
"Tidaaakk!" teriak Darren seketika.
Mendengar teriakan Darren membuat mereka semua menatap khawatir padanya. Mereka semua menangis.
Ronald memeluk Darren erat. Hati Ronald benar-benar sakit melihat keadaan keponakannya saat ini.
Darren memberontak dalam pelukan Ronald. Dirinya berusaha kuat untuk melepaskan pelukan yang diberikan Ronald. Dan usahanya pun berhasil. Darren berhasil melepaskan pelukannya Ronald.
"Aarrgghhh!" teriak Darren dengan menarik kuat rambutnya. "Kenapa terjadi lagi?! Kenapa?!" Darren terus berteriak.
"Darren... Hiks," isak Saskia dan Nuria.
Saskia ingin mendekati adiknya. Namun ditahan oleh Erland. Erland mengatakan pada Saskia untuk membiarkan Darren melepaskan kesedihannya.
"Om," lirih Saskia ketika melihat adiknya yang berteriak histeris.
"Percayalah. Darren akan baik-baik saja," ucap Erland lembut.
Andara saat ini sedang menghibur suaminya Rafael. "Sayang. Kamu yang sabar ya."
Steffany tengah menghibur ketiga anaknya Rafael. Sementara Safina menghibur Raka dan keempat adiknya.
Darren tak kuasa menahan kesedihannya. Hatinya saat ini benar-benar hancur. Dan seketika perkataan sang Nenek terngiang-ngiang di pikirannya.
"An-andara... Andara ya-ng te-lah membunuh Clarissa dan Amanda. Dan di-dia juga in-ingin membu-nuhmu sa-yang. Jaga di-rimu." Victoria berucap dengan terbata-bata.
Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya dengan tatapan dinginnya. Dan tatapan berakhir kearah perempuan yang kini sedang menenangkan Rafael.
Darren menatap perempuan itu dengan tatapan penuh amarah. Darren selama ini memang sudah mencurigai perempuan tersebut. Hanya saja Darren belum bisa bertindak sebelum memegang bukti kuat untuk menghancurkannya.
Melihat tatapan amarah Darren yang kini tertuju pada satu orang yaitu Andara yang tak lain adalah istri dari Rafael Austin membuat Felix, Rafael dan anak-anaknya menatap bingung Darren. Tapi tidak dengan keluarga Smith, Julian dan ketiga anaknya. Mereka sudah tahu dari Darren jika Darren mencurigainya sebagai pelaku pembunuhan Clarissa dan Amanda.
Darren berlahan melangkahkan kakinya untuk menghampiri Andara dengan tatapan matanya yang menatap tajam.
Kini Darren sudah berdiri tepat di hadapan Andara. Sementara Andara berusaha untuk tidak gugup.
"Sayang," ucap Andara.
SREEKK!
"Aaakkhhh!" ringis Andara.
"Darren!" teriak mereka semua saat melihat Darren yang langsung mencekik leher Andara.
Mereka semua terkejut ketika melihat apa yang dilakukan Darren kepada Andara. Mereka tidak mengira jika Darren akan melakukan hal itu kepada Andara.
Darren mendorong tubuh Andara sembari tangannya masih terus mencekik kuat leher Andara. Dan matanya menatap nyalang Andara.
BUGH!
Punggung Andara membentur dinding dengan sangat kerasnya sehingga membuat punggung Andara ngilu.
Darren makin menguatkan cekikannya di leher Andara tanpa ada niatan untuk melepaskannya.
"Darren, lepaskan Andara! Dia tantemu!" bentak Rafael.
Mendengar bentakan dari Rafael membuat Darren makin menguatkan cekikan di leher Andara. Dapat dilihat oleh mereka semua Andara yang benar-benar sulit untuk bernafas. Wajah sudah terlihat membiru.
Melihat Darren yang tidak juga melepaskan tangannya dari leher Andara. Rafael pun mendekati Darren. Setelah itu, Rafael menarik kuat tangan Darren dari leher Andara. Seketika tubuh Andara langsung merosot ke lantai. Nafasnya terengah-engah sambil tangannya memegang lehernya.
"Mama." Jerry dan Michel berlari menghampiri ibunya.
BUGH!
"Rafael!"
"Om Rafael!"
Mereka semua berteriak ketika melihat Rafael yang meninju wajah Darren dengan sangat keras sehingga sudut bibir Darren terluka.
"Apa kau gila, hah?! Apa kau ingin membunuh Andara?!" bentak Rafael.
Rafael tersentak ketika mendengar ucapan sarkas Darren. Darren hanya menyebut namanya saja tanpa embel-embel Om didepan namanya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua terkejut mendengar perkataan Darren.
"Kenapa? Apa kau tak terima dan ingin membalasnya?" tanya Rafael menantang.
"Sayangnya aku tak berminat hanya sekedar memukulmu. Bagaimana dengan nyawamu saja, hum?" Darren tersenyum menyeringai.
"Apa kau ingin membunuh ommu sendiri?" tanya Rafael yang saat ini benar-benar takut melihat tatapan mata Darren.
"Kenapa? Kau takut? Tenang saja. Aku akan membuat kau tidak akan merasakan sakit sedikit pun," sahut Darren.
"Kau tidak akan sampai hati membunuh ommu sendiri, Darren!"
"Hahahaha." Darren tertawa keras. "Apa kau lupa bahwa aku ini seorang pembunuh? Bukankah kau dan keluargamu menyebutku seorang pembunuh. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk tidak berani membunuh laki-laki brengsek sepertimu!" bentak Darren.
Mendengar perkataan Darren membuat hati Felix, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya sakit. Mereka menangis kala Darren mengungkit kejadian itu.
"Darren sayang," panggil Felix. Darren langsung melihat kearah ayahnya.
Felix kemudian melangkah mendekati putra bungsunya. Tangannya terangkat mengelus pipi putih putranya itu.
"Katakan pada Papa, sayang. Kenapa kamu menyakiti tante Andara? Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh tantemu itu?" tanya Felix lembut.
"Apa Papa yakin ingin mengetahuinya?" tanya Darren dengan menatap wajah ayahnya.
Setelah puas menatap wajah ayahnya. Darren menatap seluruh anggota keluarganya yang ada di hadapannya.
"Perempuan itu." tunjuk Darren kearah Andara. Mereka semua melihat kearah Andara. "Perempuan itu yang sudah membunuh ibuku dan juga tante Amanda. Dia yang telah menebar fitnah dan mengatakan kalau akulah yang telah membunuh Mama dan tante Amanda sehingga berakhir aku dibenci dan diusir oleh keluargaku sendiri. Dan dia..." Darren menghentikan ucapannya dan menatap nyalang Andara. "Dia yang telah membayar orang-orang itu untuk membunuh Nenek!" teriak Darren dengan air mata yang mengalir membasahi wajahnya.
Mereka semua terkejut mendengar perkataan dari Darren yang mengatakan bahwa Andara yang telah membunuh Clarissa, Amanda dan Victoria. Mereka menatap tajam kearah Andara.
"Darren. Katakan pada Kakak. Apa alasan perempuan itu melakukan itu?" tanya Merryn.
"Harta. Perempuan itu mengincar harta keluarga Austin," jawab Darren.
"Lalu apa alasan perempuan itu membunuh Nenek? Selama ini kan nenek sangat menyayanginya." ucap dan tanya Vito.
"Karena nenek sudah mengetahui kebusukan perempuan itu. Saat aku menolong Nenek. Nenek sempat sadar dan langsung menceritakan semuanya padaku. Setelah itu, Nenek kembali memejamkan matanya. Aku kemudian langsung membawa nenek keluar dari dalam mobil. Dan beberapa detik kemudian, mobil itu meledak sebelum aku berhasil mengeluarkan om Ramos."
Lagi-lagi mereka terkejut ketika mendengar fakta yang dibeberkan oleh Darren. Mereka tidak habis pikir atas apa yang dilakukan oleh Andara.
"Andara," panggil Felix.
Andara melihat kearah Felix. "Tidak Kak Felix. Apa yang dikatakan oleh Darren itu tidak benar? Bagaimana mungkin aku membunuh Kak Clarissa, Amanda dan Ibu. Mereka bertiga begitu baik dan sangat menyayangiku."
Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarga Austin dan keluarga Fernandez. Melihat tatapan mata Darren terlihat tatapan penuh amarah.
"Aku tidak peduli kalian percaya atau tidak dengan semua yang aku katakan barusan. Itu adalah hak kalian. Dan aku tidak akan pernah mengemis kepada kalian untuk mempercayai setiap perkataanku karena itu bukanlah sifatku."
Darren menatap tajam wajah Rafael. "Dan untuk anda tuan Rafael. Anda telah menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan padamu dan ketiga anak-anakmu. Aku menerima kedatanganmu dan anak-anakmu di rumahku. Dan aku menerima niat baikmu untuk memperbaiki hubungan denganku. Tapi sekarang kau telah menghancurkannya. Ingat! Jika suatu saat kau telah menyadari kesalahanmu karena lebih memilih percaya perempuan ular itu dari pada aku keponakanmu. Keponakan yang kau rawat dari bayi. Dan jika terjadi sesuatu denganmu atau anak-anakmu. Jangan pernah kau datang menemuiku. Jangan pernah kau menghubungiku atau pun sahabat-sahabatku. Menjauhlah dari kehidupanku. Jangan pernah lagi kau mengusikku."
"Dan satu lagi. Aku Darrendra Smith akan tetap membunuh perempuan itu sekali pun perempuan itu adalah istri anda. Aku tidak peduli akan status tersebut. Jika anda berusaha untuk menghalanginya atau membelanya, maka aku juga akan menghabisi anda. Camkan itu!"
Setelah mengatakan itu, Darren pun pergi meninggalkan semua anggota keluarganya yang masih diam di tempat. Dan diikuti oleh keempat sahabatnya di belakang.
Rafael terdiam seribu bahasa ketika mendengar perkataan dan ancaman dari Darren. Dirinya tidak menyangka jika Darren akan berbicara seperti itu padanya.
Setelah kepergian Darren dan keempat sahabatnya. Saskia dan adik-adiknya menatap tajam kearah Rafael.
"Aku kecewa dengan anda tuan Rafael. Anda telah menyia-nyiakan kebaikan kami untuk mendamaikan anda dengan Darren," ucap Saskia.
"Nikmati penderitaan anda setelah ini. Dan kami tidak akan pernah lagi mau ikut campur," ucap Nuria.
"Semoga anda tidak menyesal dengan keputusan yang anda ambil," ucap Marco.
"Dan selamat. Anda telah berhasil membuat hati adikku tersakiti untuk yang kedua kalinya." Afnan berucap dengan menatap penuh kecewa Rafael.
Setelah itu, Saskia dan adik-adiknya pergi. Begitu juga dengan anggota keluarga Smith lainnya. Sementara Julian dan ketiga anak-anaknya tetap tinggal.