
Hari kedua Irene berada di kota B namun Nena belum bertemu langsung juga. Ia tak punya alasan untuk bertandang ke rumah tante nya. Ia bisa saja datang dengan tidak tau malu di hadapan Tante nya dan juga Irene tapi ia segan pada suami Tante nya. Lebih-lebih hubungan nya dan Andra sepupu nya juga tidak baik, sejak dulu memang Andra tak pernah menyukai si Nena ini walau masih kerabat nya. Sifat nya terlalu di buat-buat jadi Andra tidak suka. Nena juga agak tak berani pada Andra meskipun Andra sebetul nya lebih muda dari nya.
Nena mulai mencari cara karena penasaran seingat nya Irene sangat sering berbelanja ke swalan di ujung jalan Persik. Kemarin Nena sudah celingukan sejak pagi di sana, pura-pura ke kafe terdekat namun hingga pukul sembilan tak ada Irene muncul..
Hari ini seperti nya keberuntungan berpihak pada Nena, ia melihat sosok Irene masuk ke pintu swalayan dan ia pun buru-buru menyusul nya.
Irene hari ini rencana nya berbelanja di temani oleh Ervin secara pengantin baru mau nya deketan terus ya kan. Tapi karena tadi Ervin masih membantu Andra membersihkan pekarangan depan jadi nya Irene pergi dulu dan nanti Ervin akan menjemput nya.
"wah gak nyangka, ya kita bakal ketemu di sini.." kata Nena berpura-pura suprise
Irene tentu sudah hafal tingkah laku Nena, kebetulan apa nya? Batin Irene. Lalu kalau biasa nya orang senang berjumpa kerabat tapi jika dengan Nena, Irene sama sekali tidak senang. Ya mana senang lah ketemu sepupu yang gak pernah mau kalah sedikit pun ini.
"apa kabar kamu Irene?" tanya Nena sok ramah
"baik.." Irene memilih sibuk dengan bahan makanan di rak
melihat Irene yang dingin pada nya, ia langsung menyerang dengan kalimat pedas
"sudah lama,ya. Tapi kelihatan nya kamu masih dendam pada ku" kata Nena tak puas hati
Irene tidak menggubris, pura-pura tak mendengar. Seperti nya si Nena ini merasa duri di kaki nya sendiri.
"apa kamu belum move on sama Hardy. Udah lah Irene..terima aja kalau Hardy lebih milih aku" Nena berkata dengan tidak tau malu
merasa Irene tak terpancing juga, Nena berkata lagi..
"apa suami mu si bocah itu tidak lebih baik dari Hardy..? Irene..Irene..kamu sebegitu patah hati nya sampai menikah dengan bocah" terdengar sekali kalau perkataan Nena ini menghina Irene
Irene bisa diam jika Nena mencari gara-gara. Tapi ia tak bisa diam saja jika sampai menyinggung Ervin suami nya. Mau bocah bagi orang tapi tetap saja Ervin pria yang sudah dewasa..apalagi sekarang Ervin adalah suami nya.
"kamu seperti nya sangat penasaran dengan hidup ku?" ujar Irene sinis
tepat sasaran! Muka Nena langsung berubah
"siapa yang penasaran?" ketus Nena berusaha mengelak perkataan Irene yang benar ada nya
"jangan sok cantik kamu Irene..bukti nya aku lebih cantik dari pada kamu karena Hardy memilih ku" kesal Nena
Irene hanya tersenyum santai seraya berkata..
"entah lah..itu hanya anggapan mu saja" balas Irene..
"jangan sok kamu Irene, kamu fikir kamu hebat?" serang Nena lagi
"ya..setidak nya bisa membuat mu terus-terusan kebakaran jenggot kan" celutuk Irene seraya meninggalkan Nena
Nena kesal, Irene sudah menjauh padahal ia bahkan belum sempat pamer cincin pertunangan nya dengan Hardy. Padahal sebelum nya tadi ia sudah menelepon agar Hardy menjemput nya nanti biar Irene makin panas menyaksi kan nya.
Setelah selesai dengan belanjaan nya di kasir Irene segera keluar dari swalayan untuk menunggu jemputan Ervin. Tapi saat Ervin tiba mereka malah berselisih jalan.
"maaf.." kata Ervin kaget
Nena tidak sempat berkata maaf, awal nya ia ingin marah tapi saat ia melihat sosok yang menabrak nya ia kaget bukan main.
selama ini hanya Hardy pria paling tampan di sekitar nya, bila pria tampan hanya di dapat lihat lewat televisi dan layar ponsel, aktris selebritis misal nya. Nena begitu terpana melihat sosok pria muda yang menabrak nya begitu sangat mempesona seperti selebritis. Ia belum pernah melihat pria setampan ini secara langsung, kecuali Andra sepupu nya adik Irene. Andra memang adalah paling ganteng di keluarga nya. Tapi jika di perhatikan Pria muda ini lebih dua tiga poin di banding Andra. Padahal Andra itu udah sangat ganteng ya.
Ervin yang melihat Nena bengong menatap nya, Ervin merasa tak ada yang salah dengan diri nya. Ervin merasa ia tidak bertanduk apalagi salah pakai baju.
Ervin akhir nya berlalu meninggalkan Nena yang masih bengong karena terpesona.
Hardy baru saja tiba di depan gerbang swalayan dan kaget melihat wanita cantik yang berdiri di sekitar gerbang
"Irene..?" panggil nya dengan intonasi suprise, Hardy tak tau Irene kembali ke kota B baru-baru beberapa hari ini. Tentu nya Nena tak akan kasih tau lah sama Hardy
Irene menoleh..
"eh, Hardy.." Irene merasa Hardy bukan siapa-siapa jadi ia hanya bersikap biasa sebagai teman saja.
"kamu kapan kembali?" tanya Hardy
"baru dua harian ini kok" senyum Irene
Hardy terlihat masih mengagumi Irene bagaimana pun ia pernah menaruh hati, apa lagi kelihatan nya Irene makin mempesona.
Hardy pun teringat kalau Irene sudah menikah..
"kok tidak sama suami?" tanya Hardy hati-hati, ia juga penasaran siapa suami Irene, apakah lebih tampan dari nya. Ia pernah mendengar dari Nena kalau suami Irene adalah bocah ingusan.
"ini saya sedang menunggu dia menjemput.." jawab Irene apa ada nya..
"oh.." Hardy mengerti.
Irene tidak balas bertanya, karena sudah pasti Hardy juga kesini untuk menjemput Nena.
baru saja Hardy akan mencari topik pertanyaan lagi, Hardy melihat sosok pria muda tampan muncul di antara mereka. Pria ini berperawakan tinggi jangkung, bahkan lebih tinggi dari diri nya.
"Sensei.." panggil Pria itu lembut, dia adalah Ervin
"aku cari kamu ke dalem lho" kata Ervin lembut, ia kadang kala lebih nyaman memanggil Irene dengan sebutan sensei.., karena ia sudah terbiasa selama Irene jadi guru di sekolah nya.
"kenapa kamu gak nelepon aku?" tanya Irene
"tadi aku mau nelepon tapi malah ketabrak orang lewat,terus aku masuk lagi tapi jadi mikir kamu mungkin sudah di luar" kata Ervin seraya mengambil tas belanjaan dari tangan Irene
Hardy mencerna panggilan pria muda itu pada Irene barusan, Sensei..?
seingat Hardy kata Nena suami Irene adalah murid nya sendiri dan apakah ini.. Tapi pria ini sama sekali tidak seperti bocah dalam bayangan nya, ia bahkan terlihat sangat dewasa seperti sudah berusia di atas Irene. Ia seperti sosok Pengusaha muda, bukan seperti siswa. Yang kata nya suami Irene adalah bocah belasan tahun? Jika ini orang nya sama sekali tak mirip remaja belasan tahun.