Revenge

Revenge
Perkataan Mengandung Arti



Darren sudah berada di rumahnya. Keempat sahabatnya mengantarnya pulang ke rumah. Bahkan keempat sahabatnya itu tidak mengizinkannya untuk mengendarai mobilnya sendiri.


Kini Darren berada di ruang tengah. Dirinya menyandarkan punggungnya ke punggung sofa dan kemudian Darren memejamkan matanya sejenak. Saat ini Darren benar-benar merasakan pusing di kepalanya dan punggungnya sedikit nyeri.


Beberapa menit kemudian, para kakak-kakaknya pun telah kembali. Setelah mereka memasuki rumah, kelimanya langsung menuju ruang tengah karena pelayan mengatakan bahwa Darren saat ini berada di ruang tengah.


Ketika sampai di ruang tengah. Saskia, Nuria, Marco, Afnan dan Lory menatap khawatir Darren. Bagaimana tidak khawatir? Mereka melihat luka di pelipis kiri Darren dan juga luka yang cukup lebar di pergelangan tangan kanannya. Dan kedua luka itu belum diobati. Hanya dibersihkan saja saat Darren di rumah sakit apalagi pelipisnya.


Mereka melangkahkan kakinya menghampiri Darren yang saat ini sedang memejamkan matanya dengan menyandarkan tubuhnya di sofa.


Kini mereka sudah duduk di sofa dengan Saskia dan Nuria duduk di samping kiri dan kanan Darren.


"Afnan. Ambilkan perlengkapan kedokteran Kakak di bagasi mobil," pinta Nuria.


"Baik Kak." Afnan pun langsung beranjak dari duduknya dan keluar menuju mobil kakaknya.


"Nuria. Badan Darren sedikit hangat," sahut Saskia yang matanya fokus menatap wajah adik bungsunya.


Nuria menyentuh pipi dan kening Darren. Dan benar apa yang dikatakan oleh kakaknya. Badan adiknya terasa hangat.


"Ini Kak!" Afnan datang dan memberikan perlengkapan kedokteran kepada kakaknya.


"Terima kasih Afnan." Nuria berucap sambil menerima perlengkapan kedokteran dari tangan Afnan. Afnan tersenyum sebagai jawabannya.


Setelah itu, Nuria pun mulai mengobati luka-luka adik bungsunya yang paling utama luka di pelipisnya.


Nuria menjahit luka sobek di pelipis Darren dengan pelan. Dirinya tidak ingin menyakiti adiknya atau mengganggu adiknya yang sedang tidur.


Saskia yang memperhatikan gurat wajah adiknya yang kesakitan langsung tangannya bermain-main di kepalanya. Saskia mengusap-ngusap lembut rambut adiknya.


Detik kemudian, Darren membuka kedua matanya dan langsung tatapan matanya tertuju kearah wajah kakaknya yang kini sedang menatapnya. Saskia tersenyum sambil terus mengusap-ngusap kepalanya.


"Kakak," lirih Darren.


"Iya. Ada apa?"


"Kapan sampainya? Kakak sendirian aja?"


Baik Saskia, Nuria maupun Marco, Afnan dan Lory tersenyum mendengar pertanyaan dari Darren.


"Selesai!" seru Nuria.


Mendengar suara kakaknya yang lain, Darren langsung mengalihkan perhatiannya ke samping. Dan dapat Darren lihat Kakak ketiganya sedang tersenyum manis kepadanya.


"Luka di pelipis kamu sudah Kakak jahit. Kenapa gak diobati saat di rumah sakit tadi, hah?" Nuria menatap horor adiknya itu.


"Gak sempat," jawab Darren.


"Hah." mereka hanya menghela nafas pasrah nya ketika mendengar jawab singkat dari Darren.


"Kak Marco," panggil Darren.


"Ada apa, hum?"


"Mana?"


"Apanya?"


"Yang aku minta itu."


"Apanya? Kakak gak ngerti."


"Kakak."


"Oke, Oke! Ini." Marco menyerahkan sebuah map kepada adiknya.


Darren memposisikan tubuhnya dari bersandar menjadi duduk, lalu tangannya mengambil map yang ada di tangan kakak perempuannya yaitu Nuria yang kebetulan duduk didekat Marco.


Darren membuka map itu dan membaca isinya secara detail. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya.


"Eemmm. Alonso Alberto. Ketua kelompok mafia AL CAPONE, mafia nomor 5 di dunia. Putra dari William Alberto. Keluarga terkaya nomor 15 di Korea. Perusahaan WL'LIam berada diposisi ke 12 di Korea. Dan Perusahaan AL'Nso berada diposisi ke 15 di Korea. Sangat menarik. Aku akan mengambil alih kedua Perusahaan itu." Darren berucap dengan penuh keyakinan.


"Kak Afnan," panggil Darren.


"Hm." Afnan berdehem sebagai jawabannya, namun matanya menatap wajah Darren.


"Jika aku berhasil merebut kedua Perusahaan itu. Aku mau Kakak yang bertanggung jawab semuanya. Mau tidak Kak?" Darren menatap wajah kakaknya penuh harap.


"Terus Perusahaan AF milik Kakak, bagaimana?" tanya Afnan. Sebenarnya Afnan hanya menjahili adiknya saja.


"Ih, Kakak! Aku saja mampu mengurus dua Perusahaan. Masa Kakak nggak. Malu dong. Badan aja yang gede. Umur aja yang tua. Ngurus Perusahaan lebih dari satu aja gak bisa," ejek Darren.


"Eh, salah. Ralat. Badan kak Afnan bukannya gede. Tapi bantet," sahut Darren.


"Hahahaha."


Saskia, Nuria, Marco dan Lory tertawa ketika mendengar ucapan dari Darren. Apalagi kata yang terakhir. Sementara Afnan sudah memberikan tatapan horor pada adiknya itu.


BUGH!


Afnan melempar bantal sofa kearah adiknya dan tepat mengenai wajah tampan adiknya itu. "Aish." Darren mengerucutkan bibirnya.


"Yang pastinya aku dan sahabat-sahabatu akan menyusun rencana untuk menyerang markas milik bajingan itu dan juga keluarga besarnya," jawab Darren.


"Jadi kamu akan melakukan penyerangan besar-besaran, begitu?" tanya Marco.


"Hm." Darren mengangguk."


"Apa kamu butuh bantuan Kakak?" tanya Marco.


"Eemmm. Kayaknya iya Kak."


"Apa itu?"


"Kakak akan ikut ketika aku menyerang keluarga Alberto. Aku tidak akan langsung membunuh bajingan itu. Justru aku akan membawa bajingan itu pulang ke rumah keluarganya. Dan di sanalah kita akan membantai habis mereka semua. Sekalian Kakak reunian dengan bajingan itu."


Mendengar perkataan dari Darren. Baik Marco, Afnan maupun Nuria, Saskia dan Lory mengangguk menyetujui rencana dari Darren.


"Baik. Kapan kita memulainya?" tanya Marco.


"Bisa gak Kak Marco langsung ke markasku yang di BLACK LION? Kakak atur rencananya dengan Zidan, Chico, Chello dan Barra. Mereka saat ini ada di sana."


"Lalu kamu bagaimana?" tanya Marco dengan menatap wajah adiknya penasaran.


"Hari ini aku sedang ada kencang dengan seseorang," jawab Darren.


"Jangan bilang kalau kau akan pergi dengan wanita murahan itu." Afnan berucap dengan kejamnya.


"Memang sama dia," jawab Darren.


"Kamu gak..." perkataan Lory terpotong.


"Kak Lory tenang aja. Ini adalah termasuk salah satu rencanaku dan sahabat-sahabatku. Dengan aku mengikuti semua keinginannya maka wanita murahan itu akan merasa senang. Dengan begitu wanita murahan itu akan berpikir bahwa semua rencananya sudah berjalan dengan sempurna dengan aku yang mengikuti semua kemauannya." Darren berbicara dengan senyuman di sudut bibirnya.


"Rencana yang bagus. Kakak suka," sahut Saskia.


"Perempuan itu juga bakal mengira kalau kamu sudah tunduk dan jatuh cinta padanya," ucap Nuria.


"Kapan berakhir. Kakak gak mau kamu terlalu lama dengan wanita sialan itu,"sahut Afnan.


"Satu minggu. Dan sudah dua hari aku menjalankan rencana ini. Dihari yang ketujuh aku akan memperlihatkan sifat asli ku didepan wanita itu. Dan dari situlah aku akan membuat hidup wanita itu seperti di neraka. Bukan itu saja. Anggota keluarganya juga akan mengalami hal yang buruk tiga hari lagii."


Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka tersenyum di sudut bibir mereka masing- masing. Mereka tidak sabaran untuk menunggu tiga hari lagi. Menunggu kabar kehancuran dari Veronika dan keluarga besarnya.


...***...


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Di sebuah Apartemen terlihat seorang gadis cantik telah bernampilan cantik malam ini. Gadis itu adalah Veronika Aldema. Gadis yang selalu mengejar-ngejar cintanya seorang Darren. Seorang gadis yang tergila-gila dengan Darren sehingga nekat menghabisi calon istrinya Darren.


Veronika kini tengah menunggu kedatangan Darren. Mereka akan makan malam di sebuah cafe yang terkenal dan juga mewah.


"Akhirnya, usahaku tak sia-sia. Aku berhasil mendapatkan apa yang aku mau. Sekarang Darren sudah berada di pelukanku. Dan sepenuhnya menjadi milikku. Aku benar-benar bahagia. Dua hari ini Darren mengabulkan apa yang aku inginkan." Veronika berucap dengan penuh kebahagiaan.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Darren pun datang. Melihat kedatangan Darren. Veronika tersenyum bahagia.


Veronika pun melangkah keluar dari dalam Apartemennya dengan senyuman manis di bibirnya. Hari ini dirinya benar-benar bahagia karena hari ini adalah hari ketiga dirinya pergi bersama dengan orang yang sangat dicintainya.


...***...


Darren dan Veronika sudah di jalan. Tidak ada yang bersuara. Darren fokus menyetir. Sementara Veronika sedang menyandarkan kepalanya di bahu Darren. Darren melirik dengan sinisnya sekilas kearah Veronika. Setelah itu kembali fokus ke depan.


"Habis kita makan malam. Kita langsung pulang. Malam ini aku ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan. Dan tidak bisa ditunda. Pekerjaanku lebih penting dari pada pergi membuang-buang waktu." Darren memecahkan keheningan.


Mendengar perkataan dari Darren membuat Veronika merengut tak suka. Mengetahui hal itu, Darren tak peduli. Menurut Darren jika berlama-lama dengan wanita murahan ini lama-lama akan membuat Darren muntah.


"Kenapa?" tanya Darren.


"Tidak," jawab Veronika.


"Aku harap kau mengerti dengan statusku sebagai CEO. Waktuku lebih banyak aku habiskan untuk mengurus pekerjaan dari pada waktu untuk hura-hura." Darren berucap dengan tatapan ke depan.


"Tapi setidaknya kau punya waktu untukku dan untuk kita berdua," ucap Veronika.


"Walaupun aku punya waktu untukmu dan waktu untuk kita berdua. Tapi aku hanya bisa memberikan waktu selama satu jam. Dan tiga kali dalam seminggu. Dan malam ini adalah hari ketiga kita kencan." Darren menjawab perkataan Veronika.


Mendengar jawaban dari Darren. Veronika langsung menatap kearahnya. Veronika menatap kesal Darren.


Seketika Darren menghentikan mobilnya. Dan setelah itu, Darren menatap wajah Veronika. Di dalam hatinya, Darren ingin sekali mencekik leher Veronika hari ini juga.


"Ini lah resiko yang harus kau terima Veronika. Seharusnya kau berpikir dua kali sebelum jatuh cinta padaku. Cita-citaku selama ini ingin menjadi CEO yang sukses di dunia."


"Tapi kau sukses sekarang Darren."


"Belum. Aku masih ingin lebih sukses lagi dari yang sekarang ini sehingga tidak ada yang bisa menandingiku."


"Dulu saat aku pacaran dengan Ataya juga begitu. Aku sering pergi meninggalkan Ataya untuk urusan bisnis ke luar negeri. Bahkan aku pergi sampai dua bulan. Awalnya Ataya tidak terima dan ingin menyerah. Tapi lambat laun Ataya pun mengerti. Dan dari situlah aku makin cinta padanya." Darren berucap sambil berbohong kepada Veronika dengan mengatakan bahwa dirinya pernah meninggalkan Ataya selama sebulan demi pekerjaannya.


"Jika kau benar-benar mencintaiku. Maka kau akan selalu mendukungku dan memberikan semangat untukku. Tapi jika kau tidak bisa. Kau boleh tinggalkan aku. Pergi sejauh-jauhnya dan jangan pernah mengusikku."


Seketika Veronika membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Darren. Mana mungkin Veronika akan meninggalkan Darren. Padahal dirinya sudah bersusah payah mendapatkan Darren. Bodoh jika Veronika sampai meninggalkan Darren hanya karena Darren tidak ada waktu untuknya.