilah pedang.
Swosh!
Dia ingin membuat efek ledakan Mana, dimana gelombang magis disebarkan kemudian menghancurkan inti sihir monster.
Tergantung kepadatan serta jumlahnya, ledakan Mana bisa menghancurkan tempat sekitar layaknya bom. Namun khusus pria itu, dia tidak akan membuat efek mengerikan tersebut.
Ledakan Mana adalah kartu truf terburuk, selain karena memberi cukup banyak efek negatif, juga keuntungannya sangat minim.
Hanya orang bodoh saja yang akan melakukan setiap waktu, layaknya serangan utama tanpa alasan jelas.
Mana telah ditransferkan sangat banyak hingga membuat cahaya biru cukup terang pada bilah pedang.
Itu bahkan membuat udara bergetar. Memberitahu bahwa Mana yang dikeluarkan sangat banyak.
Ketika pria itu akan mengaktifkan ledakan Mana, sesosok merah terang berkobar melintasi langit dengan cepat, bersamaan dengan hembusan angin dingin yang membekukan apapun.
Krash!!
Karena sedang mengumpulkan Mana, tubuh pria itu diselimuti energi magis. Hal tersebut membuat tubuhnya yang membeku segera mencair dan selamat dari kematian.
Meski sekarang dia jadi agak sulit bergerak.
Sementara itu Demon Venom dibekukan dari luar maupun dalam. Secara umum, anjing hitam itu telah mati.
"... Ini sangat dingin. Sebenarnya siapa pengguna elemen es sehebat ini?"
Didalam es, pria itu bergumam sembari sedikit mengigil kedinginan.
Beberapa waktu kemudian remaja laki-laki muncul dipandangannya.
Dia adalah Alfred Kairo.
Alfred berhenti berlari ketika melihat bongkahan es, itu berjumlah dua.
Salah satunya sangat besar, sementara lainnya kecil.
Tatapannya menilai apa yang ada didalam es.
Bongkahan es yang besar di dalamnya terdapat anjing hitam dengan mulut lebar.
Kemudian di bongkahan es kecil, disana terdapat pria dewasa dengan memegang pedang bercahaya biru.
Tatapannya juga bertemu, menandakan dia masih hidup.
Alfred segera mendekat kemudian mengangkat tongkatnya, hanya saja segera terhenti.
Dia memiliki sesuatu yang ingin dicoba.
Berjalan mendekat kemudian meletakkan telapak tangan ke permukaan es, Alfred bergumam.
"Dispel."
Bongkahan es itu kemudian hancur berubah menjadi kepingan salju.
Alfred tersenyum puas, konsumsi Mana tidak ada tapi efek kemampuannya sangat kuat.
Sementara itu, pria tersebut terkejut melihat gerakan mulut Alfred.
Kemampuan dispel terkenal langkah dan bermanfaat. Sangat jarang menemui penggunanya secara langsung.
Tetapi pria itu hanya terkejut, tidak lebih. Kemampuan dispel memang langkah namun tidak begitu berguna hingga membuat pemiliknya selamat dari peperangan tanpa akhir ini.
"Terima kasih telah membantuku," ujar pria itu.
"Tidak perlu berterima kasih. Ini hanya rasa bersalah, karena tadi saat melawan roh api saya kelepasan."
Alfred tidak berbohong.
Beberapa saat lalu, dia bertemu roh api. Dia segera melemparkan sihir es.
Karena terus dilelehkan, Alfred menggunakan sihir es tingkat tinggi.
Cocytos, yang membekukan hampir apapun.
Roh api saat itu segera lari sangat cepat, hal tersebut membuat Alfred tidak bisa mengejarnya.
Sebab itulah dia hanya berlari pada lintasan serangan esnya, kemudian membantu orang-orang yang membeku karena ulahnya.
Alfred sebenarnya ingin melanjutkan untuk pergi membantu orang yang membeku karenanya.
Namun melihat bahwa tanah yang membeku telah berhenti beberapa meter darinya, Alfred mengurungkan niat itu.
"Itu sudah selesai, aku tidak perlu pergi lebih jauh." Alfred bergumam.
"Namamu siapa nak? Aku Elard."
Mendengar pertanyaan itu, Alfred membalikkan tubuhnya sebelum memperkenalkan diri dengan sedikit menunduk.
"Alfred Kairo, salam kenal paman."
"Aku tidak setua itu! Yah terserah. Aku akan kembali ke kota, mau ikut?" tanya Elard dengan penuh harap.
Alferd diam sesaat sebelum mengangguk pelan.
"Kalau begitu mari bergegas."
Saat Alfred ingin mengikuti Elard. Sebuah gambaran bergerak diperlihatkan.
Elard sebenarnya akan meledakkan Mana yang membunuh semua Demon Venom itu. Lalu meluas hingga beberapa kilometer.
Kemudian tempat itu akan memancarkan Mana Miasma bagi monster selama beberapa hari.
Juga tidak akan ada pertempuran selama beberapa hari karena Miasma itu sangat beracun bagi monster.
Lalu Elard memanggil.
"Ada apa?"
Gambaran itu hancur, dan kesadaran Alfred terfokuskan.
Alfred baru menyadari bahwa apa yang dia lakukan adalah mengubah sejarah, tapi mengingat ini hanyalah dunia palsu dia tidak akan menahan diri.
"Tidak, aku hanya cukup lelah saja."
"Kalau begitu setelah sampai beristirahatlah, kita akan mengalami kerugian besar jika kau mati."
Pernyataan yang jujur tapi tidak salah, Alfred hanya bisa tersenyum masam sebelum mengikutinya.
...Bersambung...