
Keesokkan harinya. Setelah sarapan pagi dengan Lory, kakak sepupunya. Darren memutuskan untuk ke Kampus. Sementara keempat kakak-kakaknya sudah kembali ke rumah mereka masing-masing.
Saat Darren bersama keempat sahabatnya berada di Kantin Kampus. Setibanya di Kantin, baik Darren maupun keempat sahabatnya memesan banyak makanan dan minuman. Mereka seperti tidak makan beberapa hari saja.
Melihat kelakuan Darren dan keempat sahabatnya. Penghuni Kantin hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka semua menatap Darren dan keempat sahabatnya gemas akan kelakuannya. Begitu juga dengan Vito, Velly dan Nasya dan para sahabatnya. Tak terkecuali Kiran.
"Apa rencana kamu selanjutnya, Ren?" tanya Zidan sembari memakan spaghettinya.
"Rencana selanjutnya aku akan bermain-main dengan keluarga Jecolyn," jawab Darren.
"Keluarga Jecolyn," sahut Zidan, Chico, Barra dan Chello bersamaan sambil menatap wajah Darren.
"Hm," Darren berdehem sambil memasukkan potongan nugget ke dalam mulutnya.
"Apa ini ada hubungan dengan kematian Tante Clarissa, Tante Amanda dan Nenek Victoria?" tanya Chico.
"Iya," jawab Darren.
"Jadi maksud kamu dalang pembunuhan Tante Clarissa, Tante Amanda dan Nenek Victoria dari keluarga Jecolyn?" tanya Chello.
"Iya. Bahkan perempuan itu adalah..." perkataan Darren terhenti ketika melihat para penghuni berlarian meninggalkan Kantin.
Baik Darren, keempat sahabatnya, Vito, Velly, Nasya, Lisa dan para sahabatnya menatap penuh penasaran ketika melihat para penghuni Kantin berlarian keluar.
"Kenapa mereka?" tanya Barra.
Mendengar pertanyaan dari Barra. Darren, Zidan, Chello dan Chico dengan kompaknya mengangkat bahu mereka acuh. Mereka tidak peduli kehebohan tersebut. Yang mereka pedulikan adalah makanan dan minuman yang ada di hadapan mereka saat ini.
Melihat kelakuan keempat sahabatnya membuat Barra mendengus kesal.
Ketika Darren dan keempat sahabatnya sedang menikmati makanannya, tiba-tiba Kiran datang. Dan hal itu sukses membuat Darren dan keempat sahabatnya terkejut.
"Da-darren," panggil Kiran.
Darren meletakkan sendoknya secara kasar, lalu menatap tajam kearah Kiran. "Mau apa lagi, hah?! Kenapa kau selalu menggangguku?!"
"Maaf. Aku kesini..." perkataan Kiran terpotong karena Darren sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Aku tidak ingin mendengar apapun darimu. Lebih baik kau pergi dari sini. Apa kau tidak lihat aku dan sahabat-sahabatku sedang makan. Kalau kau masih disini. Selera makanku dan juga sahabat-sahabatku akan hilang. Jika hal itu terjadi maka semua makanan ini akan jadi mubazir." Darren berucap dengan sangat kejamnya.
Mendengar perkataan dari Darren membuat hati Kiran sakit. Dirinya tidak menyangka laki-laki yang dulu sangat dicintainya yang selalu berkata lembut padanya kini berubah menjadi kasar.
Kiran sadar. Semua ini adalah kesalahannya. Dirinya lah yang telah membuat seorang Darren berubah menjadi seperti saat ini.
"Darren. Aku aku mohon. Kali ini saja. Dengarkan aku. Aku......"
BRAAKK!
Darren menggebrak meja dengan kuat sambil beranjak dari duduknya. Hal itu sukses membuat Kiran ketakutan. Keempat sahabatnya juga ikut berdiri. Zidan yang berdiri di samping Darren berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu.
Sementara di meja lain Vito, Velly, Nasya, Radika dan para sahabatnya juga ikut berdiri. Mereka hanya berdiri di tempat mereka.
"Menjauhlah dariku saudari Kiran Rasendria. Aku tidak mau melihatmu lagi!"
Setelah mengatakan itu. Darren pun pergi meninggalkan kantin dan diikuti oleh keempat sahabatnya di belakang.
PUK!
"Aku tidak bermaksud mengganggu Darren. Aku hanya ingin meminta maaf kepada Darren dan menjelaskan tentang aku dan Veronika."
Mendengar perkataan dari Kiran membuat Chici menatap wajah Kiran. "Sekarang katakan padaku. Kenapa kau bisa kenal dengan Veronika? Sejak kapan kau kenal dengannya?"
Kiran menduduki pantatnya di bangku. Dan diikuti oleh Chico. Chico duduk di samping Kiran. Sementara Radika dan yang lainnya masih di meja mereka. Mereka memperhatikan dari jauh sambil fokus mendengarkan pembicaraan Kiran dan Chico.
Radika berharap Chico bisa membujuk Darren untuk memaafkan kesalahan adiknya itu.
"Aku baru mengenalnya beberapa hari saja. Itupun aku tidak sengaja. Aku bertemu dengannya di jalan. Saat itu dia nolongin aku dari beberapa preman yang ingin melecehkanku. Dari situlah aku kenal dengan dia." Kiran menceritakan awal pertemuannya dengan Veronika.
"Apa saja yang kalian bicarakan setelah kalian dekat?" tanya Chico.
"Tidak banyak. Veronika menceritakan bahwa dia bekerja di sebuah Perusahaan. Dan dia menjabat sebagai sekretaris. Dia bahkan menceritakan bagaimana sosok atasannya itu. Aku yang memang saat itu tidak mengetahui seperti apa wajah atasannya itu hanya tersenyum. Aku mengambil kesimpulan bahwa Veronika menyukai atasannya itu."
"Singkat cerita. Di hari ketiga Veronika memberanikan diri memperkenalkan dan menunjukkan wajah atasannya itu padaku lewat galeri ponselnya. Ketika aku melihat wajah dari atasannya itu. Aku benar-benar terkejut. Ternyata atasannya itu Darren. Hatiku saat itu benar-benar hancur."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Dikarenakan dia sudah terang-terangan menunjukkan wajah Darren, laki-laki yang sangat dicintainya. Aku juga terang-terangan mengatakan padanya bahwa aku adalah mantan Darren. Dan aku masih mencintainya dan ingin kembali menjalin hubungan lagi dengan Darren. Mendengar ucapan dariku membuat Veronika terkejut. Dan berakhir Veronika mengajakku kerja sama untuk mendapatkan perhatian dan cinta Darren."
"Kau menyetujuinya?" tanya Chico.
"Iya. Aku menyetujuinya. Aku ingin menyingkirkan Ataya dari kehidupan Darren. Bukan dalam artian aku ingin mencelakai Ataya atau ingin membunuhnya. Tidak! Aku tidak ada kepikiran sampai kesana. Sungguh!"
"Jadi maksud kamu. Kamu ingin membuat Darren dan Ataya berpisah. Dengan kata lain kau ingin membuat mereka saling membenci. Seperti hubungan kau dan Darren?" tanya Chico yang langsung paham akan kelanjutan dari cerita Kiran.
"Iya. Dengan Darren membenci Ataya atau Ataya yang membenci Darren. Aku bisa masuk dalam kehidupan Darren dan berusaha mengambil hati Darren lagi," jawab Kiran.
"Namun aku malah terjebak dalam permainan Veronika. Veronika mengartikannya beda ketika aku mengatakan ingin menyingkirkan Ataya. Makanya saat aku mendapat kabar kematian Ataya seketika aku ketakutan. Dari situlah aku baru sadar. Aku telah salah menerima tawaran kerja sama dari Veronika. Untuk menutupi semuanya. Aku berusaha bersikap seperti biasa. Padahal di dalam hatiku menyimpan beribu kali lipat rasa takut dan rasa bersalah atas kematian Ataya."
Kiran menangis ketika menceritakan semuanya kepada Chico. Melihat Kiran yang menangis membuat Chico menjadi tidak tega.
"Kau tenang saja. Aku akan menceritakan kembali kepada Darren apa yang barusan kau ceritakan padaku. Sisanya... kau berjuanglah sendiri! Kau harus bisa membuktikan kepada Darren bahwa kau tidak terlibat atas kematian Ataya. Ingat! Jika Darren mau memaafkan kesalahanmu. Jangan melakukan kesalahan lagi. Berubahlah jadi gadis yang baik. Jangan lagi kau mengganggu Darren. Apalagi berusaha untuk menjalin hubungan dengannya."
Setelah mengatakan itu, Chico pun pergi meninggalkan Kiran sendiri untuk menyusul keempat sahabatnya.
Melihat kepergian Chico. Radika, Vito, Velly, Nasya dan para sahabatnya menghampiri Kiran.
GREP!
Radika memeluk tubuh adiknya dan memberikan ketenangan kepadanya. Setelah beberapa detik memeluk tubuh adiknya. Radika pun melepaskan pelukannya.
"Kamu sudah melakukan hal yang benar dengan menceritakan yang sebenarnya kepada Chico. Seperti yang Chico katakan padamu. Sekarang giliranmu untuk membuktikan kepada Darren bahwa kamu tidak terlibat atas kematian Ataya."
"Baik Kak. Aku akan membuktikan kepada Darren bahwa aku tidak terlibat atas kematian Ataya."
Kiran melihat kearah Vito, Velly dan Nasya. "Kak Vito, Kak Velly, Kak Nasya. Aku berani bersumpah. Aku tidak terlibat dan aku tidak tahu kalau Veronika memiliki rencana untuk membunuh Ataya. Kalau aku tahu. Aku tidak akan menerima tawaran kerja samanya untuk mendapatkan perhatian Darren."
"Sudahlah, lupakan!" Nasya berucap.
"Terlibat atau tidak atas kematian Ataya. Bagiku kamu tetap salah, Kiran! Kamu sudah memiliki niat jahat terhadap hubungan Darren dan Ataya. Kamu ingin memisahkan mereka dengan cara membuat mereka saling bermusuhan. Seandainya saja Ataya selamat dalam pembantaian itu. Dan seandainya Ataya masih hidup sampai sekarang. Kemungkinan besar kamu akan tetap menjalankan niat tersebut." Velly berbicara dengan penuh penekanan dengan menatap kecewa kearah Kiran.
Sementara Vito hanya diam tanpa berkomentar apapun. Vito sudah benar-benar terlanjur kecewa akan sikap Kiran yang memiliki niat untuk memisahkan hubungan adiknya dengan Ataya.