
Darren, Vito, Velly dan Nasya masih sama-sama diam. Tidak ada yang bersuara. Mereka sesekali saling melirik dan saling mencuri pandang.
Beberapa detik kemudian, Nasya yang kebetulan duduk di samping kanan Darren langsung memeluk tubuh adiknya. Nasya begitu merindukan adiknya.
Darren terkejut ketika tubuhnya dipeluk oleh salah satu kakak kembarnya. Darren tidak memberontak sama sekali ketika kakak kembarnya itu memeluknya. Justru sebaliknya, hati Darren menghangat.
"Kakak rindu kamu, Ren! Kakak benar-benar rindu kamu. Maafin Kakak. Maafkan atas sikap buruk Kakak ke kamu," ucap Nasya yang masih memeluk tubuh adiknya. Nasya menangis.
"Maafkan Kakak juga Ren," ujar Vito yang menatap rindu Darren.
"Kakak juga Ren. Maafin sikap buruk Kakak," ucap Velly.
Darren menatap mata Vito dan Velly. Darren dapat melihat penyesalan, kerinduan dan rasa sayang yang begitu besar disana.
Darren sangat tahu jika kelima kakak-kakaknya memang begitu sangat menyayanginya. Dari dirinya kecil hingga dirinya tumbuh dewasa. Kelima kakak-kakaknya itu yang selalu ada untuknya. Kasih sayang kelima kakak-kakaknya itu sama besar dengan kasih sayang keempat kakak-kakaknya yang satu ibu dengannya. Sejujurnya Darren juga sangat merindukan pelukan dari kelima kakak-kakaknya itu.
"Darren," panggil Velly dengan menggenggam tangan adiknya dan menatap penuh harap matanya.
"Aku sudah memaafkan kesalahan kalian," jawab Darren.
Mendengar perkataan dari Darren. Vito, Velly dan Nasya kompak menatap wajah tampan adiknya.
"Benarkah Ren?" tanya Vito, Velly dan Nasya.
"Jadi kalian tidak percaya padaku?" Darren balik bertanya pada ketiga kakaknya. Dan tanpa sadar Darren memperlihatkan wajah bak anak kecil yang menggemaskan.
Mendengar perkataan Darren membuat Vito, Velly dan Nasya langsung menggelengkan kepalanya dan tersenyum bahagia ketika mendengar perkataan dan melihat wajah Darren.
"Jadi kamu udah maafin kita?" tanya Velly.
"Hm." Darren mengangguk.
Vito dan Velly langsung memeluk tubuh Darren. Sedangkan Nasya makin mengeratkan pelukannya. Dan seketika tangis mereka pun pecah. Vito, Velly dan Nasya benar-benar bahagia karena adiknya dengan berbesar hati mau memaafkan kesalahannya.
"Tapi..." Darren sengaja menghentikan ucapannya.
Mendengar ucapan Darren. Vito, Velly dan Nasya langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah Darren.
"Tapi apa, Ren?" tanya Nasya.
"Pertama, aku tidak akan kembali tinggal bersama kalian di kediaman keluarga Austin. Aku akan tetap tinggal sendiri di rumah pemberian Mama. Kedua, aku belum bisa memaafkan kesalahan Kak Raka dan Kak Satya. Kesalahan mereka terlalu besar. Aku butuh waktu untuk bisa memaafkan kesalahan mereka berdua."
Mendengar jawaban dari Darren. Vito, Velly dan Nasya paham akan hal itu. Mereka pun tidak keberatan dan tidak marah akan keputusan Darren yang belum bisa memaafkan kesalahan kedua kakaknya itu.
"Baiklah Ren. Kakak tidak mempermasalahkan hal itu. Kakak mengerti kalau kamu belum siap untuk memberikan maaf untuk Kak Raka dan Kak Satya. Tapi Kakak sangat yakin jika di dalam hati kamu itu tidak benar-benar membenci kami kakak-kakakmu. Kamu melakukan hal itu kepada kami karena kami bersikap buruk padamu. Kamu melakukan hal itu karena ingin membalas kami."
Vito berbicara lembut sembari tangannya mengusap lembut rambut adiknya. Setelah itu, Vito memberikan kecupan sayang di kening adiknya.
Mendapatkan usapan di kepala dan kecupan di keningnya membuat Darren tersenyum. Vito, Velly dan Nasya yang melihat senyuman manis adiknya merasakan kebahagiaan yang teramat besar di hati mereka.
Tanpa disadari dan diketahui oleh Darren, Vito, Velly dan Nasya. Afnan, Naura dan keempat sahabatnya yang beberapa menit yang lalu datang dan tak sengaja melihat dan mendengar semua yang dibicarakan oleh keempat Austin bersaudara. Seketika terukir senyuman di bibir Afnan dan Naura.
Afnan dan Naura ketika melihat senyuman manis adiknya juga ikut tersenyum. Afnan dan Naura bahagia ketika melihat adiknya yang sudah memberikan maaf untuk ketiga kakaknya. Tersisa dua kakaknya lagi yaitu Raka Austin dan Satya Austin.
...***...
Di mansion mewah yang berlokasikan di Griya Tawang, Australia terlihat seorang pemuda tampan. Pemuda itu berada di sebuah ruangan yang cukup besar dan megah yang ada di mansionnya. Pemuda itu adalah Alonso Alberto. Alonso berada di ruang kerjanya.
Empat jam yang lalu Perusahaannya, Perusahaan milik ayahnya dan tiga puluh Perusahaan-perusahaan terkenal dan ternama di beberapa Negera telah selesai mengadakan rapat saham tahunan.
Di dalam rapat tersebut akan dipilih satu CEO dan satu Perusahaan yang kinerjanya bagus, bersih tanpa cacat. Dan memiliki kekayaan yang lebih besar dari Perusahaan-perusahaan lainnya. Siapa pun yang terpilih nantinya akan menjabat dan memegang Perusahaan yang berpengaruh, terkenal, terkaya nomor 2 setelah Perusahaan keluarga Smith. Dengan kata lain, kedudukan Perusahaan terbesar dan terkaya kedua di dunia merupakan wakil untuk Perusahaan keluarga Smith.
Namum sayangnya, usaha dan keinginan Alonso selama ini ingin menjadi nomor 2 di dunia setelah keluarga Smith tidak membuahkan hasil alias gagal. Dalam rapat tersebut baik Alonso maupun ayahnya sudah dikualifikasi. Perusahaan miliknya dan juga Perusahaan milik ayahnya dinyatakan bukan lagi miliknya dan milik ayahnya. Kedua Perusahaan tersebut sudah berpindah tangan menjadi milik orang lain.
Mengetahui hal itu membuat Alonso dan ayahnya geram, marah dan juga murka. Kemarahan Alonso dan ayahnya makin besar ketika mengetahui wajah, nama Perusahan dan juga nama pemilik Perusahaan yang sudah merebut Perusahaan miliknya dan Perusahaan milik ayahnya.
PRAANNGGG!
PRAANNGGG!
"Brengsek! Kau benar-benar brengsek Darrendra Smith. Aku tidak pernah mengusikmu dan keluargamu. Tapi kau justru berani mengusikku dengan cara mengambil milikku dan milik ayahku!" teriak Alonso di dalam ruang kerjanya.
"Darrendra Smith. Tunggu pembalasanku. Aku akan menghancurkanmu dan seluruh anggota keluargamu. Aku akan merebut kembali milikku, milik ayahku sekaligus aku juga akan merebut milikmu." Alonso berbicara dengan penuh amarah.
Setelah puas meluapkan amarahnya. Alonso keluar dari ruang kerjanya dan pergi meninggalkan mansion mewahnya untuk menuju markas AL CAPONE. Alonso akan membahas dan membuat rencana untuk menyerang Perusahaan DRN'Smith.
...***...
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Baik kelompok mafia Marco maupun kelompok mafia milik Darren. Kedua kelompok tersebut sudah bersiap-siap untuk menyerang markas AL CAPONE milik Alonso.
Baik kelompok mafia BLACK LION maupun kelompok mafia COBRA milik Marco akan berkumpul di lokasi yang sudah ditentukan oleh Marco. Dari lokasi itulah nanti mereka akan berangkat menuju markas AL CAPONE.
Kelompok mafia BLACK LION sudah terlebih dahulu tiba di lokasi. Dan selang lima belas menit kemudian, kelompok mafia COBRA pun datang.
"Maaf, Kakak datang terlambat!" seru Marco yang datang bersama pasukannya.
"Tidak apa-apa Kak Marco" jawab Zidan, Chico, Barra dan Chello bersamaan.
"Bagaimana? Kalian semua siap?" tanya Marco dengan menatap para mafioso yang dibawa oleh keempat sahabat adiknya.
"Kami siap, King!" seru para mafioso dari BLACK LION dengan kompak dan semangat.
"Pastikan kalian semua baik-baik saja. Jangan ada yang tewas. Waspada dan berhati-hatilah," ucap Marco.
"Siap, King!" seru para mafioso BLACK LION.
"Kalian semua harus selamat," ucap Marco lagi.
"Siap, King!"
Marco menatap keempat sahabat dari adik manisnya. "Kalian juga. Waspada dan berhati-hatilah ketika bertarung. Jangan lengah. Kalian harus dalam keadaan baik-baik saja."
"Baik Kak," jawab Zidan, Chico, Barra dan Chello kompak.
"Ini. Minumlah." Marco memberikan empat botol kecil kepada Zidan, Chico, Barra dan Chello.
Zidan, Chico, Barra, dan Chello mengambil botol itu dan menatap bingung kearah botol tersebut.
"Ini apa Kak?" tanya Chico.
"Itu ramuan untuk menjaga tubuh kalian dari dalam jika terjadi sesuatu nanti saat bertarung nanti. Jadi jika kalian terluka maka ramuan itu akan membantu kalian menyembuhkan luka tersebut dari dalam. Ditambah lagi keadaan markas AL CAPONE yang tidak kalian ketahui. Alonso akan mengaktifkan gas beracun yang sudah dipasangkan di seluruh ruang yang ada di markasnya setiap ada yang menyerang markas miliknya. Dengan gas beracun itu semua musuh-musuhnya mati dalam satu kali serangan."
Mendengar jawaban dari Marco membuat Zidan, Chico, Barra dan Chello terkejut. Mereka tidak menyangka jika Alonso menggunakan cara curang untuk mengalahkan para musuh-musuhnya.
"Cih! Nyali bajingan itu hanya sebesar biji jagung," ucap Barra marah.
"Berikan juga kepada para mafioso kalian. Pastikan mereka semua meminumnya tanpa sisa," ucap Marco dengan memberikan empat kotak kecil kepada Zidan, Chico, Barra dan Chello. Masing-masing kotak kecil itu berisi 1000 botol ramuan.
"Baik Kak," jawab Zidan, Chico, Barra dan Chello.
Zidan, Chico, Barra dan Chello pun langsung memberikan masing-masing satu botol kecil itu kepada 3000 mafioso mereka.
Mereka menjelaskan apa kegunaan isi dari botol kecil itu kepada para mafioso BLACK LION. Mendengar penjelasan dari keempat Prince nya, para mafioso pun langsung meneguk habis isi botol itu.
Setelah dipastikan semua para mafioso dari BLACK LION menerima botol kecil itu dan juga sudah meminumnya. Mereka pun memutuskan untuk segera berangkat ke markas AL CAPONE.
Sementara Darren akan datang bersama dua tangan kanannya dan 100 mafiosonya langsung ke kediaman keluarga ALBERTO sepuluh menit sebelum kedatangan keempat sahabatnya dan kakaknya beserta para mafioso.