Revenge

Revenge
Makan Malam Bersama



Darren masih terisak di pelukan ayahnya. Dan Felix masih setia memeluk tubuh putra bungsunya. Tangannya mengusap-ngusap lembut punggungnya. Felix benar-benar bahagia saat ini karena putra bungsunya telah kembali kepadanya.


Felix berjanji dan bersumpah akan menjadi Ayah yang baik untuk putra putrinya termasuk putra putrinya Clarissa. Mereka semua adalah anak-anaknya. Clarissa telah menjadi ibu yang baik untuk kelima anak-anaknya. Clarissa merawat dan menjaga kelima anak-anaknya sampai anak-anaknya tumbuh menjadi pemuda tampan dan gadis yang cantik. Dan Clarissa juga telah memberikan sosok putra yang tampan, manis, pintar dan jenius.


Felix kemudian melepaskan pelukannya dan menatap wajah basah putra bungsunya. Kemudian tangannya terangkat untuk menghapus air mata putranya itu. Setelah itu, Felix memberikan kecupan-kecupan sayang di seluruh wajah putranya itu.


"Maafkan Papa! Maafkan Papa! Maafkan Papa yang telah melukai hatimu. Maafkan Papa yang tidak mempercayaimu. Maafkan untuk semuanya sayang." Felix berucap dengan air mata yang membasahi wajahnya.


"Aku sudah maafin Papa. Jadi Papa tidak perlu mengucapkan kata itu lagi," sahut Darren.


"Terima kasih sayang," Felix kembali mengecup keningnya. Darren hanya tersenyum.


"Darren," panggil Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya.


Darren melihat kearah Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya. Seketika tatapannya berubah. Darren masih menatap marah kelima kakak-kakaknya itu.


Setelah itu, Darren pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju meja makan. Melihat kepergian Darren ke meja makan. Mereka semua pun menyusul.


Darren sudah duduk di kursinya. Ketika tiba di meja makan. Darren tersenyum melihat makanan kesukaannya telah tertata rapi di atas meja.


"Eemmm. Ternyata dia masih ingat dengan makanan dan minuman kesukaanku. Aku pikir di otaknya hanya ada isi tentang bagaimana cara membentuk sebuah permusuhan dan pertikaian," batin Darren menatap makanan dan minuman itu.


Felix dan yang lainnya melihat senyuman Darren ketika menatap makanan dan minuman di atas meja merasakan kebahagiaan di hatinya. Terutama Velly dan Nasya. Mereka tersenyum bahagia ketika Darren menatap masakan mereka dengan raut kebahagiaan. Setelah itu, mereka pun mendudukkan pantatnya di kursi.


"Itu kakakmu Velly dan Nasya memasakkannya untukmu, sayang!" seru Felix.


"Ooh." Darren menjawabnya singkat.


Mendengar jawaban singkat dari Darren. Velly dan Nasya hanya bisa menghela nafas pasrahnya.


Darren kemudian menyendokkan nasi goreng itu dan meletakkan di piringnya. Setelah itu, Darren mulai memakannya.


Ketika nasi goreng itu masuk ke dalam mulutnya, Darren kembali tersenyum.


"Enak juga nasi gorengnya. Rasanya hampir sama dengan Kak Lory buat. Eeem.. tapi ini lebih enak. Maaf ya Kak Lory," ucap Darren pelan.


Sementara mereka semua terkekeh geli ketika mendengar ucapan Darren barusan. Bahkan mereka tersenyum ketika melihat ekspresi wajah Darren ketika mengatakan hal itu.


Darren yang sedang mengunyah seketika melirik kearah ayahnya, kakak-kakaknya, pamannya dan ketiga kakak-kakak sepupunya yang hanya menatapnya saja.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa perut kalian akan kenyang jika terus menatapku?"


Sontak hal itu membuat mereka semua terkejut mendengar perkataan dari Darren. Dan kemudian mereka pun mulai makan malamnya.


Sepuluh menit mereka menikmati makan malamnya, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi. Darren yang merasa terganggu langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Setelah ponselnya itu sudah berada di tangannya. Darren melihat nama 'Veronika' tertera di layar ponselnya. Seketika ekspresi wajah Darren berubah.


Felix, Raka, Satya, Vito, Velly, Nasya, Rafael, Dara, Jerry dan Michel yang melihat perubahan dari wajah Darren seketika bisa menebak pasti ada sesuatu.


Darren tidak menjawab panggilan tersebut sehingga panggilan tersebut terputus. Namun beberapa menit kemudian, ponsel Darren kembali berdering. Ketika melihat ke layar ponselnya tertera nama orang yang sama.


"Siapa sayang?" tanya Felix.


"Gak terlalu penting. Males angkatnya. Bikin emosi," jawab Darren.


Felix tersenyum bahagia ketika putranya menjawab pertanyaan darinya. Dan ini jawaban terpanjang yang Felix dengar.


"Angkat saja Ren. Siapa tahu ada hal penting," sahut Rafael.


Dan pada akhirnya Darren pun menjawab panggilan dari Veronika dengan wajah yang menahan amarah.


"Hallo." Darren menjawab panggilan Veronika dengan suara ketusnya.


"Hallo, Pak Darren. Bisakah bapak datang ke Apartemen saya. Saya sendirian di Apartemen, Pak! Teman yang biasa menemani saya sudah tiga hari berada di kampung dan belum kembali."


"Dengarkan aku baik-baik wanita sialan! Jangan harap aku akan mengabulkan keinginanmu itu. Jangan kau berpikir bahwa aku akan langsung mengabulkan keinginanmu itu, hah! Kau bukan siapa-siapaku, brengsek! Kau hanya sekretarisku di kantor. Tidak lebih. Jadi jangan bertindak lebih. Dan ingat akan batasanmu. Kau mengerti!"


Setelah mengatakan hal itu, Darren langsung mematikan panggilannya. Darren benar-benar marah saat ini.


"Dasar perempuan murahan sialan," ucap Darren dengan penuh emosi.


...***...


Di sebuah Apartemen, terlihat seorang gadis sedang duduk di sofa yang ada di kamarnya. Gadis itu tampak marah setelah berbicara dengan seseorang di telepon.


Gadis itu adalah Veronika yang tak lain adalah sekretarisnya Darren di Perusahaan DRN'CORP. Veronika marah dan membanting semua barang-barangnya karena Darren menolak keinginannya.


"Brengsek! Masih saja susah mendapatkan bajingan itu dan menjadikannya milikku seutuhnya. Aku sudah melenyapkan Ataya. Aku juga sudah memberikan tubuhku padanya. Tapi masih saja belum berhasil menaklukkan hatinya."


"Pokoknya aku tidak akan pernah menyerah atau pun berhenti untuk terus mendapatkan perhatian dan hatinya. Apapun yang terjadi aku akan tetap terus membuat bajingan itu menjadi milikku."


...***...


Velly memasukkan dua nuget ke dalam piring Darren. Dan hal itu sukses membuat Darren membulatkan matanya. Dan tanpa sadar Darren menatap kearah Velly dengan bibir yang dimanyunkan.


"Yak, Kak Velly! Ini adalah potongan nuget kesepuluh yang Kakak masukkin ke piring aku. Mau berapa potong nuget lagi yang akan Kakak masukkin ke piring aku?" ucap dan tanya Darren dengan wajah kesal.


Velly yang mendengar ucapan kesal adiknya tersenyum bahagia. Barusan adiknya kembali bersikap seperti dulu yang kesal padanya sebelum kejadian itu. Velly benar-benar bahagia saat ini.


Dikarenakan adiknya berlahan sudah kembali seperti dulu. Velly tidak akan berpikir hal apapun sehingga membuat adiknya kembali ketus. Velly akan mengikuti alurnya saja. Dengan begitu hubungannya dengan adiknya akan membaik dengan sendirinya sehingga tidak ada yang tersakiti.


"Hehehehe. Maafkan Kakak. Habisnya Kakak gak tahan kalau gak lihat kamu makan nuget dengan jumlah yang banyak," sahut Velly.


"Aish. Kebiasaan sekali," jawab Darren dengan mempoutkan bibirnya. Mereka yang melihatnya hanya tersenyum.


Disaat Darren sedang kesal akan ulahnya Velly. tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Dan hal itu membuat kekesalan Darren makin bertambah.


Tanpa melihat nama sipenelpon. Darren langsung menjawab panggilan tersebut dengan nada ketus sehingga membuat sipenelpon terkejut dan kesal.


"Mau apalagi kau sialan!"


"Ooh. Bagus ya. Jadi gini caranya menjawab panggilan dari kakaknya, hum!"


Darren seketika memukul mulutnya dan mengumpati dirinya sendiri. Dan jangan lupa matanya membelalak sempurna ketika mendengar suara kakak laki-lakinya.


Sementara Felix dan yang lainnya lagi-lagi tersenyum melihat wajah Darren yang bagi mereka begitu menggemaskan.


"Hehehehe. Kakak Marco. Maaf Kak. Aku pikir yang menghubungiku itu adalah wanita murahan itu. Beberapa menit yang lalu dia habis menghubungiku."


"Hah."


Marco hanya bisa menghela nafasnya ketika mendengar jawaban dari adiknya. Marco juga tidak berniat untuk memarahi adiknya itu. Dirinya juga tahu jika adiknya itu tidak akan pernah bersikap kasar padanya dan juga kepada yang lainnya. Marco begitu sangat menyayanginya dan juga yang lainnya.


"Iya, Kakak percaya. Kakak hanya ingin memberitahumu. Kakak sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Setelah itu, kau dan keempat sahabat-sahabatmu bisa menyusun rencana untuk membalaskan kematian Ataya."


Mendengar ucapan dari kakaknya itu seketika terukir senyuman manis di bibirnya. Darren benar-benar sudah tidak sabaran untuk membalaskan kematian Ataya agar Ataya bisa tenang disana. Beberapa detik kemudian, air matanya mengalir membasahi wajahnya.


"Kak. Apa itu benar? Kakak sudah mendapatkan semua informasi tentang kelompok mafia yang sudah membunuh Ataya?"


"Sudah, Ren! Kakak sudah mendapatkannya. Kakak mendapatkan semua itu sudah sejak lama. Pas kamu meminta Kakak untuk melacak dan menyelidiki tentang mereka. Kakak hanya sedikit lupa. Makanya Kakak mengeceknya lagi dari awal. Apakah masih tersimpan semua data-data itu?"


"Terima kasih, Kak!"


"Hei, kamu nangis. Sudahlah. Jangan nangis, oke! Kakak sudah berapa kali bilang sama kamu. Kamu adalah adiknya Kakak. Kakak akan melakukan apapun untukmu. Begitu dengan yang lainnya."


"Kakak mungkin satu jam lagi pulang."


"Tapi Kakak pulangnya ke rumah aku kan?"


"Iya. Kakak pulangnya ke rumah kamu. Kan Kakak dan kakak-kakak kamu yang lainnya memang menginap di rumah kamu selama satu bulan."


"Baiklah. Kakak hati-hati jika pulang nanti. Jangan terlalu lelah bekerjanya."


"Ih. Pake menasehati kakaknya lagi. Padahal kamu juga gitukan kalau sudah bekerja."


"Hehehehe. Iya sih! Tapi beda. Jika Kakak atau kakak-kakak yang lainnya lelah dalam bekerja. Terus pada sakit semuanya. Yang repotkan aku harus ngurus kalian semua sekaligus."


"Dasar adik laknat."


"Tapi Kakak sayangkan sama aku. Hehehe!"


Marco tersenyum ketika mendengar perkataan Darren. Adiknya benar bahwa dirinya memang sangat menyayanginya.


"Iya. Kakak sangat menyayangimu."


"Aku juga menyayangi Kakak. Sehat terus untuk Kakak. Jangan pernah sakit. Biar aku aja yang sakit."


"Hei, mulutnya."


"Maaf Kak."


"Ya, sudah kalau begitu. Kakak tutup telepon. Jangan lupa makan. Kakak gak mau kalau kamu sampai telat makannya atau melewati makan malamnya.


"Baik, Kak!"


TUTT!


TUTT!