
Video penyerangan kediaman keluarga Parvez itu sudah dipotong oleh Darren. Darren tidak ingin orang lain melihat kekejian Alonso kepada Ataya saat kejadian itu. Apalagi melihat tubuh polos Ataya.
Dalam video itu hanya memperlihatkan ketika Alonso telah selesai melakukan tugasnya dan pergi meninggalkan kamar Ataya.
Ketika Alonso keluar dari kamar Ataya. Terlihat seorang wanita yang tengah tersenyum bahagia sembari bersandar di pintu kamar Ataya. Wanita itu tak lain adalah Veronika.
Baik Veronika, keluarga besar Aldema, keluarga besar Choe dan para tamu undangan terkejut ketika melihat video itu. Bahkan mereka lebih terkejut lagi ketika mendengar perkataan Veronika ketika menyaksikan pembunuhan itu.
Para tamu undangan menatap jijik kearah Veronika. Mereka semua tak menyangka jika putri dari keluarga Aldema dan keluarga Choe tega melakukan hal itu hanya demi ambisinya.
[Dasar menjijikkan. Kalian semua sama saja. Sama-sama menjijikkan]
[Pantas saja kelakuan anaknya seperti ini. Ajaran dari keluarganya ternyata]
Darren kembali menatap Veronika. "Bagaimana? Sudah ingat, nona Veronika?"
Veronika hanya diam. Dirinya saat ini benar-benar ketakutan. Dirinya tidak ingin mati. Dirinya ingin hidup.
Darren berlahan membuka topengnya dan menunjukkan wajahnya kepada Veronika.
Ketika topeng itu sudah terbuka. Veronika kembali terkejut. Bukan Veronika saja. Semua yang ada di dalam gedung tersebut juga ikut terkejut.
"Da-darren," ucap Veronika dengan suara bergetar.
"Iya. Ini aku, Darren!" Darren berucap dengan tatapan mata yang menatap wajah Veronika dengan sangat tajam.
Srek!
"Aakkhh!" Veronika berteriak kesakitan ketika tangan Darren mencekik kuat lehernya.
"Dari awal aku sudah memperingatimu untuk menjauh dariku kecuali tugasmu sebagai sekretarisku di kantor. Dan aku juga sudah memperingatimu untuk tidak mengganggu Ataya. Tapi kau tidak mengindahkan peringatan dariku. Jadi aku hanya bisa mengatakan kepadamu. Selamat menjemput ajalmu, Veronika!"
Darren berucap dengan menatap penuh amarah dan dendam wajah Veronika dengan menguatkan cekikan di leher Veronika sehingga membuat Veronika kembali berteriak.
Setelah mengatakan itu dan setelah puas mencekik leher Veronika. Darren langsung mendorong kuat tubuh Veronika sehingga tersungkur di lantai.
"Kalian," tunjuk Darren kepada beberapa anggota mafianya. "Bawa wanita murahan ini dan juga seluruh anggota keluarganya ke markas BLACK LION! Kurung mereka semua ke penjara bawah tanah. Dan untuk wanita murahan itu. Kurung dia di ruang penyiksaan."
"Baik KING!"
Mereka semua pun langsung membawa paksa Veronika dan seluruh anggota keluarga Veronika untuk dibawa ke markas BLACK LION. Mereka tidak mempedulikan suara-suara teriakan dari keluarga besar Veronika.
Kini tersisa Darren, keempat sahabatnya dan para tamu undangan. Para tamu undangan menatap takut Darren.
"Kalian tidak perlu takut padaku dan juga kelompokku. Aku tidak akan menyakiti orang-orang yang tidak bersalah. Aku hanya kejam dengan orang-orang yang telah mengusikku, mengusik orang-orang terdekatku dan keluargaku."
Mendengar perkataan dari Darren membuat para tamu undangan semuanya bernafas lega. Mereka mengira jika mereka semua akan mati. Ternyata tidak. Mereka telah salah mengira.
"Aku meminta kepada kalian semua untuk merahasiakan apa yang terjadi malam ini kepada dunia luar. Lupakan semuanya. Anggap saja tidak terjadi apa-apa. Jika kita bertemu di luar atau dimana pun. Bersikaplah seperti biasa."
"Baik tuan Darren," jawab mereka semua secara bersamaan.
Setelah mengatakan hal itu. Darren dan keempat sahabatnya pun pergi meninggalkan gedung tersebut.
...***...
Keesokkan paginya di kediaman keluarga Austin. Setelah sarapan pagi Felix meminta anak-anaknya, adiknya Rafael dan tiga keponakannya untuk berkumpul di ruang tengah. Ada yang ingin dibicarakan oleh Felix.
Semuanya sudah berada di ruang tengah. Semuanya tampak diam. Tidak ada satu pun yang bersuara.
"Rafael," panggil Felix.
Rafael melihat kearah kakaknya tanpa bersuara sama sekali. Saat ini Rafael masih dalam perasaan campur aduk. Hatinya benar-benar gundah.
"Rafael. Kakak tahu perasaan kamu saat ini. Kamu ragu dan bingung harus mempercayai siapa. Di satu sisi Andara adalah istrimu. Disisi lain Darren keponakanmu. Di hati kecilmu, kau mempercayai keduanya. Kau percaya dengan perkataan Darren. Dan kau juga tidak percaya jika istrimu tega melakukan hal itu. Kamu tidak bisa seperti ini. Kamu harus mengambil tindakan yang tegas dan menentukan pilihan, Rafael! Mau sampai kapan keluarga kita seperti ini? Apa kau mau ada yang pergi lagi salah satu dari kita?"
Mendengar perkataan dari Felix membuat Rafael terkejut dan juga takut. Di dalam hatinya, Rafael tidak ingin hal itu terjadi. Rafael tidak ingin kehilangan lagi.
"Apa yang dikatakan om Felix ada benarnya Pa? Papa harus ambil tindakan. Aku percaya apa yang dikatakan Darren saat di rumah sakit itu. Aku dapat melihat dari tatapan mata Darren. Darren berkata jujur." Dara berbicara sambil menatap wajah ayahnya.
"Kak Dara. Kenapa kakak bicara seperti itu? Sekali pun Mama salah. Dia adalah Mama kita Kak," ucap dan tanya Michel.
"Dia Mama kamu. Bukan Mamaku dan bukan Mamanya Jerry," batin Dara.
"Michel. Kakak tahu perasaan kamu. Tapi bagaimana pun Mama kamu itu salah. Kamu gak bisa membela orang yang salah," ucap Nasya.
"Pokoknya aku gak mau kalau Papa sampai melaporkan Mama ke polisi. Pa! Papa jangan terlalu percaya dengan apa yang dikatakan Darren. Bisa saja Darren itu bohong. Bisa saja Darren ngarang cerita buat jatuhin Mama." Michel berbicara sambil menatap wajah ayahnya.
Mendengar perkataan Michel membuat mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangka jika Michel bisa berbicara seperti itu.
"Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu Michel? Apa kamu tidak mempercayai Darren?" tanya Velly.
"Maksud kamu apa!" bentak Vito.
"Kak Vito tahu sendiri lah. Kalian menuduh Darren yang telah membunuh tante Clarissa dan kalian semua mengusir Darren dari rumah ini. Kejadian itu terjadi awalnya dari Mama. Mama mendapatkan telepon dari seseorang dan Mama juga mendapatkan sebuah video dari orang itu. Bahkan orang itu juga datang menemui kita. Dan kesimpulanku bahwa Darren sengaja mengatakan keburukan Mama di depan kalian semua untuk membalas rasa sakitnya sama Mama karena telah diusir dari rumah ini."
Mereka semua geleng-geleng kepala mendengar perkataan dari Michel. Mereka tidak habis pikir jika Michel punya pikiran seperti itu terhadap Darren.
Tanpa mereka sadari orang yang mereka bicarakan sedari telah menguping. Ya! Darren datang ke kediaman keluarga Austin hanya untuk membahas masalah kematian sang nenek, Victoria Austin.
"Oh! Jadi seperti ini pemikiran seorang Michel Austin, hum!" seru Darren.
DEG!
Mereka semua terkejut terutama Michel ketika mendengar ucapan seseorang yang merek kenal. Dengan kompaknya mereka semua melihat ke asal suara. Mereka semua membelalakkan matanya ketika melihat Darren yang berdiri bersandar di dinding gapura arah ruang tamu.
Mereka semua dapat melihat tatapan marah di mata Darren. Mereka semua takut jika Darren kembali membenci mereka terutama Felix, Vito, Velly dan Nasya.
Mereka semua berdiri dengan masih menatap takut Darren. Mereka takut jika Darren marah akan perkataan Michel.
Darren berlahan melangkah menuju ruang tengah dengan wajah datar dan dingin. Setelah berada di ruang tengah, Darren menatap tajam kearah Michel.
"Kau sudah salah besar jika berbicara seperti itu tentangku tuan Michel," ucap Darren dingin.
Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarga Austin. "Maaf jika aku sudah lancang menginjakkan kakiku di rumah ini lagi."
Mendengar ucapan dari dari membuat Felix, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya meneteskan air mata. Di dalam hati mereka masing-masing sangat bahagia akan kedatangan Darren.
"Sayang. Ini rumah kamu, Nak!" lirih Felix.
"Tujuanku datang kemari ingin membahas kematian ibuku, tante Amanda dan nenek. Ditambah lagi aku beberapa hari ini tengah merindukan Papa. Tapi semua itu hilang saat aku mendengar ucapan dari tuan Michel yang terhormat."
Darren menatap tajam kearah Michel "Silahkan kau berpikir buruk tentangku. Aku tidak peduli. Tapi ingat satu hal. Jika ibumu terbukti telah membunuh ibuku, tante Amanda dan Nenek. Aku Darrendra Smith akan membunuh ibumu. Jangan kau berpikir ibumu akan dipenjara seumur hidup atau dihukum mati. Tidak! Aku yang akan memberikan hukuman untuk ibumu. Dan kemungkinan besar beberapa anggota keluarga Smith juga akan ikut memberikan hukuman kepada ibumu dan juga anggota keluarga ibumu."
Darren berbicara dengan menatap nyalang Michel. Dirinya benar-benar marah saat ini.
Sementara Michel sudah ketakutan mendengar perkataan dari Darren. Ditambah lagi dengan tatapan yang diberikan Darren kepadanya.
DRRTT!
DRRTT!
Ponsel Darren berbunyi. Mendengar bunyi ponselnya, Darren langsung mengambilnya yang ada di saku celananya.
"Chico," ucap Darren. Darren pun langsung menggeser tombol hijau.
"Hallo, Chico."
"Kau dimana Ren?"
"Aku di rumah keluarga Austin. Ada apa?"
"Buruan ke markas. Aku, Zidan, Barra dan Chello sudah tidak sabaran ingin bermain-main dengan para sampah itu."
Mendengar perkataan dari Chico membuat Darren tersenyum. Darren paham maksud dari ucapan Chico.
"Mulai saja. Tidak perlu menungguku. Kau dan yang lainnya bebas mau melakukan apa kepada mereka. Jika kau dan yang lainnya ingin langsung menghabisi mereka. Lakukan saja. Aku tidak keberatan. Sisakan saja kedua manusia itu untukku karena aku yang akan menghabisi mereka berdua."
"Wah! Yang benar Ren! Baiklah kalau begitu. Aku akan menyisakan kedua manusia busuk itu untukmu."
Setelah mengatakan itu. Baik Chico maupun Darreb sama-sama mematikan panggilannya. Dan Darren memasukkan kembali ponselnya ke dalan saku celananya.
Darren melihat kearah ayahnya. "Aku tunggu Papa sekitar pukul 12 siang nanti di Perusahaan AUSTIN CORP. Ada yang mau aku bahas."
Felix tersenyum hangat menatap putra bungsunya. "Baik, sayang! Papa akan datang."
"Darren," panggil Raka dan Satya bersamaan.
Mendengar panggilan dari Raka dan Satya. Darren hanya menatap dingin keduanya.
Berlahan Raka dan Satya melangkah ingin mendekati Darren. Namun baru beberapa langkah Raka dan Satya melangkah. Seketika Darren pun berucap.
"Maaf. Aku harus pergi. Permisi!"
Darren pun langsung pergi meninggalkan kediaman Austin. Melihat kepergian Darren membuat hati Raka dan Satya hancur. Keduanya menangis saat melihat penolakan dari adik bungsunya.
Melihat kesedihan Raka dan Satya membuat mereka menjadi tidak tega. Felix langsung memeluk kedua putranya itu dan memberikan ketenangan.
"Kalian yang sabar ya. Berikan waktu untuk adik kalian itu," ucap Felix.