
Ada keheningan sesaat diantara keduanya. Shaletta mencoba merenungkan kalimat Alfred dengan serius.
"Intinya, kamu ingin belajar teknik berpedang agar tujuanmu lebih mudah dicapai?"
Alfred mengangguk sebagai balasan.
"Apa kamu begitu terdesak hingga terlihat seperti cukup putus asa?" tanya Shaletta khawatir.
Alfred sendiri baru menyadari bahwa dia terlihat putus asa. Dia ingin menyangkalnya dengan lelucon namun segera berhenti.
Itu bukanlah sesuatu yang harus disangkal, sebenarnya Alfred cukup putus asa jika hanya mengandalkan keahliannya sekarang. bahkan ada kemungkinan dia akan memilih untuk menggunakan teknik terlarang yang menggunakan umur, nyawa bahkan memberinya kutukan.
Melihat waktunya hanya 7 bulan saja, itu tidak cukup untuk Alfred menjadi sangat kuat. Meski telah dibantu oleh skill 'Multipier Exp', namun masalah yang sebenarnya adalah waktu untuk berkembang.
Karena jawabannya masih samar, Alfred harus memiliki ilmu dalam serangan jarak dekat. Agar bisa menggunakan Sword of God untuk bertarung.
Meski hanya spekulasi saja, tapi Alfred merasa skill Sword of God masih memiliki segudang kemampuan atau efek rahasia yang belum terungkap.
Jika tidak bisa menggunakannya dengan benar, Alfred pasti akan menyesal suatu hari nanti.
".... Ya, kau bisa anggap begitu," balas Alfred sembari memalingkan wajahnya.
Dia tidak ingin orang berbelas kasih padanya, tapi mengingat bahwa jika Alfred kalah maka dia akan direinkarnasikan sebagai keberadaan baru.
Alfred tidak ingin mendapatkan kesalahan yang sama, jadi apapun yang terjadi dia harus bisa mengalahkan The Five Chaos of World-Eater.
"Baiklah, aku akan membantumu agar bisa diterima sebagai murid guruku," ujar Shaletta dengan serius.
Sementara Alfred dengan masam membalasnya, "Terima kasih. Tapi jika ditolak, kau tidak perlu memaksanya, aku sudah puas dengan belajar darimu."
Shaletta tersenyum hangat dengan jawaban itu. "Aku sudah menduga ini, tapi kau benar-benar pria yang baik, Alfred."
Ketika mendengar pujian itu, Alfred mengingat kalimat yang sama. Dan itu berakhir buruk karena sifat naifnya.
"Ya, aku adalah pria yang baik," balasnya dengan dingin.
Shaletta mungkin paham dengan maksud kalimat dingin Alfred, karena ekspresinya menjadi kaku.
"Ahem. Seandainya diterima, kamu ingin belajar kapan?" tanya Shaletta mencoba mengubah suasana itu.
Hanya saja, pihak lain tidak demikian.
"Kamu bilang pertama kali?!" Shaletta membalas dengan tercengang.
"... Ya."
Shaletta segera beranjak dari kursinya menuju Alfred kemudian dia mencengkram kedua bahunya. "Meski langsung bisa dalam sekali coba?! Apa kau monster?!"
"Memangnya aneh?"
"Tentu saja! Bahkan penyihir kerajaan membutuhkan puluhan kali untuk hampir bisa."
Alfred terdiam, sepertinya dia salah perhitungan. Dia juga tidak begitu waspada.
Diam-diam Alfred mencatat untuk mencari informasi terlebih dahulu sebelum berkata.
"Aku biasanya menggunakan metode casting yang lain. Hari ini adalah pertama kalinya menggunakan yang lebih umum," jelasnya. "Bisa dikatakan aku telah berpengalaman dalam hal casting."
Itu tidak sepenuhnya berbohong, Alfred sendiri mengetahui struktur sihir dan bentuknya. Dia hanya memunculkannya dengan metode casting dunia Asdra.
Jika tidak, pasti akan menemui hambatan meski tetap bisa melakukannya dalam sekali coba.
"Juga, bukankah lebih penting lagi jika kau memberitahu gurumu? Jika menunggu esok hari, akan terkesan mendadak, bukan?" jelas Alfred dengan cepat.
Sementara itu, Shaletta menatap Alfred tidak puas. Namun tetap dengan patuh untuk bersiap pergi ke tempat gurunya berada.
"Lain kali, bisakah kita melanjutkan pembahasan ini?"
"... Ya."
Dan Alfred bisa lolos, namun di kesempatan berikutnya mungkin akan jauh lebih sulit untuk lepas dari genggaman Shaletta.
Dalam diam, Alfred mempersiapkan alasan-alasan untuk menyangkal pertanyaan di kesempatan berikutnya.
...Bersambung...