
"... Seperti yang diharapkan, mempelajari semua mantra dalam satu hari memang sulit."
Setelah mempraktikan berbagai mantra, Alfred kemudian merasa lelah secara mental.
Dia berpikir bahwa itu akan mudah. Namun setelah merasakanya sendiri, Alfred yakin harus membiasakan diri sebelum melakukan hal gila.
Jika berkata hal gila, Alfred beberapa saat lalu mendapatkan ide cukup tidak masuk akal. Ketika ingin mencoba untuk merampalkan sihir 'Burning', dia melakukan double casting.
Dimana, casting 'Water Ball' berada di atas mantra 'Burning'. Normalnya itu tidak mungkin untuk pemula, tetapi mengingat Alfred memiliki bakat tertinggi hal tersebut menjadi mungkin.
Namun ketika sihir 'Burning' telah dirampalkan, Alfred dikejutkam bahwa api itu cukup jinak padanya. Itu hanya membentuk kobaran api tenang di tangannya.
Selanjutnya, Alfred tidak menemukan kejadian dimana sihir api yang dia rampalkan menjadi lepas kendali.
"Hmm, baiklah ini yang terakhir."
Sembari menggumamkan itu, Alfred mengalihkan pandangan ke lembaran berikutnya.
Disana tertulis 'Sihir api tingkat 2, Fire Lance'.
Deskripsinya menjelaskan tentang tombak api berkobar yang memiliki ketajaman luar biasa dan ditambah oleh efek eksplosif cukup kuat.
Efek lainnya adalah akan menyebarkan api dan membakar area disekitar tombak.
Alfred berpikir serangan ini untuk sementara waktu akan berguna, selain itu efeknya cukup bagus.
Segera Alfred mulai menghafalkan metode casting, sebelum mempraktikannya.
Api menyala di udara membentuk tombak panjang yang melayang, itu memadat hingga terlihat seakan terdapat tombak didalamnya.
Dan juga, suhunya cukup tinggi hingga membuat suara terbakar diudara.
Untuk sementara waktu, Alfred berpikir itu cukup berlebihan hanya untuk sihir tingkat 2.
Kemudian, suara keluhan terdengar.
Memgalihkan pandangan, Alfred melihat seorang yang tidak asing.
"... Shaletta?"
Seorang yang dipanggil sibuk mengayunkan tangannya untuk mengurangi suhu panas dari tombak tersebut.
"... Ya?"
Sembari tersenyum masam, Alfred menghilangkan tombak itu. Kemudian dia memunculkan Magic Staff of Divine untuk memberikan sedikit bantuan pada Shaletta.
"Freeze."
Udara dingin menyebar dan suhu menjadi normal kembali.
"Terima kasih."
"Tidak masalah, juga Shaletta, apa kau ada urusan denganku? terlebih kenapa bisa masuk ke dalam rumahku?"
Ketika melakukan ekspedisi, hubungan 'teman' Alfred dan Shaletta sudah cukup dekat dan mengganti kata panggilan 'kamu' menjadi 'kau'.
Namun itu bukan berarti sudah cukup untuk memasuki rumah tanpa permisi, juga Alfred bertanya-tanya bagaimana caranya masuk?
"Singkatnya, karena sudah aku panggil berkali-kali namun tidak dijawab. Jadi a1ku mencoba masuk dan kebetulan pintu belakang tidak dikunci," balas Shaletta lalu berjalan menuju kursi kosong di dekatnya sebelum mengambil buku sihir di meja.
Diam-diam Alfred mengingat untuk harus mengunci pintu agar tidak ada yang masuk.
"Apa ada sesuatu yang penting hingga kau harus pergi menemuiku?" tanya Alfred.
Jika sebatas ingin bicara sebentar, maka akan ada banyak kesempatan.
Alfred akan makan siang di luar, jadi kesempatan bertemu Shaletta sangat tinggi.
Tapi jika itu pembahasan yang cukup berat, maka sangat wajar.
"Hmm, aku kesini untuk memastikan." Shaletta menjawab dengan singkat, ekspresinya aneh ketika menatap buku itu.
Meski pelan, Alfred mendengar Shaletta memggumamkan keluhan betapa sulitnya memahami buku itu.
"Aku mendengar dari kepala desa bahwa kamu keluar dari tim ekspedisi, kupikir sedang terjadi sesuatu. Jadi aku kesini untuk memastikan apa semuanya baik-baik saja?" jelas Shaletta.
"Ya, aku keluar karena tidak memiliki begitu banyak waktu untuk berkeliaran tanpa arah."
"Hmm, kata-kata yang sulit dipercayai untuk orang bukan petualang atau perajurit. Bukankah kamu hanya orang desa yang kebetulan memiliki kekuatan sepertiku?" tanya Shaletta dengan tersenyum menggoda.
Alfred menghela nafas ringan, "Yah itu tidak salah. Tapi meski begitu, aku memiliki tujuan sendiri."
"Tujuan apa itu?"
"Privasi."
Alfred membalas dengan singkat, sementara Shaletta mengeluh dan cemberut.
"Lupakan tentang ini. Lebih penting lagi, bukankah kita hanya 'teman' dan aku memiliki kekuatan jauh diatasmu? Apa kau tidak takut aku menyerangmu?"
Setelah Alfred memberi pernyataan itu, suasana tiba-tiba menjadi hening.
Kemudin itu dipecahkan dengan suara tawa lucu dari Shaletta.
"Itu memang benar, tapi aku terkuat kedua di desa ini dalam pertarungan jarak dekat. Selain itu, kamu, Alfred tidak memiliki pengalaman pertempuran jarak dekat bukan? Teknik yang kamu gunakan cukup payah."
Mendengar ejekan itu, Alfred ingin membalas tapi terdiam. Itu kenyataan.
Meski dia menang melawan Orc itu, tapi bukan berarti Alfred tidak akan kalah.
Selama ini dia hanya mengandalkan statistik.
Melawan musuh yang memiliki daya hancur tinggi dengan kecepatan.
Memberikan status buruk pada musuh pengguna sihir, dan seterusnya.
Jika dilihat baik-baik, kesempatan menang Alfred sangat tipis. Dia selalu kembali dengan keadaan buruk ketika melawan musuh yang setara.
Jadi ejekan Shaletta benar-benar tepat sasaran.
"Maaf saja jika teknikku payah," balas Alfred dengan tidak senang.
Namun hanya dibalas gelak-tawa Shaletta.
"... Yah, intinya aku tetap waspada dan menilai konsekuensinya."
Kemudian Shaletta menyentuh gagang pedangnya, "Alasan aku selalu membawa senjata adalah agar bisa melawan ketika diserang, sebab aku memiliki kebiasaan bertingkah ceroboh."
Alfred terdiam, bukan karena pikiran aneh.
"Kau bilang terkuat kedua? Yang pertama gurumu?"
"Ya."
Alfred bertanya dan dijawab instan oleh Shaletta.
"Bisakah aku menjadi muridnya?"
"Ya ... Eh?"
Karena Shaletta tidak fokus, dia memiliki tanda tanya besar ketika mendengar pernyataan Alfred.
"Kenapa?"
"Aku bilang memiliki tujuan bukan? Kupikir harus memiliki kemampuan tempur jarak dekat," ucap Alfred.
"Aku memiliki keahlian tinggi terhadap sihir namun tidak untuk teknik berpedang. Jadi aku ingin belajar pada ahlinya," sambungnya. "Jika gurumu tidak mau, bisakah kau ajari aku teknik berpedang?"
Alfred menatap serius pada Shaletta.
Dia yakin bisa memiliki teknik sendiri, seiring berjalannya waktu. Melihat jalannya akan penuh pertempuran untuk meningkatkan kekuatannya sebelum melawan The Five Chaos of World-Eater.
Namun siapa yang menolak jika bisa belajar langsung dari ahlinya? Itu jauh lebih baik dari pada mempelajarinya sendiri yang jelas akan memakan waktu lama.
...Bersambung...