
Saat tadi Ervin menyelinap dari kerumunan murid yang hendak balik ke kelas ternyata kelakuan nya itu tak sengaja di lihat Irene yang akan hendak pulang karena jadwal mengajar nya baru saja usai di kelas C.
Irene heran mengapa Ervin malah melangkah ke arah yang berbeda dari murid-murid lain di saat kelas akan di mulai.
Irene terus mengikuti Ervin, dan akhir nya ia melihat jelas kalau siswa nya ini malah duduk santai di dekat koridor peralatan olahraga sekolah. Irene pun akhir nya menyadari...Ervin ini sedang bolos
"Ervin.." panggil Irene suara nya terdengar jelas di suasana yang sepi, apalagi di dekat ruangan peralatan olahraga yang ukuran ruangan nya sangat besar itu suara akan makin sangat jelas.
gedung sekolah yang megah ini bunyi ketukan sepatu saja akan bergema di tambah saat suasana sudah sepi karena murid sudah di kelas nya masing-masing
Ervin terang saja kaget, ia tak menyangka akan ada oranglain yang memergoki nya di sini.
Saat Ervin menoleh sontak ia terkejut dengan sosok Irene, ya jelas saja ia sedang bolos dan malah kepergok salah satu guru nya seperti sekarang ini...
"Sen..sei.." Ervin kaget dan spontan berdiri dari posisi duduk nya serta buru-buru menyimpan ponsel ke saku nya kembali.
"kamu ngapain? Kamu bolos..?" tanya Irene seraya melangkah mendekati Ervin
Ervin bingung juga mau gimana ngejelasin nya...soal nya ia bolos saat ini karena ada alasan nya, wong biasa nya dia bukan tipe murid yang suka bolos kok..
"itu.." Ervin mencoba merangkai kata nya
"itu..itu apa?" Irene tak sabaran
belum sempat Ervin beralasan tiba-tiba dari jauh terdengar langkah kaki sepatu pantofel..yang kian makin mendekat. Jelas sekali bisa di tebak itu pasti adalah suara langkah kaki guru Bp yang akan memeriksa apakah ada murid yang bolos saat ini. padahal tadi Ervin sudah bersiap kalau ada guru BP kemari maka ia akan ngumpet di ruangan penyimpanan peralatan olahraga di dekat nya.., atau ngumpet ke samping koridor lalu berlari ke arah lain, yaaa kalau lagi sendirian mudah lah ya kalau cuma sekedar main petak umpet sama guru BP..
karena mendengar suara langkah yang makin mendekat Ervin pun mulai cari strategi, sembunyi atau kabur..,tapi Ervin rasa kabur dan sembunyi adalah hal yang percuma saja karena Irene sensei jelas-jelas sudah memergoki nya sejak tadi. Mau saat ini diri nya berhasil lolos dari guru BP pun tetap saja Irene sensei akan mengatakan nya nanti pada guru Bp tentang diri nya yang bolos kan?
Jadi tanpa fikir panjang, Ervin spontan menarik tangan Irene dan membawa guru nya itu menyelinap ke ruangan Penyimpanan peralatan olahraga.
"aku akan jelasin sama sensei nanti" kata Ervin seraya menarik Irene
Irene kaget bukan main..
Saat mereka sudah berada di dalam ruangan penyimpanan tersebut, kebetulan guru Bp pun sampai di depan ruangan tersebut
"jelas-jelas aku mendengar suara di sini.." gumam guru Bp itu
Guru Bp tersebut terus mengedarkan pandangan nya ke sekitar. namun karena merasa curiga dan penasaran, ia pun akhir nya masuk ke ruangan penyimpanan...
Krieeet..pintu di buka oleh guru Bp tapi ia tak melihat siapa-siapa di sana. Saat ini Ervin dan Irene berada di dalam lemari penyimpanan peralatan baseball..
saat Guru BP itu akan masuk semakin jauh lagi tiba-tiba ponsel nya masuk pesan dan itu adalah dari rekan sesama guru
✉️
guru Bp yang bernama pak Riwan ini pun segera menyanggupi isi pesan itu dan bergegas pergi dari area ruangan Penyimpanan peralatan olahraga tersebut.
Irene yang berada di dalam lemari bersama Ervin bukan nya ia sengaja diam saja. Tapi selain saat ini mulut nya di bekap telapak tangan lebar Ervin, di tambah lagi tubuh nya juga Ervin peluk dengan sangat erat. Jadi posisi nya tangan kanan Ervin membungkan mulut Irene sedangkan tangan kiri nya memeluk erat tubuh Irene, hingga Irene yang tidak tinggi harus berada dalam apitan ketiak Ervin, secara pemuda bernama Ervin ini memang tinggi orang nya.
Irene bisa saja meronta tapi dampak yang terjadi akan sangat banyak, selain panjang urusan nya yang mungkin akan membuat masadepan pendidikan Ervin terancam, di posisi diri nya sebagai guru juga tentu akan berdampak sangat tidak baik.
Satu lagi walau pun berada dalam dekapan Ervin dan terjebak di dalam lemari seperti ini bukan lah mau nya Irene tapi yang jelas dalam posisi berdempetan di ruangan lemari yang sempit ini mungkin mereka tak sadari kalau jantung kedua nya berdetak dengan begitu sangat kencang nan dahsyat.
Saat suara langkah kaki guru Bp makin menjauh dan akhir nya menghilang, Ervin menarik nafas lega...,begitu juga dengan Irene
entah kenapa ia ikut-ikutan deg-degan merasa seperti murid yang sedang bolos juga. Ini semua gara-gara Ervin...
Ervin mengalihkan pandangan nya yang sejak tadi menatap siaga ke celah lemari kali ini beralih menatap pada wanita dalam dekapan nya..
Deg...! Jantung Ervin berdetak saat mata nya bertemu dengan mata Irene yang mana saat ini kepala nya Irene di apit Ervin di ketiak nya. Wow...jarak yang sedekat ini??? Di tambah lagi telapak tangan Ervin masih stay di posisi menutup mulut Irene dengan sangat int-im.
Mata dua orang ini saling beradu dalam sepersekian detik...
Dan saat kedua nya tersadar, Irene langsung berontak perlahan dan Ervin juga langsung melepaskan penguasaan nya pada tubuh Irene yang telah berlangsung beberapa saat tadi itu.
"Sensei...maafin saya.." bisik Ervin sebelum Irene sempat melakukan apa pun
Irene segera membuka pintu lemari dan keluar, Ervin ikut di belakang nya..
"saya sudah ikutin mau kamu, sekarang kamu jelasin kenapa kamu malah bolos di jam pelajaran Bahasa sekarang ini?" tanya Irene tegas tapi suara nya di pelankan agar tak ada yang mendengar, takut nya malah datang orang lain lagi nanti nya
Ervin garuk-garuk pelipis nya yang tidak gatal...
"Ervin..." Irene mendesak nya agar bicara
"aku gak suka sama guru bahasa yang menggantikan Bu Ranin.." Ervin menyebutkan nama guru Bahasa mereka di kelas dua belas yang kita tahu hari ini sedang berhalangan hadir.
"kamu gak suka dengan Bu sina maksud nya?" Irene coba memahami apa yang Ervin sampaikan pada nya ini
"iya, aku gak suka Bu Sina.." jawab Ervin
"kenapa kamu sampai gak suka sama guru yang sudah seusia orangtua kita? Memang kamu punya masalah apa?" Irene merasa Ervin tak masuk akal
Ervin pun mulai bercerita pengalaman nya di kelas sepuluh di saat Bu Sina selalu memberikan nilai rendah untuk nya pdahal ia termasuk murid yang jenius. Bu Sina itu gak fair sebagai guru..dia ngasih nilai bukan bergantung kepintaran si murid tapi kadangkala kalau ia tak suka maka ia juga akan kikir memberikan nilai. Harus nya nilai rata-rata Ervin dalam mata pelajaran Bahasa bisa saja mencapai 99 tapi ia berikan mentok di 70.
Untung nya Ervin ini termasuk jenius dalam hampir setiap mapel jadi nilai Bahasa itu tidak terlalu mempengaruhi nilai raport nya karena tertolong dengan nilai mata pelajaran yang lain.
Bu Sina terlalu sulit menjatuhkan Ervin dalam nilai nya karena Ervin terlalu jenius, jadi ia hanya bisa memberikan di 70 agar tak terlalu kentara. kalau menurutkan hati ya mungkin ia ingin memberi nilai raport Ervin di angka 40 saja, tapi jika terlalu jauh perbedaan nya dari nilai asli seperti itu maka Bu Sina merasa semua malah akan mempesulit nya dan membuat hal ini jadi bumerang untuk Bu Sina sendiri.