
Happy reading happy people 😉 😉
**Konten Dewasa..!!!
Harap bijak dalam membaca..!!
POV Author
" Aku tidak bisa menerima semua ini James, ini semua terlalu mahal,aku merasa kamu beli dengan semua pemberianmu ini" Nadine berupaya untuk merubah keputusan James
" Jangan samakan dirimu dengan jalang sayang,aku benar-benar tulus ingin menyenangkanmu" James menatap mata Nadine
" Tapi tidak berlebihan seperti ini juga James,aku menghabiskan waktu membantu dan bercanda denganmu saja sudah membuatku bahagia,karena sejujurnya itu semua tidak pernah ku dapat dari Albie" Nadine begitu serius
" Baiklah kemari... Kita bicarakan disofa, biar aku jelaskan" James menggenggam tangan Nadine dan berjalan menuju sofa
" anggap tas itu sebagai bonus sekaligus upah lembur,okey?.. Dan apartemennya sebagai hadiah karena mulai sekarang kau menjadi kekasihku meskipun aku harus rela berbagi dengan Albie" James meyakinkan Nadine untuk menerima pemberiannya
" Tapi... " belum selesai Nadine berucap,James sudah melumat bibirnya
" Baiklah Tasnya aku terima tapi tidak dengan apartemennya,Aku akan tetap membayar sewanya tiap bulan padamu,dan berkasnya ku serahkan padamu" Nadine masih bersikeras
" aku tidak mau dibayar dengan uang"
" Lalu dibayar dengan apa? Jam tangan atau dasi atau bekal tiap pagi?" Kali ini Nadine tidak mau berfikiran nakal karena saat terakhir kali James berkata demikian,James malah memberikan hadiah bernilai fantastis.
" Bekal tiap pagi juga bisa tapi aku mau bayaran yang lain" James tersenyum nakal padan Nadine
" Aku mau ini" James melumat bibir Nadine dengan lembut
Tangan James sudah berkeliaran bebas di atas tubuh Nadine. James kemudian mengangkat tubuh Nadine tanpa melepas pangutan mereka. Mereka saling menghisap, bahkan mengigit satu sama lain, mereka saling terkekeh
" lidahku sakit sayang" kata James sambil melangkah menuju kamar dengan menggendong Nadine
"Bibirku juga sayang" Nadine menyentuh ujung bibirnya
" Apa? ulang sekali lagi,aku tidak dengar kamu berkata apa?" James mendekatkan telinganya tepat diwajah Nadine
" Bibirku juga sayang" Nadine tampak merona pipinya
" aku senang kamu juga memanggilku sayang bukan pak bos terusan seperti tadi siang" kata james
Nadine tidak tau bahwa James menahan gejolak sejak tadi, karena baginya Nadine bagikan fantasi yang menjadi nyata. James berdebar saat Nadine mengalungkan tangannya dilehernya dan meletakkan dagunya dipundak James saat di gendong depan oleh James,kaki Nadine mengapit badan James. Nadine seperti bocah yang sedang digendong ayahnya tapi ini lebih tepatnya bocah gede.
James merebahkan tubuh mereka dan seketika menindih Nadine,mengurung Nadine di antara dua lengannya dibawah badannya yang bagikan roti sobek. Berharap Nadine terkesima melihat roti sobeknya,James malah mendapatkan kenyataan yang tidak sesuai ekspektasinya karena saat ini Nadine ternyata sudah tertidur sejak perjalanan mereka dari sofa ruang tamu di lantai satu menuju kamar yang berada dilantai dua.
James tidak tega membangunkan Nadine karena James paham betul bahwa hari ini adalah hari yang melelahkan bagi mereka berdua. Jadi terpaksa James harus solo karir di dalam kamar mandi.
*Saat Pagi hari
POV Nadine*
" Jadi semalam tidak jadi bertamu, syukurlah karena aku juga lelah dan ngantuk banget" batinku
Ku lihat kekasihku masih tertidur pulas. ini benar nyata,aku tidak mimpi bahwa dia sekarang menjadi kekasihku,lebih tepatnya selingkuhanku.
Aku segera menyibakkan selimut dan bergegas turun untuk mandi dan menyiapkan sarapan.
Setelah mandi selama 30 menit,kini aku sudah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan ringan seperti roti bakar,telur dan sosis panggang serta tak lupa aku juga membuat susu dan kopi untuk pak bos.
" pagi sayang" dia memelukku dari belakang dan mencium leherku
" mandi dulu James lalu kita sarapan bersama,tapi jika kamu lama maka kamu harus sarapan sendiri karena setelah ini aku masih perlu pulang ke apartemenku untuk ganti baju" ucapanku sambil memutar badan menghadapnya
" baiklah tunggu aku,kita akan sarapan bersama dan setelah itu aku akan mengantarmu pulang" kata James
" okey Deal, tunggu sebentar ya" James mengecup keningku lalu lari menuju kamar mandi
Saat di lobby Apartemenku
" Kamu beneran berangkat sendiri?" James terlihat cemas,aku bahagia sekali melihat seseorang yang benar-benar tulus padaku
" iya beneran kamu duluan aja, hati-hati di jalan" aku melambaikan tangan pada James
Aku segera naik ke Apartemenku. Aku tidak sabar memajang tas baruku dirak kaca bagian atas. Sungguh aku benar-benar tidak menyangka bisa memilikinya apalagi dari seseorang seperti James. Aku sungguh bersyukur bertemu dengannya namun ada juga rasa sesal karena saat ini aku sudah memiliki Albie sebagai tunanganku.
Setelah meletakkan tas di dalam rak kaca, aku segera menganti baju dan bersiap. Aku memakai yellow shift dress Zara dengan blazer Navy wool Armani dan ku padu padankan dengan Stiletto hitam dan tas Chanel Coco handle black tak lupa aku juga memakai jam tangan Aigner AGA32289 hitam dan beberapa aksesoris by ballin. Aku dulu tidak terlalu memperhatikan merk barang,bagiku yang penting nyaman. Namun karena aku bekerja sebagai Marketing dan sering menghadapi klien, berakhirlah aku seperti ini dan sekarang malah menjadi kebiasaan.
Aku sampai di kantor pada pukul 9 tepat jadi masih ada waktu 1 jam sebelum ada meeting dadakan di dalam maupun di luar kantor. Aku terbiasa menuju ruanganku, sampai lupa bahwa aku sekarang menjadi sekretaris Pak bos.
" Dine, Ngapain ada disini? Apa ada barang yang tertinggal?" tanya Tania menyadarkanku
" Ya .. Ampun aku lupa kalo sekarang aku jadi sekretaris tapi kamu kok tau? Ini masih pagi loh,udah gosip aja" kataku
" Lha gimana sih,nih anak ngimpi kali ya.. kan ada digrup kali Bu, kemarin Bu Mira yang ngechat,kamu aja kagak nonggol" Tania memutar bola matanya
" Sorry baterainya lowbat Tan,tau sendirilah kalo aku kerja sampai lupa segalanya"
"kamu itu udah kayak kerbau pembajak sawah aja,getol banget kerjanya, sekali-kali refreshing enak kali Dine biar gak pusing" kata Tania
" Ya udah aku tinggal dulu ya mau ke atas dulu" pamitku dan berlalu
" siiep"
Saat mau masuk lift,aku melihat Albie sedang bersama sekretarisnya di dalam lift tersebut. Kami jadi selift, untung juga saat itu ramai jadi aku tidak perlu menghindarinya.
" Pagi" sapa Albie
" aku?" sambil tanganku menunjjuk diriku sendiri
" iya lalu siapa lagi?" tanya Albie
" oh... Pagi juga" aku berpura-pura tersenyum
"Kamu mau ke lantai berapa biar ku tekankan?" Albie basa-basi
" Mau ke lantai 17" aku hanya melihatnya sekilas karena memang aku enggan untuk mengapai tombol lift karena tepat berada di depan sekretarisnya
Albie berada di antara aku dan sekretarisnya,entah itu saat ini di dalam lift ini, maupun di dalam hubungan kami. Tapi aku sekarang tidak peduli lagi.
" Apakah ada Laporan penting? kenapa tidak diserahkan padaku?" tanya Albie
" Karena aku sekarang kerja tepat di depan kantornya,kamu tau sendiri kan artinya aku sedang perlu apa?" tanyaku tanpa menoleh padanya
" Aku sekarang menjadi sekretaris Pak James CEO kita jadi mulai hari ini dan seterusnya aku akan ke lantai 17 terus" lanjutku.
Sampailah di lantai 15,semua orang turun kecuali aku. Sesampainya di ruang kerjaku, aku menemukan buket bunga dengan selembar surat dan aku membacanya
Selamat datang di meja kerja ini,semoga kamu betah dan bahagia selalu.
Semangat dan jangan lupa senyum saat bersamaku.
-JAMES-
Aku menyimpan surat tersebut didalam tasku. Aku segera berkutat dengan komputer dimejaku dan menyusun beberapa schedule pak bos, bahkan banyak yang harus direschedule karena keterbatasan waktu.Dari memesan restauran,hotel, bahkan tiket pesawat untuk klien yang berada di luar kota maupun luar negeri.
Aku memasuki ruang kerja pak bos, dan dia langsung menoleh dan tersenyum cerah padaku. Hal yang hampir tidak pernah dilakukan Albie.
Thanks for reading 😘**