
Beberapa hari semenjak makan malam itu, kadang kala papa Ervin masih kefikiran juga sama nama lengkap yang di sandang Irene.
Hingga pada suatu hari Ervin mengatakan pada Papa nya bahwa Irene mengundang nya di sebuah Restoran.
Papa yang memang awal nya dulu melarang hubungan Ervin dan Irene tapi memang agak melunak hati nya setelah pertemuan makan malam itu pun meng-iya kan saja undangan itu walau ia punya pertanyaan juga ada apa gerangan?
Siang itu papa Ervin menyempat kan diri nya memenuhi undangan pada Resto yang di maksud. Saat itu papa Ervin melihat Irene yang tersenyum ramah dan sopan menyambut nya
"ada urusan apa mau bertemu saya ?" tanya Papa Ervin dengan sikap wibawa agar ia tetap terlihat gimana gitu di depan Irene ini.
Papa Ervin melangkah duluan masuk ke dalam di ikuti Irene di belakang nya mencoba mensejajarkan jarak langkah dengan sopan sekitar satu dua langkah
"tidak om, saya tidak ada keperluan apa-apa dengan anda.." jawab Irene apa ada nya
Papa Ervin menghentikan langkah menoleh pada Irene dengan rasa heran campur kesal, memang nya apa maksud nya memanggil kemari, buang waktu saja
"yang mau bertemu dengan anda bukan saya.." kata Irene lagi agar papa Ervin ini tidak keburu marah, tau sendiri papa nya Ervin ini pemarah nya minta ampun
papa Ervin bertanya-tanya dong...memang nya siapa yang mau ketemu ya kan
"silahkan om.." Irene mempersilahkan papa Ervin untuk melanjutkan langkah lagi
Dengan rasa penasaran, Papa Ervin ikut saja..seperti nya Irene menggiring nya ke tempat nomor meja yang di maksud.
"itu om orang yang mau bertemu dengan anda.." kata Irene saat sampai di satu meja
Papa Ervin menyipitkan mata melihat orang yang di maksud tapi tiba-tiba ia terbelalak kaget bukan main...
"Henra.." papa Ervin merasa tak mempercayai penglihatan nya sendiri
Yang di sapa itu pun tersenyum melihat ke arah papa Ervin, dia adalah Henra Kamran..Ayah nya Irene.
"apa kabar Ronald..?" sapa Henra Kamran yang tak lain adalah Ayah nya Irene ini.
Dua orang langsung berdekapan layak nya dua sahabat, dua saudara yang lama tak berjumpa..
Ayah Irene dan papa nya Ervin ternyata adalah teman lama, mereka teman baik.
"kabar aku baik.., kamu sehat Hen?..istri mu juga sehat kan?" cecar papa Ervin, mata nya berkaca menahan haru
"kami semua sehat..wah kamu sudah hebat sekarang Ronald.." puji Ayah Irene tulus
"ah..tidak. Kamu terlalu memuji ku,Hen.." balas papa Ervin
"kau kemana saja,Hen? aku mencari mu saat kembali ke tanah air?" tanya papa Ervin
"panjang cerita nya, ayo kita ngobrol sambil duduk..aku sudah pesan kan meja biar kita bisa sekalian makan siang bareng " ajak Ayah Irene
"wah..kamu sudah merencanakan pertemuan kita ya? Sampai sudah pesan nomor meja segala" papa Ervin terkekeh
"iya..nald, apa lagi kita sudah tua ini kalau ngobrol berdiri terus bisa kumat encok ku" Ayah Irene melucu dan Papa Ervin tergelak di buat nya.
Kilas balik cerita nya dulu sewaktu papa Ervin masih bujangan, ia pantang bergantung apalagi menyusahkan orangtua, terlebih lagi saat dulu kakek nenek Ervin bukan lah orang yang kaya raya, mereka hanyalah keluarga dari kalangan biasa.
saat papa Ervin menempuh pendidikan sendiri,bekerja paruh waktu agar bisa meraih gelar. Dia merantau dari kota ke kota, sampai akhir nya bisa melanjutkan pendidikan dan meraih kesuksesan hingga saat ini. Karena itu lah papa Ervin tak pernah memanjakan Ervin dengan segala kemewahan yang apa-apa di turuti tanpa Ervin berusaha. Papa Ervin tak mau Ervin jadi anak manja yang pada hakikat nya hal itu akan menjadi kan Ervin sosok pemuda yang tak mau mengenal proses. Papa Ervin ingin putera nya menjadi sosok pintar,cerdas dan mau bekerja keras. Karena sang papa sudah di merasakan betapa keras nya hidup ini.
Pada masa sulit nya papa Ervin muda dulu itu ia bertemu dengan pasangan muda suami istri yang memiliki seorang bayi perempuan. Lebih tepat nya mereka adalah Ayah dan Ibu nya Irene ini. Dan bayi itu adalah Irene.
Pasangan suami istri ini banyak berjasa pada Papa Ervin. Mereka sering kali membantu Papa Ervin yang baru di kenal nya dan bahkan menganggap nya seperti saudara, hingga selama Papa Ervin mengalami masa sulit yang terhitung tahunan, Ayah dan Ibu Irene selalu ada untuk papa Ervin. Untung lah pada masa itu kehidupan Ayah Ibu Irene memang sudah sangat baik dan terjamin karena dua orang ini lahir sama-sama lahir dari keluarga kaya. Jadi mereka hidup nyaman secara turun temurun..
Lambat laun mereka putus kontak setelah nya, itu tepat nya saat Papa Ervin pernah menerima tawaran pelatihan ke luar Negara selama dua tahun dari tempat pendidikan nya, lalu setelah nya kontak pasutri itu tidak pernah aktif lagi sama sekali.
Bahkan sampai Papa Ervin kembali ke tanah air, pasutri itu juga hilang kabar dan tidak lagi tinggal di kota nya yang lama. Setelah Papa Ervin bertemu jodoh nya yaitu mama Ervin yang sekarang, Papa Ervin tak kunjung jua bertemu dengan pasangan suami istri yang sangat lah baik ini.
Bertahun lama nya mereka tak pernah berjumpa lagi hingga baru berjumpa di saat ini, kedua nya sudah sama tua.
"silahkan di lanjutkan Ayah nostalgia nya, Irene tinggal dulu" kata Irene pada Ayah nya, Henra Kamran
Ayah Irene ini pun tersenyum menanggapi perkataan puteri nya ini
Saat Irene akan pergi
"tunggu..Irene ini puteri kamu, Hen..?" tanya Papa Ervin penasaran
"iya, kamu lupa? Dulu kamu sering gendong juga kan?" Ayah Irene mengingat kan papa Ervin
Papa Ervin tentu ingat dulu sering gendong bayi teman nya ini tapi ia tak tau kalau itu Irene
"bukan nya dulu bayi kalian bernama Reva? Bukan Irene kan?" papa Ervin heran karena setahu nya anak Henra teman nya ini adalah Reva bukan Irene.
"nah itu juga yang mau ku bahas penyebab kamu gak bisa menemukan aku,nald.." kata Ayah Irene
" jadi pada saat itu nama Irene adalah Reva Rahadiu Kamran seperti yang kamu kenal namun semakin ia tumbuh ia semakin sering sakit-sakitan, akhir nya kami tak menetap karena berobat kesana kemari, sampai pernah pergi ke luar pulau dan luar negara juga sampai menetap di sana.., aku akan cerita bagaimana nama nya bisa berganti.." kata Ayah Irene mulai cerita sedikit.