Sent To Another World With Cheat Ability

Sent To Another World With Cheat Ability
Chapter 23 : Tipuan Elard



Sudah enam hari berlalu.


Selama itu, Alfred telah mempelajari banyak mantra.


Alfred juga dibantu Elard, karena sikap serta tingkah lakunya seperti anak hilang.


Elard memberi tahu banyak hal pada Alfred, serta tentang cara mendapatkan material monster dengan efisien.


Berkat itu juga, Alfred bisa membeli rumah kecil dalam waktu singkat.


Meski begitu, Alfred hanya mengalahkan monster lemah yang berhasil menerobos masuk kota.


Rasa lelah, ngantuk, dan lapar hampir tidak bekerja padanya. Hal itu juga membuatnya bisa berjaga di malam hari bersama para kesatria.


Uang serta lingkaran pertemanannya bertambah, namun setelah Alfred mendapatkan rumah, itu tidak lagi tumbuh.


"Lagi-lagi buku sihir, apa tidak bosan?"


Saat Alfred membaca buku sihir dimeja makan, suara tidak asing terdengar.


Mengalihkan pandangan, Alfred melihat Elard menatapnya dengan aneh.


"Aku harus membaca buku ini agar serangan suhirku bertambah. Juga, kenapa kau bisa masuk kesini ... Paman?"


"Aku tidak setua itu!!" balas Elard dengan tidak senang.


Lalu dia duduk di kursi lain sebelum melanjutkan, "Apa kau akan mengabaikan itu?" tanyanya sembari menujuk ke Alfred.


Atau lebih tepatnya, bagian pinggangnya.


Alfred tahu, apa yang Elard tunjuk. Itu adalah pedang besi yang di beli dari desa Avelia.


Karena Gradenya sudah tinggi, membawa benda besi semacam ini tidak menimbulkan apapun. Bahkan, Alfred hampir lupa dengan keberadaan pedangnya.


Dia pikir sudah memasukannya ke dalam Storage, namun ternyata belum.


"Aku tidak terlalu bisa mengayunkan pedang. Menggunakan tebasan amatir dimedan perang hanya akan membunuhku," jawab Alfred dengan ringan.


Meski dia mengatakan itu, Alfred sebenarnya mengumpulkan pengalaman berpedang dengan melawan monster lemah yang berhasil masuk ke kota.


Alfred tidak berniat memfokuskan perhatiannya pada berpedang untuk saat ini, sebab dia sibuk dengan mempelajari mantra sihir.


Waktu Alfred di dunia palsu cukup banyak, karena itulah dia berniat untuk memfokuskan pada berpedang setelah kemampuan sihirnya berada ditingkat ekspert.


Sementara itu, Elard berpikir cukup lama. Mempertimbangkan beberapa hal, dan menilai kekuatan Alfred secara fisik.


"Bagaimana kalau aku mengajarimu cara mengayunkan pedang dengan benar? Yah, dalam prosesnya kau akan belajar sedikit teknikku juga."


"Ya. Aku yang menawarimu, tentu saja tidak masalah."


"Baiklah kalau begitu."


Kemudian, Alfred menjawab dengan sedikit senang. Sepertinya, jika dia ditolak oleh Howard maka tidak perlu khawatir.


Karena saat di dunia palsu, kemampuan berpedangnya telah meningkat.


Dia jadi tidak sabar untuk pelatihannya.


Itulah yang Alfred pikirkan beberapa jam lalu.


Saat ini, keduanya berada diluar kota.


Kanan dan kiri terdapat banyak pasukan, kesatria dan penyihir yang bersiap melawan serangan monster.


Sementara itu, Alfred menatap tajam kearah Elard yang berpura-pura tidak melihat.


"Aku akan memberimu sedikit pelatihan. Gunakan saja pedangmu bersama sihir jika terlalu menyulitkan," gumam Alfred menirukan ucapan Elard beberapa saat lalu.


Pelatihan yang Alfred pikirkan adalah duel atau sebagainya. Namun kenyataannya adalah pergi ke medan perang sesungguhnya.


Itu terlalu beresiko, dia ingin kembali namun gerbang kota telah ditutup.


Alfred tidak bisa mundur dan hanya bisa ikut berpartisipasi karena telah jatuh dalam tipuan Elard.


"Aku tidak akan menyuruhmu mengalahkan monster tingkat atas. Yah, untuk awal-awal kalahkan aja monster tingkat rendah," kata Elard.


"Sisanya akan kuurus, jadi kau bisa fokus mengikuti instruksiku," sambungnya.


Alfred hanya bisa mengungkapkan ketidak senangannya dengan menggerutu.


"Asal kau tahu aja, aku seorang penyihir. Bahkan jika mengikuti instruksi, aku pasti akan mengeluarkan serangan sihir karena refleks."


"Ya, asal kau tidak membekukan semua orang maka bukan masalah."


"Candaan yamg tidak lucu sekali, paman."


Alfred tahu bahwa Elard ingin melihatnya kesal, karena itulah dia membalikan kalimat dengan hal tidak disukai.


Sambil menunggu monster-monster itu mendekat, Alfred sepenuhnya mengabaikan ocehan tidak senang Elard.


"Hoi, apa kau dengar?!"


...Bersambung...