
Untuk beberapa hari ini, author meminta maaf karena tidak mengupload satu bab pun. Author mendapatkan beberapa kesibukan yang membuat sulit untuk menulis.
Selain itu mood menulis author tidak begitu bagus dan menyusahkan jika dipaksa sebab hanya akan membuat plot hole yang tidak wajar.
Beberapa hari kedepan juga akan sulit. Tapi author akan meluangkan waktu untuk menulis jika memungkinkan.
Sekian terima kasih. Selamat membaca!
●○●○●○●○●○●○
"Berapa Poin Nether yang kau dapat?"
Ketika Alfred berjalan menjauh dari pusat serikat, dia mendengar suara seorang pria yang tiba-tiba muncul didekatnya.
Mengalihkan pandangan, Alfred melihat Elard berada disampingnya sembari memasang ekspresi penasaran, "Entah? Tapi setidaknya total Poin Netherku telah mencapai tiga digit."
Akhir-akhir ini Alfred sering mengikuti pertempuran seperti prajurit pada umumnya. Tentu saja pemicunya karena Elard ingin Alfred mempraktekkan teknik yang dia ajarkan.
Kecerobohan atau terluka parah tidak pernah terjadi pada Alfred, Elard cukup senang dengan perkembangan luar biasa itu namun juga rumit dalam beberapa hal.
Hal itu juga membuat reputasi Alfred naik, bagaimana pun ketika dia ikut serta dalam perang melawan monster Nether akhir-akhir ini, banyak yang melihat kemampuannya.
Tanpa skill sword, dan bantuan pendukung, Alfred bisa mengalahkan monster Grade A sendirian, hal itu membuat beberapa kelompok kecil ingin mempromosikannya sebagai ketua mereka.
Sebab memiliki pemimpin yang kuat akan menjamin keselamatan mereka.
Namun karena latar belakang Alfred terdapat Elard, hal itu tidak bisa diputuskan seenaknya bahkan oleh ketua serikat.
Dan saat Alfred ditawari untuk memimpin sebuah kelompok kecil, dia menolak tanpa pikir panjang.
Hal itu membuat pemimpin serikat kecewa, namun berbanding terbalik dengan mereka, Elard terharu dengan jawaban itu. Dia tidak menyangka muridnya sangat enggan terpisah dengannya.
Namun pada kenyataannya Alfred menolak karena tidak ingin mendapatkan tanggung jawab sebagai pemimpin.
Juga selama Alfred berada dibawah naungan Elard, dia akan bebas pajak serta pelatihan wajib.
Ekspetasi Elard pada Alfred tidak salah, hanya saja sedikit berbeda artian.
"Benar juga, karena sudah satu minggu bagaimana jika kau melakukan ritual pembangkitan bakat?"
"Apa itu?"
Ketika Elard mengatakan itu, Alfred menatapnya bingung. Tentang bakat, dia telah memilikinya bahkan tanpa ritual itu, terlebih sudah bangkit sedari lama.
Selain itu dia telah memiliki bakat berpedang, tapi jika itu berguna untuk memperkuat bakatnya maka Alfred akan setuju melakukan hal tersebut.
"Kau tahu skill Sword? Ritual itu untuk memberikanmu kemampuan tersebut. Tentu saja tidak ada jaminan bahwa akan sama dengan milikku. Bagaimana? Tertarik mencobanya?"
"Kurasa untuk hal yang seperti ini tidak seharusnya menggunakan kata 'mencoba' saat menawarkan," balas Alfred dengan masam.
"Kesampingkan dengan itu, bagaimana jawabanmu?"
"Kurasa, aku ingin melakukannya. Karena aku sama sekali belum memiliki satu skill sword."
"Pilihan yang bagus. Sekarang ikuti aku!"
Alfred segera mengikuti Elard yang bergerak cepat memasuki jalan sempit.
Itu terus berlangsung cukup lama hingga keduanya berhenti di depan suatu bangunan.
Alfred menatap bangunan tersebut dengan tercengang, sementara itu Elard memiliki ekspresi bangga.
"Ya, ini tempatnya!" ujarnya.
"... Tapi ini rumahku."
"Ritual itu membutuhkan ruangan pribadi."
Alfred segera berhenti berjalan dan menatap Elard curiga.
Sementara itu Elard tahu maksud dari Alfred yang tiba-tiba berhenti, jadi dia mulai menjelaskan dengan ekspresi masam.
"Ritual itu cukup curang dan aku yakin bahwa banyak orang yang menginginkannya. Jika tidak berada diruangan pribadi maka akan ada yang melihat," ujarnya sebelum melanjutkan.
"Dan tidak perlu dipertanyaan lagi, bahwa akan banyak orang yang mulai membencimu ketika melihat ritual itu dijalankan."
Mendengar penjelasan tersebut, Alfred merasa itu cukup masuk akal.
Tapi dia masih bertanya-tanya, bagaimana ritual itu dijalankan? Meski hanya tebakan, tapi Alfred akan menolak jika terdapat pengorbanan.
Sesuatu yang melibatkan nyawa dan kematian, Alfred tidak ingin merasakan itu lebih cepat dari rencananya.
Dia masih ingin memelihara rasa kemanusiaannya dan perasaan normal sebagai siswa pada umumnya.
Patut diingat bahwa belum 1 tahun Alfred berada didunia lain. Dan umurnya pasti masih dibawah standar dewasa.
Alfred sadar bahwa jalan yang dia tempuh bukanlah taman berbunga.
Karena itulah Alfred merencanakan kapan dia akan melepaskan rasa kemanusiaannya. Tapi untuk saat ini, dia akan mencoba yang terbaik untuk menahan diri.
Setidaknya hingga situasi memaksanya.
"Tenang saja, ritual ini bersih tanpa ada unsur kutukan."
"Apakah yang seperti itu ada?"
"Tentu saja!"
Melihat Elard yang menjawab dengan lugas membuat Alfred tertegun.
Kemudian dia sedikit tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya. Alfred terlalu banyak berpikir.
Orang dungu seperti Elard mana mungkin bisa memiliki rencana kejam. Dia hanyalah cerminan pahlawan yang kesepian.
Lagi pula dalam permasalahan kelicikan, Alfred masih lebih unggul. Jadi rencana yang bahkan tidak pernah terlintas dalam benaknya, mana mungkin bagi Elard memikirkannya.
Itulah yang dia pikirkan. Namun tetap saja ada perasaan yang memberi sinyal agar tetap waspada.
Setelah melihat sekitar beberapa saat, Alfred mulai berjalan masuk bersamaan dengan Elard yang memimpin.
"Sekarang mari kita mulai ritualnya!"
Dengan ucapan itu, Alfred hanya bisa berharap bahwa ritual yang Elard maksud tidak merepotkan.
...Bersambung...