
Darren sudah berada di markas BLACK LION. Setelah dari Perusahaan AUSTIN CORP dan setelah selesai membahas masalah Perusahaan Austin dengan ayahnya. Darren memutuskan untuk pergi ke markasnya. Darren sudah memutuskan untuk menyelesaikan balas dendamnya atas kematian Ataya atas ulah dua manusia iblis itu yaitu Alonso Alberto dan Veronika Aldema.
Kini Darren sudah berada di ruang penyiksaan dan ditemani oleh keempat sahabatnya. Serta para tangan kanannya. Baik Darren maupun keempat sahabatnya menatap penuh amarah dan dendam kearah Alonso dan Veronika.
Kondisi Alonso dan Veronika saat ini tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Satu jam yang lalu. Zidan, Chico, Barra dan Chello habis menyiksa tubuh mereka berdua.
Zidan, Chico, Barra dan Chello memberikan penyiksaan berupa cambukan, sayat-sayatan dan menusuk-nusukkan pisau lipat ke seluruh tubuh Alonso dan Veronika sehingga menimbulkan pekikan dari keduanya.
"Hallo Veronika, Alonso." Darren menyapa kedua musuhnya yang sudah tak berdaya.
Mendengar suara Darren. Alonso dan Veronika langsung melihat kearah Darren. Seketika Veronika menangis. Dirinya merutuki kebodohannya yang telah mengusik Darren dan Ataya.
"Da-darren," lirih Veronika.
Darren mendekati Veronika, lalu tangannya langsung menarik kuat rambut Veronika.
"Aakkhhh!" teriak Veronika.
"Jangan beraninya kau memanggilku dengan sebutan seperti itu. Kau bukan siapa-siapaku. Kau hanya berstatus sebagai bawahanku. Tapi itu dulu. Sekarang sudah tidak berlaku lagi setelah apa yang kau lakukan kepada gadisku."
Saat ini tubuh Alonso dan Veronika dalam keadaan terikat dengan posisi berdiri. Kedua tangan dan kedua kaki mereka diikat dengan membentuk huruf X.
"Sebelum kalian mati. Aku ingin memberitahu kalian berdua. Terutama kau wanita murahan." Darren menatap nyalang Veronika.
"Mulai hari ini Perusahaan milik keluarga besar Aldema dan Perusahaan milik keluarga besar Choe resmi menjadi milikku. Sementara untuk rumah mewah milik kedua keluarga itu sudah menjadi abu. Dengan kata lain, aku memerintahkan beberapa mafiosoku untuk membakar rumah itu." Darren berbicara dengan senyuman manis di bibirnya.
"Dan bukan itu saja. Seluruh anggota keluargamu telah mati. Tanpa sisa satu orang pun," ucap Darren di telinga Veronika.
Mendengar perkataan dari Darren membuat Veronika hanya bisa menangis.
"Da-darren. Ma-maafkan aku. Tolong lepaskan aku. Aku janji. Jika kau mau melepaskanku aku aku siap menjadi budakmu. Tolong jangan bunuh aku." Veronika memohon kepada Darren agar dirinya diampuni.
Mendengar permintaan dari Veronika. Darren hanya tersenyum meremehkan kearah Veronika.
"Alex, Maxi." Darren memanggil dua tangan kanannya itu.
"Iya, King!" keduanya langsung menghampiri Darren.
"Lepaskan wanita murahan itu," perintah Darren.
"Baik, King!"
Mendengar ucapan dari Darren membuat Darren tersenyum bahagia. Di dalam hatinya, Veronika sangat bahagia akhirnya permintaannya dipenuhi. Dan Veronika pun langsung memikirkan cara untuk membalas perbuatan Darren kepadanya dan keluarganya.
Setelah ikatan di tubuh Veronika semuanya terlepas. Alex dan Maxi memegang tangan Veronika. Seketika terdengar tawa yang keras dari Darren.
"Hahahaha. Kau pikir aku ini laki-laki bodoh Veronika. Kau pikir aku ini masih punya hati jika berhadapan dengan perempuan murahan dan licik sepertimu. Jawabannya adalah tidak. Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan sekarang ini. Kau memohon kepadaku untuk dilepaskan dengan iming-iming kau bersedia menjadi budakku. Jika kau berhasil membujukku dan aku mau melepaskanmu, maka kau akan merencanakan untuk membalas perbuatanku kepadamu dan juga keluargamu." Darren berbicara sambil menatap remeh Veronika.
Sementara Veronika benar-benar terkejut ketika mendengar perkataan dari Darren. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika Darren mengetahui niatnya.
"Bawa wanita murahan itu ke ruangannya Toto dan Piko. Seperti mereka berdua sudah sangat rindu dengan orang-orang baru!" seru Darren.
Mendengar perkataan dari Darren para tangan kanannya dan beberapa mafiosonya yang ada di dalam ruangan itu seketika merinding. Mereka tahu maksud dari Toto dan Piko.
Toto dan Piko itu adalah dua harimau peliharaan Darren. Dua harimau itu sudah jinak sejak Darren dan keempat sahabatnya merawat keduanya sejak dilahirkan.
Kedua harimau itu tidak akan sembarang menyerah manusia jika tidak diserang terlebih dahulu oleh manusia. Dan kedua harimau itu juga bisa membedakan manusia yang jahat dan manusia yang baik.
"Baik, King!"
Setelah itu, Alex dan Maxi membawa paksa Veronika untuk dibawa ke kandang kedua hewan peliharaan Darren yang ada di samping ruang penyiksaan.
Di ruang penyiksaan terdapat dinding penghubung berupa kaca. Jadi Darren dan keempat sahabatnya bisa melihat aksi kedua harimau itu dari dinding tersebut.
"Aakkhhh!"
"Aakkhhh!"
Terdengar sangat jelas dan besar auman suara kedua harimau peliharaan Darren.
Baik Darren maupun keempat sahabatnya tersenyum bahagia ketika melihat tubuh Veronika yang digigit dan dicabik-cabik oleh kedua hewan peliharaannya itu.
Dan tanpa diminta, air mata Darren jatuh membasahi wajah tampannya ketika membayangkan bagaimana tubuh kekasihnya yang sudah pucat pasih dan membeku.
"Ataya. Sisa satu orang lagi. Aku akan menyelesaikannya hari ini juga." Darren berucap sambil matanya fokus menatap kearah dinding itu.
Melihat Darren yang menangis dan mendengar perkataannya. Zidan, Chico, Barra, dan Chello langsung mendekati Darren.
PUK!
Chello menepuk pundak Darren. "Kau harus kuat, Ren!"
"Jujur. Aku tidak ingin melakukan hal ini, Chello! Bagaimana pun Veronika hanya seorang wanita. Tapi..." air mata Darren makin deras membasahi wajahnya.
"Aku tahu. Kau adalah pemuda yang sangat baik. Mereka saja yang bodoh sudah menyia-nyiakan pemuda baik sepertimu." Chello berusaha untuk menenangkan Darren.
"Sudahlah, Ren. Itu sudah menjadi resiko Veronika yang harus diterimanya. Dari awal kau sudah memperingatinya. Tapi perempuan itu tidak mematuhi peringatan darimu. Jadi kau jangan merasa tidak enak hati atau pun merasa bersalah." Barra ikut menghibur Darren.
"Tugas kita belum selesai, Darrendra Smith! Masih tersisa satu orang lagi. Kita harus menyelesaikannya sekarang juga!" seru Chico.
Darren langsung mengalihkan perhatiannya melihat kearah Alonso.
"Aku tidak mau membuang energiku. Langsung saja bawa bajingan itu ke ruangan Leo dan Dash. Mereka sepertinya juga butuh hiburan!" seru Darren.
Mendengar perkataan dari Darren membuat Zidan, Chico, Barra dan Chello tersenyum menyeringai menatap Alonso.
Leo dan Dash adalah dua singa peliharaan Darren. Sama halnya dengan dua harimau miliknya. Leo dan Dash juga sudah jinak dan tidak sembarangan menyakiti manusia.
"Vicky, Satria! Bawa bajingan itu ke ruangan Leo dan Dash!" perintah Chico.
"Baik, Prince!"
Lima mafioso langsung membuka semua ikatan yang mengingat kaki dan tangan Alonso. Setelah semuanya terlepas. Vicky dan Satria membawa paksa tubuh Alonso ke ruangan Leo dan Dash.
Ketika tubuh Alonso dilempar ke ruangan Leo dan Dash. Kedua singa milik Darren langsung menyerang tubuh Alonso. Dan terdengarlah suara auman dua singa itu dan suara teriakan dari Alonso.
"Ataya. Apa kau melihatnya dari atas sana? Semoga kau suka sayang. Jangan marah ya. Aku tahu kau pasti tidak menyukainya. Tapi beginilah caraku untuk membalas orang-orang yang sudah menyakitimu. Aku mencintaimu." gumam Ataya. Dan gumamannya itu didengar oleh Zidan, Chico, Barra dan Chello.
"Aku merindukanmu Ataya," batin Darren.
Darren melihat menatap satu persatu sahabat-sahabatnya. "Aku akan mengunjungi rumahnya Ataya. Aku merindukan suasana kamarnya. Tolong bereskan semua mayat-mayat mereka."
Zidan, Chico, Barra dan Chello tersenyum menatap wajah Darren. Mereka dapat melihat ada kesedihan dan juga kerinduan di mata Darren. Mereka semua ikut sedih melihatnya.
Zidan, Chico, Barra dan Chello dapat merasakan bagaimana hancurnya Darren saat ini ketika membalaskan dendam atas kematian Ataya. Ini baru pembalasan dendam atas kematian Ataya. Belum lagi ketika nanti saat waktunya tiba dimana Darren akan membalaskan dendamnya atas kematian ibu kandungnya, tantenya dan neneknya. Mungkin akan lebih hancur perasaan Darren ketika melakukannya.
Zidan memegang pundak Darren dan sedikit merematnya. "Pergilah dan istirahatlah beberapa jam disana. Luapkan semua kesedihan dan kerinduanmu terhadap Ataya. Setelah itu, aku dan yang lainnya tidak ingin melihat kau bersedih lagi. Jadi kita bisa fokus untuk mencari dalang pembunuhan ibumu, tante Amanda dan nenek Victoria."
Darren tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Terima kasih."
Zidan, Chico, Barra dan Chello menganggukkan kepalanya dan juga tak lupa memberikan senyuman tulus kepada Darren.
"Masalah markas. Serahkan pada kami," sahut Barra.
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi!"
Setelah itu, Darren pun pergi meninggalkan markas BLACK LION untuk menuju kediaman Parvez.