Revenge

Revenge
Terbongkar



Masih di suasana Kampus. Darren dan keempat sahabatnya telah selesai dengan kegiatan mereka yaitu latihan menembak dan juga memanah di lokasi yang tak jauh di belakang Kampus mereka.


Darren dan keempat sahabatnya membangun sebuah rumah kecil di belakang Kampus. Di rumah itulah Darren dan keempat sahabatnya menghabiskan waktu untuk latihan menembak, memanah, melempar pisau dan latihan-latihan lainnya selama mereka di Kampus.


"Udah ach. Balik yuk!" seru Chello.


"Oke! Ayo," jawab Darren, Zidan, Chico dan Barra bersamaan.


Dan mereka pun kembali ke Kampus untuk mengikuti materi kuliah yang terakhir.


Darren dan keempat sahabatnya sudah berada di area Kampus. Kaki mereka melangkah menyusuri luasnya lapangan Kampus.


Ketika Darren dan keempat sahabatnya sudah berada di lapangan utama. Tatapan mata Darren tertuju kearah Kiran yang saat sedang berkumpul dengan sahabatnya dan ketiga kakak-kakaknya.


Darren melangkahkan kakinya menghampiri mereka semua dengan tatapan matanya yang tak lepas dari Kiran.


Sementara Zidan, Chico, Barra dan Chello mengikutinya dari belakang.


"Ren," panggil Nasya ketika melihat kedatangan adiknya.


Nasya langsung memeluk tubuh adiknya itu dengan sayang dan Nasya juga tak lupa memberikan kecupan di kening adiknya itu. Sementara Darren, tatapan matanya masih menatap kearah Kiran.


Mereka semua melihat kedatangan Darren dan keempat sahabatnya. Mereka semua tersenyum ketika melihat kedatangannya.


Nasya melepaskan pelukannya lalu menatap wajah tampan adiknya. Nasya tersenyum bahagia ketika memandangi wajah tampan adiknya itu.


Setelah Nasya melepaskan pelukannya. Kini giliran Vito dan Velly. Vito dan Velly memeluk tubuh adik bungsunya secara bersamaan. Mereka benar-benar bahagia karena bisa memeluk adiknya kembali.


Bagi Vito, Velly dan Nasya. Adiknya tidak tinggal bersama dengan keluarga Austin itu tidak masalah. Mereka bisa setiap hari atau dua minggu sekali akan mengunjungi adiknya itu. Atau mereka bisa menginap di rumah adiknya itu selama satu bulan.


Setelah puas memeluk adiknya. Vito dan Velly pun melepaskan pelukannya. Dan keduanya dengan kompak memberikan kecupan sayang di masing-masing pipi Darren.


Darren menatap satu persatu ketiga wajah kakaknya. Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren kala mendapatkan pelukan hangat dan kecupan sayang dari ketiga kakaknya itu.


Setelah itu, Darren kembali menatap kearah Kiran. Tatapannya kali ini adalah tatapan amarah.


Darren berlahan melangkah mendekati Kiran. Sementara Kiran yang ditatap oleh Darren menjadi salah tingkah. Kiran saat ini berpikir bahwa Darren mendekatinya karena ingin menyampaikan tentang perasaan kepadanya.


Kini Darren sudah berdiri tepat di hadapan Kiran. Darren berdiri sangat dekat dengan Kiran. Mereka yang melihat berpikir jika Darren masih mencintai Kiran dan ingin menjalin hubungan dengan Kiran lagi.


"Dar-darren," ucap Kiran gugup.


Sementara Darren masih setia menatap wajah Kiran. Ketika Darren menatap wajah Kiran, Kilasan-kilasan kejadian satu tahun yang lalu berputar-putar di kepalanya.


"Aku tidak sudi memiliki kekasih pembunuh sepertimu. Lebih baik kau pergi menjauh dari kehidupanku. Aku sudah tidak ingin menjalin hubungan lagi denganmu. Aku sudah memiliki kekasih baru. Dia lebih baik darimu."


"Hallo, Bos. Aku mendapatkan informasi terbaru mengenai dalang kematian nona Ataya."


"Dia adalah mantan kekasihmu Bos, nona Kiran."


Tatapan mata Darren berubah merah. Darren menatap makin tajam kearah Kiran. Baik Vito, Velly, Nasya, keempat sahabatnya. Bahkan yang lainnya dapat melihat perubahan di mata Darren.


"Kenapa Darren menatap Kiran seperti itu?" tanya Vito, Velly dan Nasya di dalam hati.


"Ada apa dengan Darren? Kenapa Darren menatap Kiran begitu tajam?" batin Radika dan yang lainnya.


Sementara keempat sahabatnya sudah mengerti dari tatapan mata Darren. Tatapan mata Darren itu menunjukkan bahwa Darren telah mengetahui sesuatu dari Vicky. Dan mereka berpikir bahwa Vicky memberikan suatu informasi kepada Darren.


SREEKK!


Darren tiba-tiba menarik kuat rambut Kiran sehingga membuat Kiran berteriak kesakitan sambil memegang tangan Darren.


"Aakkhhh!"


Mereka yang melihat Darren yang menarik rambut Kiran menjadi terkejut. Mereka tidak menyangka jika Darren akan bersikap kasar kepada Kiran.


Sementara Radika selaku Kakak dari Kiran langsung berteriak dan membentak Darren. Radika marah ketika adiknya disakiti.


"Darren. Apa-apaan kau, hah?! Lepaskan rambut adikku!" bentak Radika.


Darren menatap tajam kearah Radika. Melihat tatapan tajam Darren membuat Radika seketika merinding. Bagi Radika baru kali ini dirinya melihat tatapan mata Darren seperti itu.


"Jangan ikut campur. Ini urusanku dengan wanita sialan ini," jawab Darren dengan nada ketusnya.


Setelah mengatakan itu, Darren kembali menatap wajah Kiran. Darren kembali menarik kuat rambut Kiran sehingga membuat Kiran kembali berteriak kesakitan.


"Apa kau berpikir jika aku akan kembali kepadamu? Apa kau pikir aku masih mencintaimu? Apa kau pikir aku ingin menjalin hubungan lagi denganmu? Jangan banyak bermimpi nona Kiran. Sampai kapan pun aku sudah tidak sudi memiliki kekasih yang murahan sepertimu. Kau mendekati laki-laki tersebut disaat laki-laki itu tidak memiliki masalah apapun dalam hidupnya. Ketika laki-laki itu memiliki masalah. Apalagi masalah yang dihadapinya begitu besar. Kau langsung membuangnya seperti sampah dan memilih laki-laki lain. Kau berhubungan dengan laki-laki itu hanya mementingkan hidupmu dan kebahagiaanmu sendiri."


Darren menatap nyalang Kiran. Dirinya benar-benar marah saat ini. "Dulu kau mengatakan bahwa aku seorang pembunuh. Dan ternyata kau tidak jauh beda denganku. Kau menampilkan wajah yang begitu polos, lugu dan tidak berdosa. Tapi aslinya kau adalah wanita liar dan tak tahu malu." Darren berucap kejam dengan tatapan matanya yang tajam.


Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua terkejut dan juga bingung. Mereka tidak mengerti dari perkataan Darren tersebut.


"Darren, cukup! Kau sudah keterlaluan!" bentak Radika.


Radika berusaha melepaskan tangan Darren dari rambut adiknya. Namun usahanya gagal. Melihat hal itu, Radika hendak melayangkan satu pukulan ke wajah Darren.


Radika marah karena Vito menghalanginya dan menggagalkan niatnya untuk memukul wajah Darren.


"Apa-apaan kau Vito!" bentak Radika.


"Kau yang apa-apaan. Dia adikku!" bentak Vito.


"Tapi adikmu itu sudah menyakiti adikku. Apa kau tidak melihatnya, hah?!" bentak Radika.


"Aku melihatnya. Tapi bukan begini caranya kau menegurnya. Darren lagi emosi. Orang yang lagi emosi harus dibujuk dengan kata-kata yang baik dan juga lembut. Bukan dengan kita yang ikut emosi juga." Vito berbicara dengan nada lembut.


Mendengar perkataan dari Vito membuat Radika tersadar. Di dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh Vito. Darren sedang emosi. Dan seharusnya dirinya tidak ikut emosi.


"Kau sudah berapa lama mengenal adikku, Radika? Apa selama ini adikku pernah bersikap kasar kepada perempuan, termasuk Kiran?" tanya Vito yang menatap wajah Radika.


"Mungkin saja ada sesuatu yang tidak kita ketahui sehingga membuat Darren begitu marah dengan Kuran," sela Danar.


Mendengar perkataan Danar. Mereka semua mengangguk sebagai tanda setuju.


Vito mendekati adiknya. Tangannya mengusap lembut kepala belakang adiknya itu. "Ren. Kakak gak tahu apa yang terjadi sebenarnya? Kakak juga sadar bahwa kakak gak pantas untuk nasehati kamu karena kakak bukan Kakak yang baik buat kamu. Kakak adalah Kakak yang terburuk. Tapi setidaknya kakak sedang berusaha menjadi kakak yang baik untukmu. Jadi kakak mohon. Lepaskan rambut Kiran. Kita bisa bicara baik-baik."


Vito berharap adiknya mau mendengarkan perkataannya. Begitu juga dengan yang lainnya.


Diluar dugaan. Darren seketika melepaskan tangannya dari rambut Kiran. Melihat hal itu membuat Vito, Velly dan Nasya tersenyum bahagia.


"Kiran. Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Radika yang sudah memeluk adiknya. Seketika Kiran menangis di pelukan kakaknya.


"Hiks... Kakak." Kiran terisak. Radika mengusap-ngusap lembut punggung Kiran.


Kiran melepaskan pelukannya dan menatap wajah Darren. "Ren. Aku tahu kesalahanku dulu. Kesalahanku terlalu besar padamu. Aku tidak mempercayaimu dan menyebutmu sebagai pembunuh. Bahkan aku juga menamparmu."


"Aku tidak peduli semua itu. Kau hanya masa laluku. Dan aku tidak ingin punya hubungan apapun denganmu dan juga keluargamu. Ingat Kiran! Kesalahan pertamamu belum aku maafkan. Sekarang kau melakukan kesalahan lagi." Darren berucap dengan menatap tajam kearah Kiran.


Mendengar perkataan dari Darren membuat Vito, Velly, Nasya, Radika dan sahabat-sahabatnya terkejut. Begitu juga dengan Kiran sendiri.


"A-apa maksudmu, Ren?" tanya Kiran gugup.


Darren tersenyum di sudut bibirnya. "Kau tidak amnesia kan nona Kiran?" Darren balik memberikan pertanyaan kepada Kiran.


"Aku benar-benar tidak mengerti akan perkataanmu itu Darren," jawab Kiran.


"Sepertinya kau ingin bermain-main denganku. Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Tapi aku peringatkan padamu. Tidak ada kata maaf dan kata damai dariku untukmu dan keluargamu jika kau terbukti bersalah. Aku akan menghancurkanmu dan juga keluargamu."


Nasya mendekati adiknya dan kemudian tangannya mengelus rambutnya. "Kalau Kakak boleh tahu. Kesalahan kedua Kiran itu apa! Apa yang telah dilakukan oleh Kiran padamu?"


"Ini ada hubungan dengan kematian Ataya. Wanita sialan itu salah satu penyebab kematian calon istriku." Darren berucap dengan penuh amarah.


DEG!


Mereka semua terkejut mendengar perkataan dari Darren yang mengatakan bahwa Kiran salah satu penyebab kematian Ataya.


Radika menatap wajah adiknya. "Kiran."


Kiran langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, Kak! Aku tidak tahu apa-apa."


Disaat suasana semakin menegangkan, tiba-tiba ponsel Darren berbunyi. Tanpa membuang waktu. Darren langsung mengambil ponselnya.


Darren melihat satu pesan masuk. Darren pun membuka pesan tersebut. Beberapa detik kemudian, terukir senyuman manis di bibir Darren.


"Sekarang lihatlah ini nona Kiran Rasendria!" seru Darren sambil memperlihatkan sebuah video ke hadapan orang-orang yang ada di hadapannya.


Mereka semua terkejut saat melihat isi video itu. Dalam video itu, Kiran yang sedang berbicara dengan seorang wanita. Dalam pembicaraan tersebut keduanya menyebut nama Ataya dan Darren. Keduanya merencanakan untuk menyingkirkan Ataya dari kehidupan Darren.


Bukan itu saja. Di dalam video itu keduanya sepakat untuk bersaing secara sehat tanpa ada yang saling melukai untuk merebut perhatian Darren. Siapa yang berhasil. Dialah yang akan menjadi pasangan hidup Darren.


"Bagaimana? Apa anda masih mau menyangkalnya nona Kiran?" tanya Darren dengan tersenyum menyeringai.


Kiran hanya diam membeku di tempat. Tubuhnya bergetar hebat dan juga keringat dingin.


"Aku akan memperlihatkan video ini kepada keluarga Parvez. Keluarga itu harus tahu bagaimana busuknya keluarga Rasendria. Keluarga Parvez adalah keluarga terkaya dan berpengaruh nomor empat di dunia dan di Jerman. Dan kalian pasti tahu bagaimana sepak terjang keluarga itu."


"Tunggu saja kehancuran keluarga kalian."


Setelah mengatakan itu, Darren pun pergi dan diikuti oleh keempat sahabatnya.


Setelah kepergian Darren dan keempat sahabatnya. Vito, Velly dan Nasya menatap penuh amarah kearah Kiran.


PLAAKK!


Velly menampar keras wajah Kiran. Dirinya sangat kecewa atas apa yang dilakukan oleh Kiran.


"Aku benar-benar gak nyangka kamu tega ngelakuin hal serendah itu Kiran. Aku pikir dengan kejadian setahun yang lalu kamu bisa belajar menjadi wanita yang lebih baik lagi. Tapi ternyata dugaanku salah. Demi cinta dan demi ambisimu untuk mendapatkan Darren. Kau berubah menjadi wanita yang sangat menjijikkan."


Setelah itu, Velly pergi meninggalkan semuanya. Begitu juga dengan Vito dan Nasya. Keduanya menyusul Velly.