
Beberapa menit berlalu setelah ledakan itu terjadi.
Alfred dan Elard tergeletak dengan ekspresi pucat.
"... Entah kenapa kita bisa selamat."
"Kau benar."
"Kupikir kita tadi akan berakhir."
"Itu karena menggunakan serangan kuat dengan ceroboh."
"Tapi yang melakukan serangannya bukankah kau sendiri?!"
Saat Alfred menjawab pernyataan Elard dengan datar, tiba-tiba salah membuat kalimat yang membuatnya marah.
Namun Alfred tidak menyesal atau bersalah.
Karena dia berkonstribusi untuk keselamatan keduanya dengan menggunakan teleport pada detik terakhir, serta menggunakan barrier beberapa lapis.
Selain itu, serangan tadi sangat penting sebab....
"Yah, itu adalah pilihan terbaik, aku tidak menyesal menggunakannya, mungkin."
"Apa maksudmu?"
Alfred tidak menjawab, dan hanya mengalihkan pandangan.
Elard bingung namun saat mengikuti pandangannya, dia melihat golem yang terkena serangan telak tadi.
Dampak serangan tadi sangat kuat, itu fakta karena terlihat kawah besar membentang sejauh beberapa kilometer dan penuh dengan nyala api dan lava.
Namun hal mengejutkannya adalah golem itu masih hidup, setelah menerima serangan dengan telak.
Sebagian besar tubuh golem itu telah hancur dan hanya menyisahkan kerangkanya saja.
Keduanya langsung tahu bahwa golem itu sekarat.
Hal itu membuat Elard memahami apa yang Alfred maksud.
Setelah menerima serangan mutlak tadi, golem itu masih hidup. Jika Alfred menggunakan sihir yang lebih lemah maka mereka akan dihabisi.
Namun pilihan Alfred, atau lebih tepatnya karena ingin mengakhiri dengan cepat, serangan mematikan serta ekstrim dipilih.
Meski membuatnya hampir mati, namun tetap tidak masalah karena hasilnya setimpal.
Golem itu mulai memasuki fase sekarat sebelum mati.
Karena itulah, apa yang harus keduanya lakukan adalah menunggu golem tersebut mati.
Sementara itu, Alfred membeli Heal Potion lalu meminumnya.
Tidak lupa dia membagikan pada Elard.
"Apa yang kau lakukan setelah ini?"
Setelah meminum potion dan luka keduanya sembuh, Elard bertanya.
"Tidak tahu, mungkin tidur."
Meski Alfred sepenuhnya tidak butuh tidur, namun setelah mengalami pertarungan tadi dia merasa lelah dalam hal lain.
Karena itulah, dia ingin beristirahat dari pertempuran.
Alfred pikir akan melanjutkan untuk mempelajari lebih banyak sihir agar kejadian beberapa menit lalu tidak terulang.
Jika bukan karena kebetulan dia mengingat hampir semua serangan yang pernah digunakan, mungkin akhir pertempuran akan berbeda.
Banyak serangan yang bisa dia gunakan agar menang melawan monster.
Mungkin saja Elard bertanya apakah akan melanjutkan berlatih pedang atau tidak.
Alfred pada dasarnya tahu alasan dia diseret masuk kedalam peperangan adalah untuk menilai harus dari mana memulainya.
Namun situasi tidak terduga membuat keinginan bertempur Alfred habis, jadi dia akan menolaknya.
"Kalau begitu bagaimana tentang latihannya?"
"Di lain hari saja, aku terlalu lelah untuk bertarung lagi."
"Yah, sudah kuduga. Tapi, jika kau memiliki kekasih mungkin akan beda cerita."
"Apa maksudmu?"
"Perasaan disemangati lalu melakukan begitu dan begini. Kemudian kau akan semangat tanpa lelah!"
Alfred bingung dengan ocehan tidak masuk akal itu.
Namun tetap menjawab dengan serangan kritis.
"Aku tidak ingin mendengar itu dari pengecut yang belum laku."
Elard langsung tertegun kemudian ekspresinya menjadi kesal.
"Kau berkata seolah-olah bukan sepertiku! Padahal juga sama, bukan?"
"Hump! Aku bukan pengecut tidak laku sepertimu. Setidaknya karena terlalu banyak mengalami itu, aku menjadi bosan untuk mencari lagi," balas Alfred dengan tak acuh.
Elard dibuat tercengang dengan pernyataan tidak terduga itu.
"Ap-apa apaan itu?! Sial! Kau pengkhianat!"
Lalu Elard mengocah berbagai hal, Alfred tidak membalas karena sia-sia. Selain itu dia yakin Elard salah paham dengan beberapa hal.
[Misi telah selesai]
[Mendapatkan 131,987,400 poin, skill Ruler of Ice, Frost Mask, Frost Armor, Frost Boots, dan 1 Ice Core]
Tugas telah selesai, pikir Alfred.
Kemudian dia berdiri lalu menatap Elard yang mengoceh.
"Aku akan kembali, apa kau akan tetap disini paman?"
"Kau tidak menunggu golem itu mati terlebih dahulu sebelum mengambil jarahan?"
"Tidak, aku tidak membutuhkannya. Ambil saja jika paman ingin," ujar Alfred sebelum melanjutkan.
"Golem itu sudah mati, jadi kalau paman ingin mengambil materialnya maka silahkan. Juga cepatlah kembali, terlalu merepotkan jika aku harus turun tangan karena paman tidak ada."
"Kenapa kau bisa tahu golem itu sudah mati? Oi!"
Tanpa memperdulikan Elard yang mengungkapkan ketidak puasannya, Alfred pergi dari sana dengan skillnya.
Alfred tidak sabar untuk membeli buku lain juga mengganti peralatannya.
Entah kenapa, dia merasa sangat beruntung karena bertemu Shaletta dan Howard.
Jika tidak, mungkin Alfred akan bermasalah dalam pengumpulan poin.
Sekarang poinnya telah melimpah. Waktunya membeli perlengkapan baru dan menambah kekuatannya.
...Bersambung...