Revenge

Revenge
Meninggalnya Victoria



Barra, Chico, Chello dan Zidan sudah berada di rumah sakit Fairfield Hospital. Mereka tampak panik dengan keadaan Darren dan Nenek Victoria. Darren berada di ruang UGD. Sedangkan Victoria berada di ruang operasi.


"Ren," batin Barra dan Zidan.


Barra dan Zidan menunggu di depan ruang UGD. Sedangkan Chici dan Chello menunggu di depan ruang operasi.


Darren yang ada di ruang UGD seketika membuka kedua matanya. Saat matanya terbuka, Darren melihat ke sekitar ruangan. Ruangan yang bernuansa putih. Saat ini Darren tengah diperiksa oleh seorang Dokter laki-laki.


Darren tiba-tiba bangun dari posisi tidurnya dan hendak turun dari ranjang. Namun Dokter dan dua perawat tersebut menahannya. Baik Dokter itu maupun dua perawat tersebut menatap khawatir Darren.


"Lepas. Biarkan aku pergi dari sini. Aku mau menemui Nenekku!" bentak Darren.


"Maaf tuan. Tuan harus diperiksa. Luka di pelipis tuan terluka dan lukanya lumayan." Dokter itu berusaha membujuk Darren.


"Aku tidak peduli." Darren tetap dengan pendiriannya. Dan tidak memperdulikan Dokter dan kedua perawat tersebut.


Ketika Darren hendak turun, Dokter itu kembali menahan tangan Darren. Dokter itu benar-benar khawatir terhadap Darren.


"Lepaskan aku atau aku akan membunuh kalian semua!" teriak Darren.


Mendengar teriakan Darren membuat Dokter dan kedua perawat itu terkejut dan juga takut. Apalagi saat menatap mata Darren yang menurut mereka sangat mengerikan.


Melihat Dokter dan dua perawat itu tidak bergerak sama sekali. Darren pun langsung turun dari ranjangnya dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang UGD.


Barra dan Zidan yang berada di depan ruang UGD sempat mendengar teriakan Darren di dalam. Mendengar teriakan Darren membuat mereka benar-benar takut.


Seketika keduanya terkejut saat melihat Darren yang sudah berada di luar dengan keadaan yang sama sekali belum diobati. Hanya saja darah yang keluar dari kepala Darren sudah berhenti dan juga sudah dibersihkan. Serta luka-luka yang ada di tangannya juga sudah dibersihkan.


Ketika Dokter tersebut ingin menjahit luka yang ada di kepala Darren. Darren pun sadar dan langsung berteriak ingin keluar dari ruang UGD.


"Darren," ucap Barra dan Zidan bersamaan.


"Ren, kamu..." perkataan Zidan terpotong.


"Dimana Nenek? Bagaimana keadaan? Nenek baik-baik saja kan?" tanya Darren dengan menatap wajah Barra dan Zidan.


"Nenek Victoria masih di ruang operasi, Ren." Barra menjawab pertanyaan dari Darren.


"Antarkan aku kesana," ucap Darren.


"Tapi Ren...!"


"Buruan!" bentak Darren.


Mendengar teriakan Darren mau tidak mau Barra dan Zidan akhirnya mengalah. Mereka tahu saat ini Darren dalam keadaan tak baik-baik saja. Dan mereka juga tahu Darren kembali mengalami hari-hari yang buruk.


Yah! Darren harus kembali merasakan ketakutan. Ketakutan akan kehilangan. Jadi keduanya mengerti akan situasi yang dihadapi Darren saat ini.


Dan pada akhirnya, Barra dan Zidan memapah Darren untuk menuju ruang operasi yang mana di sana Chello dan Chico masih setia menunggu pintu ruang operasi di buka. Keduanya berharap mendapatkan kabar baik.


Barra, Darren dan Zidan dan sudah berada di ruang operasi. Melihat kedatangan ketiga sahabatnya membuat Chico dan Chello terkejut. Apalagi ketika melihat Darren.


"Ren, kenapa kau ada disini?" tanya Chico.


Sedangkan Darren tidak menjawabnya. Darren menatap kearah pintu ruang UGD.


Zidan dan Barra memberi kode kepada Chico dan Chello untuk tidak bertanya dulu. Mendapatkan kode dari Zidan dan Barra. Chico dan Chello langsung mengerti.


Baik Zidan dan Barra maupun Chico dan Chello menatap khawatir Darren. Mereka takut jika trauma Darren kembali. Kejadian ini adalah kejadian yang kesekian kalinya yang dialami Darren. Darren kembali menyaksikan orang-orang yang terluka dan tersakiti di depan matanya. Dan Darren gagal melindunginya.


"Jangan lagi. Jangan lagi," batin Darren dengan matanya menatap kearah pintu ruang operasi.


Tubuh Darren terjatuh lemah di lantai yang dingin. Dan seketika Darren menghempaskan punggungnya dengan kuat ke dinding. Darren tidak peduli dengan rasa sakit di punggungnya itu. Bagi Darren yang sakit saat ini adalah hatinya.


Darren menatap kosong ke depan. Kilasan-kilasan kejadian di masa lalu berputar-putar di otaknya. Detik kemudian, air matanya mengalir membasahi wajahnya.


Hening! Tidak ada yang bersuara. Namun tiba-tiba terdengar suara beberapa orang yang memanggil sambil berlari menghampiri Darren, Zidan, Chico, Barra dan Chello.


Zidan, Chico, Barra dan Chello melihat ke asal suara. Mereka melihat keluarga Austin, keluarga Smith dan keluarga Fernandez.


"Om, Tante, Kak!" seru Zidan, Chico, Barra dan Chello bersamaan.


Mata Erland, Robert dan Ronald teralihkan kearah Darren yang saat ini tampak sangat kacau. Dan mereka juga melihat kalau Darren sedang terluka di kepala dan di tangannya. Kemudian Erland, Ronald dan Robert melangkah mendekati Darren.


Kini ketiganya sudah berada di hadapan Darren. Sedangkan Darren sama sekali tidak merespon kehadiran Erland, Ronald dan Robert.


Erland menyentuh lembut pipi keponakannya itu berharap keponakannya itu melihat wajahnya. Namun sayang, keponakannya itu tetap tak memberikan respon apapun. Seketika air mata Erland jatuh membasahi wajahnya. Erland menangis.


Robert menggenggam tangan cucunya. Dirinya juga berharap cucunya merespon dan menatapnya. Namun tetap sama. Darren tidak memberikan respon apapun. Hati Robert sakit. Begitu juga Ronald. Ronald mengusap lembut rambut Darren, namun Darren hanya diam dan tak menatap wajah Ronald sama sekali.


Saskia sudah menangis di pelukan Clara, tantenya. Hati Saskia hancur melihat kondisi adik bungsunya. Pelaku pembunuhan ibunya belum diketahui, pembalasan dendam atas kematian Ataya belum terlaksana oleh adiknya. Dan sekarang adiknya harus kembali mendapatkan masalah baru dimana adiknya kembali melihat salah satu orang-orang terdekatnya terluka.


"Ceritakan kepada kami Zidan, Chico, Barra, Chello. Apa yang terjadi?" tanya Vito. 


"Kami sedang dalam perjalanan dari Perusahaan DRN'Smith untuk menuju Kampus karena kami hari ini ada beberapa tugas yang harus dikumpulkan. Namun dipertengahan jalan Chico melihat mobil Nenek Victoria melintas dari arah yang berlawanan." Zidan yang berbicara terlebih dahulu.


Mereka semua melihat kearah Chico. Chico yang merasa dilihat oleh semua orang langsung bercerita.


"Aku melihat mobilnya Nenek Victoria melintas dari arah yang berlawanan dan mobilnya juga melaju dengan cepat. Beberapa detik kemudian, ada dua mobil yang juga melintas dengan kecepatan penuh mengejar mobilnya nenek Victoria. Bahkan aku sempat melihat salah satu dari mobil yang mengejar mobilnya nenek Victoria sepertinya hendak mengeluarkan senjata. Namun diurungkan karena mobilnya nenek Victoria melaju dengan begitu cepat."


"Melihat hal itu. Aku langsung meminta Zidan untuk putar arah. Zidan sempat terkejut dan tak percaya saat aku bilang melihat mobilnya nenek Victoria. Wajar jika Zidan tidak percaya ucapanku karena kita sudah tidak berhubungan lagi dengan keluarga Austin setelah kejadian pengusiran yang dilakukan keluarga Austin terhadap Darren sehingga kami berpisah dengan Darren selama satu tahun lebih karena Darren harus dilarikan ke rumah sakit yang ada di Amerika karena kecelakaan yang dialaminya."


"Satu tahun lebih kita tidak berhubungan dan tidak berkomunikasi dengan keluarga Austin. Siapa tahu nenek Victoria sudah mengganti mobil. Itulah yang dipikirkan oleh Zidan. Namun saat aku melihat bahwa mobil itu adalah mobilnya nenek Victoria karena aku melihat sekilas nenek Victoria ada di dalam mobil itu dan lebih memperkuat penglihatanku pria yang membawa mobil itu. Aku melihatnya dengan jelas. Dia adalah Paman Ramos yang tak lain adalah sopir pribadi nenek Victoria. Dan akhirnya Zidan pun memutar balik mobilnya. Dan setelah itu, Zidan melajukan mobilnya untuk menyusul mobil nenek Victoria. Begitu juga dengan mobilnya Darren dan mobilnya Chello."


Mereka semua terkejut ketika mendengar cerita dari Chico. Mereka semua tidak menyangka jika ada orang yang ingin membunuh ibu dan nenek mereka. Sebenarnya siapa mereka? Kenapa mereka dengan keji ingin menghabisi satu persatu keluarga Austin? Itulah yang dipikirkan oleh anggota keluarga Austin saat ini.


"Semoga saja si tua bangka itu mati sehingga rahasiaku tetap aman," batin seseorang yang berada didekat mereka.


CKLEK!


Mereka yang mendengar pintu ruang operasi di buka langsung mengalihkan perhatiannya kearah pintu tersebut. Dan mereka melihat seorang Dokter keluar dari ruang operasi tersebut.


Felix dan Rafael mendekat kearah Dokter tersebut. Wajah keduanya tampak tegang. Sedangkan posisi Darren saat ini sudah berdiri dibantu oleh Erland. Semuanya menatap kearah Dokter itu.


"Dok. Bagaimana keadaan ibu saya? Apa ibu saya selamat? Apa ibu saya baik-baik saja?" tanya Felix yang sudah berlinang air mata.


Dokter itu menatap satu persatu orang-orang yang ada dihadapannya. Setelah itu kembali menatap Felix dan Rafael.


"Maafkan saya Tuan. Saya dan yang lainnya sudah berusaha. Tapi Tuhan berkehendak lain. Pasien telah meninggal dunia. Dan pasien meninggal sebelum terjadi ledakan tersebut."


Mendengar perkataan dari Dokter tersebut seketika tubuh Darren terhuyung ke belakang dan untungnya Erland dan kebetulan Ronald juga ada di dekatnya langsung menahan tubuh Darren.


"Darren," ucap Felix dan Ronald.


"Darren!" teriak para kakak-kakaknya dari keluarga Smith ketika melihat tubuh Darren yang terhuyung ke belakang.


Felix, Rafael dan anak-anaknya menangis ketika Dokter mengatakan bahwa ibunya/neneknya telah meninggal.


"Nenek... Hiks," isak Raka dan adik-adiknya.


"Satu tahun yang lalu aku kehilangan istriku. Dan satu tahun kemudian, Amanda menyusul. Dan sekarang aku kehilangan ibuku. Siapa mereka? Kenapa mereka tega menyakiti satu persatu anggota keluargaku?" Felix menangis.


Robert yang melihat menantunya yang sudah menangis menjadi tidak tega. Berlahan Robert mendekati Felix dan setelah itu, Robert memeluk tubuh Felix.


"Kau tidak sendiri, Nak! Ada Papa dan yang lainnya. Aku adalah Papa mertuamu. Aku Ayah kandungnya Clarissa." Robert berbicara sambil berbisik di telinga Felix.


Mendengar bisikan di telinganya. Seketika tangis Felix pecah. Felix menangis di pelukan Robert. Ini adalah pelukan pertama yang dirasakan Felix. Pelukan seorang Ayah mertua kepada menantunya. Selama menikah dengan Clarissa. Clarissa tidak memperkenalkan keluarganya yang sesungguhnya.


Keluarga besar Clarissa atau dikenal dengan keluarga Smith menutup akses tentang anggota keluarganya dari dunia luar sehingga tidak ada satu pun orang-orang diluar sana yang mampu melacak dan mencari tahu biodata maupun latar belakang dari keluarga Smith. Termasuk juga dengan keluarga Abraham, keluarga dari suami pertama Clarissa. Ayah kandung dari Saskia, Nuria, Marco dan Afnan.