
"ini..." Hardy seperti mempertanyakan siapa pria muda yang baru tiba di depan mereka ini
"dia suami ku,Ervin.." kata Irene menjawab pertanyaan Hardy
"oh.." Hardy kaget sekali tapi ia dengan kuat berusaha menutupi kekagetan nya.
ternyata memang benar ini suami nya Irene? Kenapa sama sekali jauh dari bayangan yang di ceritakan Nena pada nya
entah kenapa ada sebesit kekecewaan di hati Hardy, ia sebagai pria sebetul nya masih berharap kalau suami Irene tidak lebih baik dari nya. Namun kalau seperti ini sosok suami nya Irene tentu saja tak mungkin ada diri nya lagi di mata Irene. Sebagai sesama lelaki ia merasa sangat kalah...
karena terlalu banyak yang di fikirkan Hardy jadi nya ia hampir tak sadar kalau Ervin mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan nya..
"perkenalkan aku Ervin suami Irene" kata Ervin
Dengan buru-buru Hardy pun langsung menerima jabatan tangan Ervin
"dia teman ku, kakak senior ku waktu masih sekolah dulu vin, Hardy" Irene memperkenalkan..
"Hardy.." balas Hardy ramah pada Ervin
"asli orang sini ya..?" Ervin yang memang anak gaul jadi mudah mencari topik
"iya.." jawab Hardy, ia merasa lebih tua dari Ervin tapi kelihatan sekali Ervin ini berwawasan luas lebih dari diri nya. Sekali lagi Hardy merasa kalah...
"main-main lah ke kota J.." Kata Ervin
"teman-teman ku rame,nanti bisa kolingan kalau misal nya mau main ke sana" tawar Ervin tulus
Ervin bukan nya tak tau siapa itu Hardy, Irene tentu pernah cerita masa lalu nya yang pernah dekat dengan seorang pria. Saat Irene memperkenalkan tadi Ervin tentu langsung menangkap siapa orang ini..dia Hardy yang di maksud..ya,tentu saja Ervin sudah tau. Namun Ervin mmg fikiran nya tidak sempit, dalam pemahaman hal ini untuk anak super kota seperti nya ia terlalu keren dan masa bodoh dengan segala bentuk masa lalu dengan keaneka beragaman nya.
"bisa lah kapan-kapan nanti pergi buat main,, aku pernah dua tiga kali baru-baru ini ke kota J tapi itu pun untuk mengurus kerjaan" kata Hardy, ia mulai enjoy menjawab obrolan Ervin. Ia akui Ervin ini orang yang pandai bicara seperti nya latar belakang nya bukan lah dari orang sembarangan.
"oh ya..di mana itu? Kapan-kapan hubungi saja kita.." balas Ervin lagi
Hardy mengangguk mantap
"aku ke kota J menjadi sebagai perwakilan atasan tempat ku bekerja, ya.. untuk mengurus kerja sama dengan perusahaan Tuan Permana.., apa kau tau perusahaan besar itu?" tanya Hardy
"Permana?" Ervin mengulang nama itu
"iya PM group, Tuan Ronald Permana..apa kau mengenal nya?" tanya Hardy saat melihat alis Ervin yang berkerut
Ervin terkekeh
"bagus sekali, nanti aku akan minta papa ku untuk mengerjakan proyek itu bersama mu" kata Ervin bersemangat
"maksud nya?" Hardy tak mengerti..
"iya aku putera tunggal Tuan Ronald Permana..dari PM group" Ervin mengatakan secara langsung
Tentu saja Hardy terperangah.. lagi-lagi pria di depan nya ini super hebat tidak main-main. Jadi ini suami Irene yang kata nya bocah itu? Hardy takjub, kalau ini sih bocah bukan sembarangan bocah.
"jadi kamu...putera tunggal Tuan Ronald yang akhir-akhir ini sering di ceritakan atasan ku itu?" Hardy hampir tak percaya, pantas saja sejak awal aura Ervin ini tidak lah biasa..
"memang nya apa kata atasan mu?" Ervin penasaran..
"putera tunggal Tuan Ronald mereka mengatakan kau Pangeran Briliant.." kata Hardy jujur
iya lah.. bagaimana tidak? Ervin bahkan belum ikut turun ke lapangan, namun ide-ide nya yang baru di keluarkan di awal begitu sangat dahsyat.
"benarkah kau akan mengerjakan proyek ini bersama ku? Aku sangat bangga sekali menerima nya" Hardy sangat senang, ini suatu keberuntungan bertemu putera Tuan Ronald di tempat seperti ini
Senyum Hardy mengembang,senang..tapi tiba-tiba ponsel nya berbunyi. Itu adalah panggilan dari Nena..
"maaf..saya ada urusan" kata Hardy minta diri dengan sopan
"silahkan" sahut Ervin
"mari Irene..Ervin..hmm pak Ervin" Hardy sungkat
"Ervin saja.." balas Ervin tersenyum
"oke vin.." Hardy segera undur diri.
sepeninggalan Hardy..,
"benar seperti yang kau bilang, Hardy orang nya lumayan asik dan smart..." puji Ervin tulus
"memang..tidak ada yang salah dengan nya.." Irene meng-iyakan
"satu-satu kesalahan nya hanyalah tertipu daya oleh Nena" kata Irene
Irene dan Ervin melangkah ke parkiran..
"maksud mu dia pilih Nena itu salah? Jadi harus memilih mu begitu?" goda Ervin
"Ervin..bukan begitu" Irene mendelik
"jika Nena tulus pada nya itu tidak apa, tidak ada kesalahan. Tapi seandai nya dia tahu kalau Nena mendekati nya waktu itu hanya lah untuk mengalahkan aku..entah apa jadi nya" kata Irene, kadang ia kasihan juga melihat Hardy jadi korban kepicikan Nena.
"semoga Hardy tak terlambat menyadari nya.." balas Ervin seraya memasukkan belanjaan ke bagasi mobil.
"ya..semoga tidak apa-apa. Masalah nya mereka sudah bertunangan.." ujar Irene, ternyata Irene sudah tau perihal pertunangan Nena dan Hardy dari Ibu nya.
"kok bisa?" Ervin penasaran
"ya bisa lah.., mereka kan memang saling suka. Hardy suka dan di tambah menganggap Nena tulus pada nya, dan Nena meneruskan semua ini hanya karena ingin menjatuhkan ku, itu saja. Semoga ia cepat sadar" Irene menghela nafas, ia juga kadang merasa Nena itu aneh, sepupu sendiri tapi busuk hati nya sudah sangat kelewatan parah.
Sementara itu Hardy masuk dan menemui Nena
"kamu kemana? Lama amat sih?" kata Nena dengan raut sebal
"tadi aku ketemu kenalan di depan.." jawab Hardy
namun Nena langsung dengan cepat menerka kalau kenalan itu bisa saja Irene
"kamu ketemu Irene ya? Kamu gak mikir perasaan aku gitu?" Nena mulai melotot, wajah cantik nya merah padam.
Hardy merasa aneh, jadi Nena sudah lebih dulu tau kalau Irene ada di kota ini..tapi kenapa ia tidak memberi tahu? Hardy masih mencoba berfikiran positif..bisa saja karena Nena takut ia CLBK lagi dengan Irene, ya itu wajar.
"jawab kamu ketemu Irene?" cecar Nena
"enggak..aku kebetulan gak sengaja ketemu sama putera nya pemilik perusahaan yang bekerja sama proyek besar dengan atasan ku baru-baru ini.." walau tak sepenuh nya bohong, mau tak mau Hardy menjawab seperti itu.
inti nya Hardy memang bertemu putera pemilik perusahaan, tapi ia tak mengakui ada Irene juga ada di sana, Hardy tak mau urusan nya jadi makin runyam nanti nya.
Dalam diam nya Nena menatap Hardy..
kok gara-gara tabrakan sama cowok ganteng tadi ia malah jadi kepikiran betapa mempesona nya cowok tadi. Gara-gara itu Nena merasa ia melihat Hardy jadi gak ada apa-apa nya.
"hmmh seandai nya cowok tadi mau sama aku..aku mau banget sih ngebuang Hardy secara aku juga gak cinta-cinta banget sama si Hardy ini.." batin Nena jahat...