
Suara mendesis cukup kuat terdengar, disana Orc itu berdiri dan angkuh.
Berjalan ke Alfred, dia perlahan mengangkat pedangnya seperti ingin menebas.
Alfred juga melakukan hal sama, dia tidak ingin menjadi kristal seperti tanah tersebut.
Ketika Alfred ingin mengantisipasi serangan, tiba-tiba kilauan logam terlihat.
Ketika Orc itu tiba-tiba muncul disamping Alfred, dia dengan panik menggunakan pedang sebagai perisai dan menambah tumpuhan memakai tangan kiri.
Bang!
Alfred segera terpental kebelakang, karena awalannya bagus dia bisa mendarat dengan aman.
Hanya saja, Orc itu kembali muncul.
Bang!
Alfred kembali terpental namun kini tidak begitu jauh.
Karena hal itu, dia bisa segera menghindar kesamping ketika Orc itu mengayunkan pedangnya.
Bam!
Dia ingin kembali menghindar, namun jika itu terus berlansung Alfred sendiri akan dirugikan.
Jadi, Alfred berniat untuk dengan cepat mengakhirinya.
Tanpa persiapan apapun, Alfred bergerak kebelakang Orc itu kemudian menebasnya dengan cepat.
Crash!
Tebasannya cukup dalam, dimana itu dimulai dari pinggang kiri Orc itu hingga ke punggung sebelah kanannya.
Ketika berpikir akan menang dengan mudah, Orc itu tiba-tiba memutar tubuhnya.
Bang!
Alfred terlempar puluhan meter lalu berguling-guling ditanah sebelum akhirnya berhenti. Kemudian dia memuntahkan seteguk darah.
Mencoba berdiri, Alfred merasa tubuhnya bergetar hebat. Disisi lain, dia merasa dadanya sesak jadi terpaksa untuk berdiri.
Katara di kejauhan bergerak cepat menuju kearahnya.
Namun Alfred tidak peduli, dia mengalihkan pandangan melihat Orc itu yang sedang berada dikeadaan sekarat juga.
"... Recovery, Heal." Alfred bergumam.
Bukan seperti biasa, kesadaran Alfred saat ini buram.
Sword of God menghilang sebab terlepas dari tangannya. Kemudian karena tidak menggengam Magic Staff of Divine, Alfred tidak bisa menggunakan sihir.
Selain faktor belum mempelajari mantra apapun, Alfred juga tidak tahu apa itu lingkaran magis.
Singkatnya, Alfred selama ini hanya menggunakan perintah untuk memunculkan sihir. Jadi ketika tidak memakai kemampuannya dia hanya akan mengeluarkan kata-kata asing.
Ketika ingin memanggil Magic Staff, Alfred jatuh terduduk karena tubuhnya tidak stabil akibat serangan tadi.
"... Magic staff of ..., Divine."
Seperti sebelumnya, tongkat dengan cepat terbentuk. Kemudian Alfred mencoba menyembuhkan diri.
"... Recovery, Heal!"
Dua cahaya berbeda segera menyinari tubuh Alfred. Itu segera memperbaiki kondisi tubuhnya yang buruk.
Meski tubuhnya kian membaik, Alfred masih merasa buruk.
Serangan tadi sangat menyakitkan, hingga berpikir apakah dia akan mati setelah ini. Namun sebagian kecil ketenangannya kembali, dan dia mengambil keputusan cepat untuk bergegas menyembuhkan lukanya.
Tetapi setelah sebagian besar lukanya itu telah membaik, masih ada perasaan berat.
"... Benar juga," gumamnya lalu mengambil Mana Potion dan meminum tanpa ragu.
Dia hampir mengabaikan Orc itu yang berjalan kearahnya. Sementara Katara telah berdiri dihadapannya untuk melindungi Alfred.
Setelah meminum beberapa Mana Potion, Alfred berdiri dan berjalan maju.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" Katara bertanya dengan nada monoton.
"Ya, aku tidak apa."
Mengabaikan ekspresinya yang pucat dan tubuh gemetar, sebenarnya Alfred merasa lebih baik.
Rasa sakit tadi menyadarkannya bahwa harus lebih serius atau akan kalah.
"Tapi anda ..."
Katara ingin menghentikan Alfred namun ketika melihat tatapannya, dia terdiam.
Setelah berjalan beberapa saat Alfred berhenti sebab disisi lain Orc itu juga telah ada dijarak beberapa puluh meter.
Dia memunculkan Sword of God kembali.
Semua skill buffnya telah dipakai. Alfred tidak tahu statistik apa lagi yang harus ditambahkan.
Apa yang dilakukan adalah melawannya dengan lebih banyak strategi.
Setelah saling manatap beberapa saat, Orc itu membungkuk dan asap merah kembali muncul menandakan skill Berserker akan aktif.
Berbeda dengan saat diawal-awal, Alfred tidak membuang waktu dengan dalih 'mencari pengalaman' karena hal itu hampir membunuhnya beberapa waktu lalu.
Alfred mengaktifkan skill Accelerate Speednya lalu melesat cepat kearah Orc itu.
Dengan tatapan tanpa ampun, Alfred menebas kejam dada Orc itu.
Kemudian menusukkan Sword of God kejantung Orc tersebut.
Crash!
Dia menusukkan lebih dalam dan ingin membuat lukanya melebar, namun Orc itu bertindak cepat dengan menendang Alfred.
Bam!
Sosok Alfred terbang beberapa meter sebelum akhirnya berguling-guling sebentar.
Tubuhnya terasa sakit disana sini, orang biasa akan menyerah dan melarikan diri.
Setelah berbaring diam sesaat, Alfred bangun layaknya robot sebab terkesan kaku.
Disisi lain Orc itu menaktifkan Skill berserker lagi.
Seperti sebelumnya, Alfred kembali melesat dan mulai menyerang tanpa ampun.
Namun sebelum dia berhasil menjangkaunya, Orc itu membatalkan skillnya lagi dan sebagai gantinya.
Dia menggunakan tangan kosong untuk menyerang.
Bang!
Tepat dada Alfred, pukulan itu dilancarkan.
Alhasil, Alfred terpental puluhan meter karena pukulan Orc itu sangat kuat.
Sesekali bantuk dengan susah payah, Alfred merasa sulit bernafas. Itu tampak seperti organnya terkena dampak berat dari kerusakan luar.
Dengan mata melebar dan usaha keras untuk bernafas, Alfred melupakan semua hal secara paksa agar tidak menganggu.
Katara yang mengikutinya hanya bisa menatap khawatir, dia spesialis kutukan jadi tidak bisa menyembuhkan tuannya.
Setelah beberapa saat mengulangi siklus bernafas dengan susah, Alfred mengaktifkan Recovery dan Heal secara bersamaan.
Dia kemudian berdiri dan menatap Orc itu dengan kesal serta penuh emosi.
Karena efek buff yang dia pakai, Alfred merasa meski sangat emosi, pikirannya masih jernih.
Itu menyebabkan Alfred bisa berpikir cepat menangani situasi ini.
Orc itu, setelah melemparkan Alfred dia mengaktifkan skillnya.
Jadi ada waktu sebelum Alfred terbangun, dan hal itu membuat Orc tersebut berhasil memakai skillnya.
Senyum percaya diri muncul diwajahnya.
Alfred tidak peduli dengan senyuman itu, dia segera melesat lagi dengan skillnya.
Orc itu juga sama.
Kemudian keduanya saling membenturkan pedang dan saling mementalkan.
Ketika keduanya terpental sesaat, Orc itu bergegas maju dan ingin menebaskan pedangnya lagi, namun Alfred menghindar kesamping.
Lalu sesaat kemudian cahaya meledak dikehampaan membuat Orc itu buta sesaat.
Alfred tidak membuang waktu, dia langsung melompat dan menebas leher Orc tersebut.
Hanya saja sebelum tertebas, Orc itu telah menghindar kebelakang.
Dia hanya bisa memberikan luka ringan.
"Tch, intuisi monster!"
Orc itu kembali mendapatkan penglihatannya, dia segera menghancurkan tampat dimana Alfred berada.
Dbom!
Alfred melompat mundur, sebelum ada cahaya ungu disekitarnya.
"Teleport!"
Pandangannya berubah menjadi melihat punggung Orc.
Alfred segera bergerak maju dan menusukkan tepat dijantung Orc itu yang mulai disembuhkan lagi.
Orc itu segera berbalik untuk menghantam Alfred.
Buag!
Pukulan agak lemah dari lengan besar Orc itu mengenai tubuh Alfred yang masih dalam keadaan menusukkan Sword of God.
Hal itu juga membuat luka Orc itu memanjang hingga ketubuh samping.
Alfred tidak peduli dengan kerusakan yang diterima, dia segera menarik pedangnya lalu menebas leher Orc tersebut.
Slash!
Garis putih tipis melintas diantara dada dan kepala Orc itu, sebab terlalu cepat.
Alfred yang tidak bisa menjaga keseimbangan dari serangan cepat itu membuatnya berputar diudara sebelum jatuh dengan ceroboh.
Buk!
Crash!
Kemudian diposisi jatuh itu, Alfred merasa dihujani air hangat.
Mengalihkan pandangan, dia melihat Orc tanpa kepala itu menyemburkan darah sebelum akhirnya jatuh.
Alfred menghela nafas lega karena akhirnya terbebas dari situasi krisis hidup.
Namun ini belum berakhir karena target utama, Lich itu belum dikalahkan.
Tetapi seberapa kuat perjuangan Alfred mencari dia tidak bisa menemukan Lich itu.
"System, kemana Lich itu pergi?" tanya Alfred dengan bermasalah.
[Jawab, Individu Lich pergi ke dunia bawah.]
Mendengar itu, suasana hati Alfred memburuk. "Bagaimana cara ke sana?"
[Melewati Jurang Kematian di benua tengah. Cara lain belum memungkinkan untuk digunakan.]
"...."
Itu adalah tempat dimana 'The Five Chaos of World-Eater' berada.
Apakah dia bisa ke sana? Mustahil! Alfred belum memiliki kekayaan yang cukup untuk pergi ke benua tengah. Terlebih dia pasti akan mati terlebih dahulu ketika dalam perjalanan mencari Lich itu.
"Tch!"
Sembari menggumamkan kekesalannya, Alfred berjalan dengan berat kembali ke desa Avelia.
...Bersambung...