Revenge

Revenge
Menyusun Rencana



Darren kini berada di Perusahaan DRN'Smith. Dirinya tidak sendiri melainkan bersama dengan keempat sahabat-sahabatnya. Mereka tengah membahas membalaskan kematian Ataya.


"Oh iya, Ren. Bagaimana kabar kedua karyawan om Julian yang berkhianat itu? Apa om Julian sudah memberikan hukuman keduanya?" tanya Chico.


"Aku belum dapat kabar apapun dari om Julian. Tapi terakhir yang aku dengar om Julian sudah mengerahkan tiga puluh anak buahnya untuk menyerang anggota keluarga dari dua karyawannya itu." Darren menjawabnya.


"Terus empat Perusahaan itu bagaimana?" tanya Chello.


"Kalian tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan keempat Perusahaan itu?" Darren balik bertanya.


Chello, Barra, Chico dan Zidan saling lirik, kemudian kembali menatap Darren. Darren hanya tersenyum melihat wajah penasaran keempat sahabatnya.


"Kalian buka internet. Lihat dan buka kabar berita tiga hari yang lalu. Judulnya adalah kehancuran empat Perusahaan ternama di Singapura dan Australia." Darren berucap sembari masih menatap wajah keempat sahabatnya.


Mendengar ucapan dari Darren. Zidan, Chico, Barra dan Chello langsung mengambil ponselnya dan mencari judul yang disebutkan oleh Darren barusan.


Beberapa detik kemudian, pencarian pun berhasil. Baik Zidan, Chico maupun Chello dan Barra tersenyum kemenangan. Mereka puas dan bahagia melihat kehancuran keempat Perusahaan itu.


"Dan aku yakin. Mereka tidak akan tinggal diam dengan kehancuran yang mereka alami," ucap Zidan.


"Pastinya. Mereka pasti akan cari tahu siapa yang sudah membuat mereka hancur," sela Chico.


"Ren," Chello dan Chico menatap kearah Darren.


Darren tersenyum. "Aku sudah memikirkan semua itu. Jika mereka berani mengusik keluarga om Julian. Maka aku juga akan bermain-main dengan keluarga mereka."


"Baguslah kalau begitu," jawab Zidan, Chico, Barra dan Chello bersamaan.


"Dan jangan lupa rencana kita sebelumnya kalau kalian akan membantu keempat Perusahaan itu dengan menanamkan saham sebesar 80%. Ambil alih Perusahaan itu. Jadikan milik kalian." Darren berucap sembari matanya menatap satu persatu wajah keempat sahabatnya.


"Tentu, Ren!" seru Zidan, Chico, Barra dan Chello. Darren tersenyum melihat wajah-wajah semangat sahabat-sahabatnya.


"Terus bagaimana rencana pembalasan untuk Ataya? Apa yang akan kau lakukan kepada wanita sialan itu, Ren?" tanya Barra.


"Aku akan menunggu wanita murahan itu bertindak," jawab Darren.


"Apa yang akan dilakukan oleh wanita itu?" tanya Chico.


"Seperti biasa. Dia akan terus mendekatiku, mendesakku untuk menikahinya. Semalam saja dia menghubungi dan memintaku untuk datang ke Apartemennya."


"Waw! Gila tu perempuan. Dia sudah mulai menunjukkan taringnya," sahut Chello.


Mereka semua diam. Mereka saat ini tengah memikirkan rencana-rencana yang akan mereka mainkan. Rencana-rencana yang akan membuat para musuh-musuh tak berkutik di hadapan mereka.


"Astaga, aku hampir lupa!" seru Barra.


Baik Darren maupun Zidan, Chico dan Chello langsung dengan kompaknya menatap wajah Barra.


"Ada apa?" tanya kompak Darren, Zidan, Chico dan Chello .


"Tunggu sebentar." Barra membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah map berwarna merah.


Melihat Barra mengeluarkan sebuah map. Darren, Chello, Chico dan Zidan menatap penasaran kearah map tersebut.


"Nah, Ren! Lihatlah." Barra memberikan map itu kepada Darren.


Darren mengambil map dari tangan Barra. Setelah Darren membuka map tersebut lalu membacanya.


Barra yang ditatap oleh Darren sangat mengerti arti dari tatapan itu, lalu detik kemudian Barra tersenyum dan mengangguk.


"Iya, Ren! Apa yang kau baca itu semuanya benar."


Mendengar perkataan Barra membuat Darren tersenyum. Sementara Zidan, Chico dan Chello makin dibuat penasaran atas ulah Darren dan Barra.


"Ach, kelamaan! Keburu tua nunggu kalian." Chello yang sudah tidak sabaran lagi langsung menarik map yang ada di tangan Darren.


Sementara Darren mendengus kesal akan ulah Chello yang seenaknya main tarik map yang dipegangnya.


Zidan, Chico dan Chello membaca secara seksama isi dari map tersebut. Dan detik kemudian terukir senyuman di bibir mereka masing-masing.


"Wah, Barra! Kau pintar sekali bisa mendapatkan semua bukti kecurangan keluarga Aldema, keluarga besar dari pihak ayahnya Veronika!" seru Zidan.


"Bahkan kau juga berhasil mendapatkan bukti kecurangan yang dilakukan oleh keluarga Choel, keluarga dari pihak ibunya Veronika!" seru Chico.


"Aku tidak menyangka jika kau sudah sampai ketahap ini, Bar!" seru Darren.


"Hanya buat jaga-jaga saja jika rencanamu gagal," ejek Barra sambil tersenyum menatap Darren.


"Jadi kau mendoakan aku gagal, hah!" Darren menatap kesal Barra. Sedangkan Barra hanya tersenyum.


"Bukan begitu. Kau tahu betul bagaimana kepintaran dan kelicikan sekretarismu itu. Veronika sangat terobsesi ingin memilikimu sehingga nekat membayar kelompok mafia untuk membunuh Ataya. Ataya adalah saingan terberatnya. Jika Ataya masih tetap berada di sampingmu. Veronika tidak akan pernah bisa membuatmu memberikan perhatian kepadanya. Selama ini Veronika sudah berusaha menarik perhatianmu. Tapi usahanya gagal."


Mendengar perkataan dari Barra, Darren terdiam. Di dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh Barra.


"Sekarang saingannya sudah pergi. Dengan begitu Veronika bisa lebih leluasa melancarkan rencananya untuk mendapatkanmu. Bahkan Veronika berpikir bahwa rencana pertamanya telah berhasil dengan tidur bersamamu di hotel kemarin. Seperti yang kau katakan diawal pembicaraan kita bahwa semalam Veronika menghubungimu dan memintamu untuk datang ke Apartemen miliknya. Nah, itu adalah rencana kedua Veronika. Veronika sengaja memintamu untuk datang agar bisa bersama denganmu semalaman." Barra berbicara sambil menatap wajah Darren.


"Aku sudah mengatur semuanya. Tepat di acara ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya Veronika yang akan diselenggarakan di gedung yang besar dan megah. Aku akan menunjukkan tontonan gratis di sana. Sementara kau cukup membuat Veronika merasakan kemenangannya karena sudah berhasil seratus persen mendapatkan dirimu."


"Jadi maksudmu aku harus menuruti semua keinginannya, begitu?"tanya Darren tak suka.


"Iya. Kau harus menerima setiap ajakannya. Selama ajakannya masih wajar. Kau harus bisa memenuhinya. Dan jika keinginannya udah keluar jalur. Kau berhak untuk menolak. Cukup kau mengancamnya dengan mengatakan bahwa kau akan pergi meninggalkannya, maka itu sudah satu poin untukmu. Ingat! Veronika itu tergila-gila denganmu. Wanita itu tidak rela kau pergi meninggalkannya setelah dia berhasil mendapatkanmu."


"Apa harus?" tanya Darren dengan menatap wajah Barra.


Mendengar pertanyaan dari Darren membuat Zidan, Chello, Chico dan Barra menjadi tidak tega. Bagaimana pun Darren sangat tidak suka dengan Veronika. Bahkan Darren selalu menatap jijik terhadap Veronika.


"Aku setuju dengan Barra. Setidaknya kau melakukan ini untuk membalaskan rasa sakitmu atas kematian Ataya," ucap Zidan.


"Hanya sebenar sampai acara ulang tahun pernikahan kedua orang tua Veronika selesai. Dan setelah itu kita akan masuk ke intinya yaitu membuat mereka semua hancur dalam satu serangan." Barra berucap dengan wajah dinginnya.


"Biarkan kami yang menghancurkan kedua keluarga besar Veronika," ucap Chello.


"Dan tugas kau adalah bawa pergi Veronika dari tempat acara itu. Ketika kau keluar dari gedung itu bersama Veronika akan ada sepuluh anggota mafia kita yang akan berpura-pura menyerang kalian. Mereka akan menyakitimu dan membuatmu pingsan. Begitu juga Veronika. Dan selanjutnya..." Barra menghentikan ucapannya dan matanya menatap wajah Darren.


Darren yang melihat tatapan mata Barra langsung tersenyum di sudut bibirnya. "Selanjutnya akan berakhir di markas BLACK LION. Dan pembalasan pun dimulai." Darren melanjutkan ucapan dari Barra.


"Yup! Kau benar sekali. Kau bebas melakukan apapun kepada wanita murahan itu. Kau bisa melampiaskan semua amarahmu kepadanya atas apa yang telah dilakukan terhadap Ataya." Barra berucap sambil tersenyum.


Jungkook menatap wajah Eunwoo. Begitu juga dengan Eunwoo. Mereka saling memberikan tatapan. Kemudian kedua tersenyum di sudut bibir mereka masing-masing.


Setelah itu, baik Barra maupun Darren melihat kearah Chico, Zidan dan Chello. Kemudian mereka semua pun tersenyum menyeringai. Mereka semua tidak sabaran untuk melakukan aksi tersebut.