
Satu minggu telah berlalu.
Setelah pertarungannya terakhir kali, Alfred tidak menemukan tanda-tanda kemunculan Lich itu.
Alfred merasa tidak puas ketika belum mengakhirinya, jadi dia berharap Lich itu segera kembali muncul.
Disisi lain, hari-hari biasa Alfred terganggu karena laporan dari Shaletta.
Kepala desa memanggil Alfred dan memintanya untuk bergabung ke tim ekspedisi setelah mendapatkan laporan dari Shaletta.
Alfred ingin menolak namun karena pria tua itu cukup cerdik, dia membawa semua orang yang berpatisipasi dalam ekspedisi ke pembicaraan tersebut. Hal itu membuat Alfred tidak memiliki kesempatan untuk menolak.
Secara kasar Alfred memang memiliki daya tempur diatas manusia super. Namun dia belum memiliki kekuatan absoult untuk menentang keputusan.
Jika dia menolak, secara langsung reputasinya akan turun dan dibenci oleh seluruh warga. Alfred akan bermasalah jika itu sampai terjadi.
Namun itu tidak berlangsung lama, setelah Alfred bergabung dia mengusulkan untuk keluar setelah beberapa hari melakukan ekspedisi tetapi tidak mendapatkan hasil.
Alfred tentunya telah membakar seluruh mayat goblin yang ada di Gua itu dan membuat keberadaan mereka menghilang tanpa jejak.
Tentang mayat Orc, Alfred telah menggunakan untuk memanggil Katara, jadi itu sudah menghilang sebelum ekspedisi dimulai.
Selebihnya dia tidak peduli. Keberadaan sarang goblin masih sama, dan Alfred pikir akan memakan waktu sebelum mereka ditemukan.
Karena itulah Alfred bergerak cepat untuk keluar. Tentunya dengan alasan yang bagus.
"Pagi, Alfred!"
Ketika berjalan ke halaman belakang menuju sumur, Alfred disapa oleh remaja laki-laki.
"Ya." kemudian dijawab dengan singkat.
Selama ekspedisi, pengaruh Shaletta membuat Alfred mendapatkan banyak kenalan. Baik dari lawan jenis atau sesama.
Meski begitu, remaja yang berkenalan dengannya dipisahkan menjadi 3 bagian.
Bagian yang ingin berkelanan hanya untuk mencari perhatian Shaletta, untuk memanfaatkan kekuatan Alfred dan hanya berkenalan kemudian mengancamnya.
Alfred sendiri tidak memiliki keinginan untuk mengambil Shaletta, selain karena mustahil juga sedang tidak ingin memiliki hubungan seperti itu. Meski terdengar naif namun ada alasannya tersendiri.
Apapun itu, Alfred bukanlah tipe masokis.
Setelah membasuh mukanya, Alfred kembali ke dalam rumah.
"Baiklah, waktunya belajar casting."
Alfred menatap buku-buku di atas meja kemudian duduk lalu memilih salah satunya.
Buku-buku itu dari kepala desa, tentu Alfred mendapatkan dengan membelinya. Meski hanya salinan dari yang asli.
"Metode casting mantra level satu?" gumam Alfred melihat judul buku itu.
Dia pikir judulnya akan jauh lebih keren ternyata tidak. Yah, melihat zamannya itu cukup wajar. Akan aneh jika bwrbelit-belit.
Alfred membuka halaman pertama, kemudian mulai melihat tulisan tentang penjelasan mantra.
Kemudian dibawah itu terdapat berbagai metode casting sihir elemen.
[Sihir api tingkat 1, Fire Ball]
Sihir api yang membentuk sebuah bola dan memiliki daya ledak cukup kuat, serta memberikan efek bakar.
Penjelasan yang begitu simpel. Pikir Alfred.
Kemudian dia mulai menghafal metode castingnya.
Mengulurkan tangannya, Alfred mulai memperagakan metode casting.
Lalu api mengembun dari telapak tangannya membentuk bola yang memadat seiring waktu.
Ketika membuka mata, Alfred merasa linglung pada sihir pertamanya.
Itu sangat mudah seperti bernafas. Dia juga bisa merasakan efek bola api persis seperti yang dijelaskan pada buku.
Alfred seharusnya senang, namun tidak bisa.
"Yah, mungkin karena terlalu mudah. Jika itu sulit mungkin ketika berhasil ada perasaan bahagia." Alfred berkata dengan tak acuh, menghilangkan keraguan pada dirinya.
Kemudian dia memfokuskan ke buku kembali.
Di halaman pertama hanya ada mantra bola api, karena itulah Alfred harus pindah ke halaman selanjutnya.
[Sihir api tingkat 1, Burning]
Sihir api berkobar yang menyemburkan api untuk membakar target.
Melihat itu, Alfred merasa tidak nyaman. Dia cukup takut jika tiba-tiba menyemburkan api.
Jadi Alfred membalikan halaman mencari elemen air.
[Sihir air tingkat 1, Water Ball]
Sihir air yang membentuk sebuah bola dan memiliki daya ledakan cukup kuat.
Itu jauh lebih simpel.
Tanpa memikirkan apapun lagi, Alfred mulai memperagakan metode casting.
Di telapak tangannya, air mengembun membentuk bola.
Disana air itu berputar sangat kuat, Alfred yakin efek setelah meledak adalah semacam menggores atau melukai apapun di dalam area.
Membaca metode lain dibawahnya, Alfred kemudian mengontrol bola air itu menjadi tenang.
"Aku bersyukur itu juga bekerja," gumam Alfred.
Dia khawatir jika efek ledakan bola air itu tidak bisa dihilangkan.
Karena Alfred akan berfokus pada elemen api, sebab telah terbiasa. Mengetahui bahwa mantra bola air bisa dirubah membuatnya senang meski menggunakan lebih banyak Mana.
Setidaknya itu jauh lebih baik dari pada harus mempelajari sihir lain. Selain kurangnya minat pada elemen lain, juga akan mempengaruhi efek dalam sihir api.
...Bersambung...